Jumat, 28 Desember 2012

setapak jejak di kaki gunung

just wanna share..

rasa letih kadang mengusik kaki. sandar di pohon yang tidak sengaja ada simbol angka satu tepat di atas kepalaku sehari sebelum ikut lomba, dan alhamdulillah jadi juara pertama. entah ini kebetulan atau apa. ^_^

subuh menjelang pagi di desa lembanna, Malino.

istirahat sejenak di tengah hutan, gerimis tipis-sejuk.

lihatlah, rumpun pun indah! embunnya berkilau-segar.

that's why, I LOVE BLUE SO MUCH!

kabut yang jd backroundx, :)

tapi ini belum puncaknya. kelak kan kukisahkan megah dan luasnya langit juga dalamnya lembah di atas titik tertinggi bumi.

bukan ANEH!


Lagi, dengan senyum yang sama pun pernyataan yang sama.
Kan ku kisahkan padamu, tentang perbedaan yang kau tafsir,
Atau hal yang kau sebut “aneh”
Tentang ingin dan anganku.
Jika saja aku bisa memilih, jalan tanpa alas kaki di atas rumput yang berembun tak masalah menjadi kegiatan rutinku ketimbang jalan di atas lantai keramik licin dengan kaki indah yang ditopang high hills. Bayangkan sejuknya embun yang meresap kepori-pori telapak kakimu, dan empuknya rumput yang kau pijak. Tidakkah kau rasakan damainya?
Cantik. Akupun memiliki persepsi sendiri. Cantik bukanlah wajah yang di usap bedak, bibir yang di poles lipstick, pipi yang di taburi perona, atau bulu mata tambahan yang memberatkan kelopak mata. Cantik itu alami, ia indah. Tak butuh tambahan, karena ku yakin setiap ciptaanNya indah. Wajah segar yang di basuh air wudhu adalah wajah yang terindah menurutku, ia bercahaya. Cantik.
Alam dengan segala keteraturannya yang kompleks merupakan pemukiman megah dari yang terelit. Pepohonan dan semak yang menghutan sebagai sumber oksigen, bebas dari polusi kenalpot atau gas pengganggu lainnya. Tanah subur jadi pasar harian tempat memanen sayuran segar bebas bahan pengawet, sungai dengan riak air jernih yang menenangkan lebih dari sekedar musik relaksasi, kabut dan hujan yang berpadu bahkan lebih romantis dari kafe remang hingga gelap. Dapatkah kau hayati kuasa sang Pencipta dalam lembut semilir angin di sela-sela dedaunan? Adakah kau sadari kehadiranNya dalam ritme denyut jantung dan setiap tarikan nafasmu? Dan kau akan sangat terpukau oleh CiptaanNya dengan berdiri tegak di puncak gunung, menyadari bahwa kau begitu kecil dan amat sangat kecil di bawah langit yang tak berbatas. Atau ketika kau salami dalamnya samudra, maka kau akan bergidik meresapi keajaiban kuasaNya.
Lalu kaupun meragukan keistimewaanku sebagai wanita, memangnya kenapa dengan statusku sebagai seorang wanita? Lihatlah bunda Nusaibah binti Ka’ab yang ketangguhannya sebanding dengan seribu laki-laki dan Khaulah binti Azwar yang dengan gagah perkasa turut mengayunkan pedang untuk berjihad. Tak ada larangan bagi wanita untuk menjadi tangguh bukan, namun tetap tak mengesampingkan keanggunannya sebagai seorang wanita.
Aku, punya landasan akan ingin dan anganku yang lebih dari sekedar khayal. Jadi sekali lagi kutegaskan, ini tidaklah ANEH. Inilah aku apa adanya diriku.


Senin, 24 Desember 2012

wanna dance in the rain


Lagi, kunikmati butir-butir kecil yang tumpah ruah

Jatuh dan mendarat di kulitku, tanganku, wajahku.

Sejuk.

Bisa saja aku menari dibawah derasnya hujan,

Berlari dan membiarkan angin menerpa wajahku,

Andai saja kemarin aku belumlah seorang gadis.

Hmm, pun aku masihlah kanak-kanak,

Tak pernah kurasakan derasnya hujan tumpah langsung di kepalaku.

Hanya rinai yang sempat menyapa jendela kaca ruang tamu,

Ataukah tetesan yang jatuh satu-satu dari atap yang bocor.

Jangan tanyakan betapa rasa cemburu ini begitu besar

Saat gelak tawa mereka yang berlari dibawa hujan terdengar mengejek

Ingin rasanya kaki ini menyelinap dan berlari lalu berbaur dengan mereka.

Namun tidak. Ada sesuatu yang lebih penting yang kata mereka harus kujaga. 

Selasa, 18 Desember 2012

half way..


Dingin. Namun peluh deras mengucur.
Nafas yang kuhirup satu-satu,
dan sejuk air yang menyelinap di sela-sela jariku.
Jalan setapak menanjak, bebatuan, licinnya tanah, dan lumpur coklat,
Menyimpan jejakku,
Jejak yang akan kutinggalkan lebih banyak dan lebih tinggi suatu saat nanti.
Semak, paku, lumut, pinus, eucalyptus,
Berpadu dalam hijau –kuning – coklat.
Aroma lantana camara memenuhi rongga dada.
Riak dan ritme air yang mengalir, menabrak bebatuan, menjadi music
yang semakin merdu dengan celoteh hewan-hewan kecil bersayap.
Kabut  tipis yang perlahan mengawan dan menebal,
Membawa hujan yang rinainya sejuk menjalar hingga ke sendi-sendi tulang
Rasa ngilu yang mengajarkan kaki untuk sabar dan teguh,
Hingga kelak kokoh menapak.
Puncak yang sesekali mengintip dari celah pohon,
Nampak awas pada kaki kecil yang meninggalkan bekas pijakan
Hati inipun berbisik pada si telapak,
“kita akan taklukkan gunung tinggi itu dan kau akan kokoh berpijak dipuncaknya, kelak”
Ketahuilah bahwa ini tekad, bukan nekad dan mereka amatlah berbeda. 

para penakluk dingin


Dalam kotak sempit walau saling berhimpit
Tawa indah itu tetap ada,
dan adrenalin yang melonjak bersama dengan deru ban menggebu.
Sejuk menjelma dingin,
Lalu tangan ini saling berpaut merapat, memperkecil cela hingga dingin tak menyusup.
Bukanlah vila mewah,
namun kebersamaan inilah yang tak ternilai.
dingin yang mengilukan tulang dan
Rangkulan yang menghapus jarak perbedaan,
Sudiang-gowa-maros-perdos pun satu di atas papan.
Andai..


Selasa, 11 Desember 2012

just wanna share


Adakah diantara sekian banyak manusia yang ingin berbagi dengaku?
Namun yang ingin kubagi adalah beban yang berat menindih pundakku, letihku, tangisku, keluhku.
Sudikah?
Meluangkan waktu untuk mendengar kisahku, kagumku pada tatanan alam, amarahku, atau mungkin egoku.
Adakah kau yang mau sejenak mengukir senyum di wajah masam ini?

Mengertikah kalian,
Angan ini berada di puncak tertinggi nun jauh sana.
Namun raga ini terpasung oleh kerangkeng aturan dan gembok-besar pamali.
Salahkah?
Apa karena aku wanita lantas tak punya hak istimewa seperti anak lelaki yang bebas mengembara?
Lantas apa arti dari pepatah “tuntutlah ilmu sampai negeri cina”? kalau hanya mengagumi megahnya langit malam diluar pintu rumahpun tak boleh?

Mengertilah,
Bukankah kau pernah berucap kalau aku adalah emas?
Emas yang terkubur dalam lumpurpun tak ada gunanya.
Bukankah kau menginginkan benihmu tumbuh dan mewarisi sifatmu?
Lalu mengapa masih saja kau rentangkan larangan yang mencekik?
Aku selalu ingat kisahmu tentang magisnya kuasa Sang Pencipta yang kau nikmati di puncak sana, tentang betapa luas kuasa-Nya saat kau salami dalamnya lautan.

Ingatlah,
Aku adalah benihmu.
Kode genetik yang kau wariskan ada padaku, dan itu mutlak.
Lalu apa yang kau sangsikan dariku?
Apa yang membuatku berbeda darimu,
hingga tak kau idzinkan untuk mengecap indahnya kuasa Sang pencipta?


I need a peaceful place without crowded.
I need a place to be with myself.
I need a friend to share.
‘cause I’m too tired to endure it alone.
I need it.


WebRep
Overall rating
This site has no rating
(not enough votes)

Sabtu, 08 Desember 2012

Diskusi dan Pemutaran Film Bahari


Siang ini, lima menit menjelang pukul tiga aku masuk dengan langkah tergesah ke gedung graha pena dengan kondisi sepatu basah dan baju yang dipenuhi bercak-becak air hujan. Sedikit uring-uringan di depan pintu lift yang semuanya tertutup, tujuanku adalah lantai empat. Tempat acara diskusi dan pemutaran film bahari pesta budaya selat Makassar. Bayangan telat terus membuat syarafku tegang dan tubuhku bereaksi berlebihan, maklum undangan yang datang melalui pesan singkat menyatakan acara dimulai pukul dua. Ting. Akhirnya pintu lift terbuka dan kurang dari tigapuluh detik kakiku sudah berada didepan tempat pelaksanaan acara. Ruangan sepi, hanya beberapa orang dengan kartu identitas panitia yang tergatung di leher terlihat lalu-lalang. Perasaanku sudah tidak enak, jangan-jangan acara sudah selesai! Padahal sudah hujan-hujanan dijalan demi untuk menonton film tentang bahari, ya segala hal menyangkut laut, gunung dan adventure tak akan kulewatkan. Sedikit cemas aku menghampiri meja registrasi dan bertanya pada salah satu panitia
“Maaf kak, ini tempat diskusi dan pemutaran film bahari ya?”
“Iya, silahkan tulis namanya di kolom ini” sambil menyodorkan kertas.
Ketika kulihat, baru dua baris pada kolom nama yang terisi dan namaku berada diurutan ketiga. Ada rasa lega yang menjalar didadaku, ternyata acara belum dimulai. Segera saja aku duduk dan merapikan pakaian tepatnya penampilanku yang sedikit berantakan. Sekitar lima menit menunggu, duduk sendirian, tak ada kerjaan iseng ku utak-atik laptopku dan mencoba untuk menulis satu cerita. Dua puluh menit berlalu dan acara belum juga mulai, tak ada tanda-tanda penambahan jumlah pengunjung. Aku mulai resah dan bosan. Lima menit berikutnya, dosenku (Rahmat Saleh, S.Pd, M.Pd) datang dan menyapaku sembari duduk tepat disampingku. Kamipun terlibat percakapan seputar budaya, laut, traveling hingga akhirnya acara pemutaran filmpun dimulai.
            Ada dua film yang ditampilkan. Film pertama merupakan film pedek (documenter) berdurasi sekitar tujuh menit dan berkisah tentang pelestarian budaya bahari nusantara. Film kedua berdurasi sekitar tiga pluh menit, menceritakan tentang wawasan bahari salah satu pulau terpencil yang terletak di kawasan timur Indonesia yaitu pulau Ilpokil. Kedua film tersebut menampilkan satu tokoh yang sama yaitu seorang putra bangsa yang telah menempuh perjalan dari San Francisco ke Indonesia melalui jalur laut selama kurang lebih sebelas bulan seorang diri, Rob Rama akrab disapa dengan Bang Rama.
            Setelah sesi pemutaran film usai, host acara memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bertanya pada bang rama yang hadir sebagai bintang tamu. Beberapa pesertapun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobati rasa penasaran tentang laut, cara menaklukkan lautan, ataupun ingin mendengar kisah lain dari petualangan Rob Rama. Salah satu kisah yang paling mengusik pikiranku adalah penuturannya tentang sampah.
Rob rama mengungkapkan bahwa di tengah lautan terdapat pulau yang terbentuk dari plastic sampah, dan luasnya sebesar pulau Bali! Tidak hanya satu Pulau tapi beberapa pulau! Can you imagine that?! Bahkan pulau plastic tersebut juga tak jarang menjerat binatang laut dan dapat membahayakan kehidupan laut. Kisah ini harusnya membuat kita sadar akan kondisi lingkungan dan tidak membuang sampah kelautan. Tidak hanya itu, Bang Rama juga mengungkapkan bahwa terkadang para nelayan menangkap ikan yang masih kecil, padahal ikan-ikan tersebut merupakan benih dan asset untuk generasi selanjutnya.
Penuturan kisah Rob Rama membuat kami yang hadir dalam acara tersebut sadar akan pentingnya menjaga kelestarian bahari terlebih Indonesia merupakan Negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Terbesit rasa banggaku pada sosok Rob Rama yang masih setia memperhatikan kondisi Bahari Nusantara dan tidak hanya sekedar pengungkapan melalui kata dan teori namun juga aksi.
Setelah acara diskusi usai, pengunjungpun satu-satu bengkit meninggalkan ruangan, namun tidak denganku. Aku ingin mengabadikan moment ini dan juga sosok Rob Rama yang telah menambah kobaran semangat dalam diriku untuk terus mewujudkan mimpiku, “menyelami lautan terdalam dan mendaki gunung tertinggi”. Dengan bantuan Pak Rahmat, akhirnya aku bisa berfoto dengan Rob Rama, Makasih pak. Maaf merepotkan (kundangnya aku, ckckck).
Acara usai, kami pulang dengan pikiran masing-masing. Entah ada yang berfikir untuk melestarikan budaya bahari, atau berfikir untuk mengunjungi pulau dalam film, atau bahkan ada yang tidak berfikir sama sekali. Entahlah. Aku, melangkah keluar Gedung dengan senyum yang muncul malu-malu memandangi wallpaper Hp yang telah berganti latar aku dan Rob rama.



Gunung dan laut, terentang jarak yang tidak dekat mengantarai, dan aku akan menjadi penghubung. Setia mengabarkan gunung tentang laut dan menyampaikan salam gunung pada laut.

Selasa, 04 Desember 2012

on ITC


Ada sensasi aneh yang menguasaiku,
Seperti luapan hormone adrenalin yang mengalir terus-menerus,
Menjalari sekujur tubuhku.
Terlebih ketika kurasakan dingin menjalar dari jemariku,
Yang berpindah dari kaca berembun.
Mereka tampak kecil di bawah kaki ku.
Ini barulah lantai Sembilan sebuah gedung,
Pun masih dibatasi oleh kaca dan belum kurasakan dinginnya angin yang berhembus.
Aku, dan mimpiku.
Berhayal kalau saja tempatku berpijak sekarang adalah puncak bukit
Dengan lembah bagai tak bertepi.
Kan kubiarkan angin menghempas bebanku.
Dan kaki kecil ini akan tetap kokoh seperti aku menggenggam mimpi ini.

                                                                                    Nurhikmah Tenripada

Sabtu, 17 November 2012

Sesak.

Lidah ini keluh, mungkin karena terlalu banyak kata yang ingin melompat keluar, saling berebut mendapat posisi di awal kalimat namun bibir ini masih saja rapat terkunci. 
Lihatlah, senyum ini masih berani nampak walau masam rasanya.
Namun tak ada yang dapat mengelabui mata. ia redup. 

Tahukah kalian rasanya tersenyum ketika tangis sudah di ujung pelupuk mata? 
Menahan air mata yang membuat dada sesak, 
menhirup nafas yang setiap hembusannya semakin mendesak, 
memukul-mukul hati hingga tangis pecah?

Sudahlah, kalian tak akan pernah mengerti.

Rabu, 14 November 2012



  
Bunga,
Kau yang selalu bisa mengusir penatku walau hanya dengan senyum lugumu menyambut datangku..
Dengan mata yang berbinar walau tak jarang mata itu mendung
dan tangan yang terulur minta gendong,
Sungguh, pelukan dari tangan mungilmu mampu menanggalkan beratnya beban di pundakku.
Sayang, tak usah dengarkan kata mereka pun tatapan kasihan mereka!
Aku menyayangimu apa adanya dengan segenap sayang dan perhatian yang dapat kuberikan untukmu,
Aku menyayangimu bunga kecilku.
tak usah hiraukan mereka yang telah tumbuh dan mampu berucap dengan jelas,
atau mereka yang telah berlari mendahuluimu,
kau adalah dirimu,
senyum tulus mu itu lebih dari segalanya untuk menyatakan kalau kau adalah spesial.
Bunga, mekarlah musim semi menantimu sayang…


No matter what, I LOVE U!

Selasa, 06 November 2012

tik-tok-tik-tok-tiiiiiiiiiiiittt!!!


Waktu. Adakah kau hanya putaran detik ke menit yang semakin lama semakin cepat? Ataukah perubahan pola fikir yang sederhana menjadi luarbiasa berbelit-belit? Kau kah yang telah mencuri tawa dan tatapan teduhnya atau bahkan kau yang telah merubah warna rambutnya?
Duhai waktu, yang didalamnya matahari bersinar garang hingga tenggelam dengan semburat jingga, yang setelahnya bulan bersinar. Sungguh, ingin kukeluhkan semua yang ada dalam relung ini, namun tidak pada mereka yang selalu berkata “sabarlah, memang seperti itu” atau “saya juga seperti itu..”. dengar, aku hanya butuh pendengar. Bukan kisah baru yang mereka tambahkan. Egois? Terserah menurut anda.
Pada laut, yang dengannya ombak menghempas. Aku merasa, ada sesuatu yang menohok dadaku menembus kepalaku dan mempermainkan logika dan idealismeku. Semakin lama sakitnya semakin perih, hingga hampir saja aku menyerah untuk melawan arus. Aku terjebak dalam lautan bahasa alay, dan rutinitas tak jelas yang juga tak berujung. Aku muak dengan tingkah yang kekanak-kanakan khas anak TK dan cerita pasaran tak penting. Aku takut, teramat takut malah jika seorang menghampiriku dan bertanya, “apakah anda Mahasiswa?” sungguh, aku malu untuk berkata iya, ketika aku merasa belum berbuat apa-apa sebagai seorang akademisi. Aku rindu. Rindu pada lingkungan akademik yang didalamnya tidak ada penjual obat yang selalu mengumbar jam tidurnya ataukah judul sinetron yang tadi malam ditontonnya. Aku rindu pada guru yang tidak sok menggurui. Mimpi? Terserah apa kata anda, sebut saja aku pemimpi setidaknya aku bisa berharap lebih baik dari pada menjadi plagiat.
Rindu, begitu banyak hal yang aku rindukuan, namun tak melebihi rinduku pada diriku sendiri. Aku rindu pada diriku yang kritis, pada diriku yang kadang berontak, pada diriku yang sibuk dengan hal-hal akademik, pada diriku yang memiliki focus yang jelas, dan pada diriku yang dikelilingi oleh orang-orang hebat yang berani bermimpi, tentu akupun merindukan mereka.
Aku tak tahu, apakah sekarang aku terlalu khawatir dengan symbol lima huruf kapital diatas kertas sehingga bungkam pada mereka yang menjual obat bukannya mendidik. Ataukah pada selembar kertas bertuliskan ijazah dalam map yang membuatku ciut mengkritisi dan mempertanyakan berbagai macam hal? Entahlah. Jangan katakan aku memiliki terlalu banyak keinginan yang mustahil, namun ketahuilah ini adalah kebutuhanku sebagai seorang akademisi. I don’t care what you think about me!

Senin, 22 Oktober 2012

22 oktober 2012 23:06

"gini aja, aku mau kamu jadi guru privatku. Brapa?"
................
"okay, kamu hanrus mau, see you next meeting, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"

whaaaaaat!!!!!!
and I'm speechless, belum sempat ngomong atau protes segala macam dia udah tutup tlp, mana nelphon langsung ngancam lagi! aaaarrgghhhh......

begitulah, obrolan amat singkat dan padat bikin kaget ala teman baruku.

*man with glasses

Selasa, 16 Oktober 2012

seperti biasa..


Hari ini seperti biasanya, di tempat yang sama dimana kita sering bertemu dan berbincang seadanya, dan seperti biasa rasa ini masih terpendam dan mungkin akan terus terpendam dalam hati. Iseng, kucoba mengkalkulasi rentang waktu yang telah ku lalui dengan rasa ini, dan ternyata dua tahun merupakan waktu yang belum cukup dan mungkin tidak akan pernah cukup untuk menyimpan rapat dan menyembunyikan rasa ini.
Aku sadar bahwa tiap detik yang telah kulalui semakin mematangkan rasa ini, menggrogoti hatiku seperti sel kanker yang tumbuh dengan cepat mempengaruhi hidupku namun aku sangat piawai dalam menyembunyikan rasa ini sehingga mungkin kau tidak pernah menyadari dan mungkin tidak akan pernah menyadarinya, tapi tahukah kau bahwa ini semakin menyiksaku. Kucoba mengungkapkan rasa ini lewat pandangan mataku tapi apa daya, sorot matamu begitu tajam dan akupun tak memiliki keberanian untuk beradu dengannya. Seperti sekarang ini, yang mungkin akan jadi hari terakhir kita bersama di tempat yang sederhana ini aku belum juga mampu untuk jujur setidaknya pada diriku sendiri.
Kusadari ada rasa sedih yang teramat dalam menjalari tubuhku yang membuatku tetap duduk ditempat sederhana ini tak bergeser, tetap memperhatikan sosokmu meski lewat celah orang lain, mendengarkan dengan cermat saat kau berbicara meski yang kuperhatikan hanyalah suaramu, gayamu dalam berbicara yang mungkin akan sangat aku rindukan ketika engkau pergi sebentar lagi.
Aku tak dapat melawan waktu, yang bisa kulakukan hanyalah patuh pada putaran detiknya, dan waktunya pun tiba untukmu pergi meninggalkan ku dengan rasa yang telah mengendap jauh didasar hati ini. Ingin rasanya aku membunuh waktu hingga hari ini tak kan pernah ada dan tak kan pernah ada waktu untukmu pergi meninggalkanku, tapi aku hanya bisa menyimpan sebaris senyummu dalam memoriku.
Kini, aku hanya mampu memandangi punggungmu dan tanpa sadar menghitung tiap langkah yang semakin lama semakin jauh meninggalkan sekeping hati yang meradang. Ingin rasanya aku berteriak memanggil namamu sebelum sosokmu menghilang di tikungan jalan, dan mencegatmu agar kau tidak pergi tapi sepatah kata perpisahanpun tak mampu ku ucapkan saat kau memberikanku senyuman terakhirmu karena lidah ini selalu saja keluh tiap menatap sosokmu dan akhirnya sosokmu pun hilang seiring rinai hujan pertama yang jatuh pada tanah kering bercelah. Hujan.  
oooOooo
Sebelas bulan sudah sejak hujan pertama turun. Kini, seperti biasa aku masih setia menyimpan rasa ini seperti dendam yang semakin lama semakin bergejolak dan mendesak untuk keluar. Hari ini, masih seperti biasanya aku berjalan di bawah gagahnya matahari menuju tempat sederhana dimana rasa ini mulai tumbuh. Siang yang terik ini membuat tanah bercelah dan dedaunan pohon mengering, udarapun disesaki bau aspal dan knalpot yang menyengat. Hanya angin yang sesekali bertiup yang mampu memberikanku kesejukan. Dengan nafas berat, kulanjutkan langkah ku yang mulai lemah, dalam hati aku berbisik, “Hujan, betapa aku merindukanmu”.

oooOooo

Tak terasa, setahun telah ku lalui sejak kepergianmu. Hariku masih seperti biasanya. Tak ada yang menyadari bahwa hati ini semakin lama semakin sakit dan meradang, sama sepertiku yang tak menyadari bahwa aku bisa melalui hariku seakan tak terjadi sesuatu.
Telingaku spontan fokus dan mataku jeli menyisir tiap orang yang lalu lalang didekatku dan aku hampir saja tak mempercayai pandanganku sendiri. Di ujung jalan ini, tempat dimana sosokmu menghilang bersama tetesan hujan, aku tidak lagi melihat punggungmu tapi aku melihat dadamu yang lapang! Tanpa sadar aku berdiri mematung hingga sosokmu berada tepat di depanku dengan senyuman yang lebih indah dari pada saat terakhir aku melihatnya.
Cukup sudah! Aku tak bisa lagi memaksa hatiku untuk berbohong dan menyembunyikan rasa ini, karena aku memang menyukaimu. Seiring rinai hujan yang jatuh membasahi kulitku, kuluapkan semua rasa yang tak dapat lagi aku pendam. Rasa yang selama ini membuat ekor mataku jeli mengenali sosokmu, membuat telingaku peka akan suaramu dan bibirku yang tak henti mengukir senyum saat kau ada didekatku. “aku menyayangimu”. Titik.






Nurhikmah tenri pada. 04.30 rabu, 15 February 2012.

still


Terpaan angin memainkan kerudungku, sesekali menghalangi pandanganku. Di puncak tertinggi ini, ku pijakkan kaki dengan kokoh walau nafas memburu dan dada ku naik turun. Ku rentangkan tanganku lebar-lebar berusaha menyatu dengan atmosfer. Lihatlah, awanpun bagai dapat ku raih! Langit yang begitu biru, matahari yang cerah dan lembah di bawah kaki ku. Lihatlah, aku berdiri kokoh di sini. Semua letih terbayar sudah, setiap tetes peluh telah kering oleh angin.
Tegak. Tangguh, and I’m still a dreamer. Ini masilah sebuah mimpi….

Jumat, 28 September 2012

samar.

dalam ruang hampa rutinitas tak berujung.
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!

Kamis, 20 September 2012

understand me!!

kau bercerita tentang betapa tingginya gunung yang kau daki.
tentang betapa luas dan dalamnya samudra yang kau selami.
tentang harapmu, bahwa berani adalah benih yang kau tanam dalam dadaku.
tentang keindahan, dan kehebatan Sang Pencipta.

lalu aku bertanya tentang kebebasan,
tentang batas-batas yang kau rentangkan,
tentang resiko yang kau paparkan,
tentang kerangkeng yang kau buat!

sadarailah!
aku sepertimu.
tapi kau bahkan tak mengenal dan mengerti dirimu.

Miss u "doggy"

Apa kabarmu disana?
Masihkah gelasmu sesak dengan asap kopi yang mengepul?
Apakah koran masih setia dalam genggamanmu?
Berita apakah yang kau cari?
Adakah bahan untuk perdebatan baru kita?

Kau, masihkah tak berubah?
dengan beribu teori untuk mendebat tiap kataku?
dengan cara bicaramu yang sok kebapakan?
masihkah aku yang menjadi rival debatmu?

Bodoh, aku merindukanmu!
dalam rentang jarak yang tak terlalu jauh,
namun ego ini terlalu besar walau hanya untuk sekedar menyapamu kembali.

tahukah kau,
bahwa pertengkaran dan perdebatan kita
yang membuatku merindukan sosokmu?
walau tak jarang aku berkata bosan dihadapanmu,
namun ketahuilah, hati ini berdoa agar kita dapat dipertemukan kembali.

adakah rasa ini juga hadir dalam harimu?
entahlah.

Selasa, 04 September 2012

ku lepas....

sudah ku ajarkan pada hati untuk teguh.
tapi badai itu datang sebelum pondasinya kuat!
hingga hampir saja kerikil yang kususun satu-satu ini rubuh.
walaupun begitu, tetap saja anginnya menusuk hati,
hingga dingin menjalar dan melelehkan butir peluh.
sekuat tenaga kaki ini bertahan untuk tidak goyah
namun mata ini memelas menahan hujan,
walau mendung telah menghitam.

kepada sang penguasa hati,
kukeluhkan semua derita, perasaan yang telah mengendap
pernah  ku berikrar untuk menanti yang terindah
hingga ku lepas simpul ini, yang ikatannya telah membekas
kepada-Mu sang pemilik hati,
aku selalu percaya, jika baik itu sebaik rasanya
dan yang baik niscaya mendapatkan yang terbaik.

Selasa, 03 Juli 2012

please...

blank! it just happen suddenly.
Kabut, puncak, hijau.
getarannya masih ada, walau hanya selembar foto.
dahulu, kemarin, hari ini, bahkan esok yang akan menjadi hari inipun adalah saksi.
ingin ini tak pernah padam, ingin ini mengalir di setiap cc darahku.
yah, darahku yang kau wariskan,
darah kita sama!

aku ingin melihat dunia!
aku tak ingin menjadi tua dan akhirnya renta
sebelum tangan ini keriput dan kaki ini tak mampu menopang tubuhku!
sebelum mata ini rabun!
sebelum semua ini hanya menjadi cerita..
aku ingin..

melihat dunia dari sudut yang berbeda

Rabu, 13 Juni 2012

Selembar foto dan sepenggal tentang mu..

Sore ini, saat cahaya menembus tirai kamarku, dengan sengaja ku buka lagi album foto berisi kenangan yang tak hentinya membuat bibirku tersenyum. Kenangan masa-masa SMP, dipenuhi wajah-wajah polos dan senyum yang masih malu-malu. Namun ada satu foto yang sengaja ku pandangi lebih lama dari foto yang lain, potret diriku dan temanku, ya hanya temanku, hmmm memang hanya temanku. Hhehehe..  :-P
Aku lupa siapa yang memotret waktu itu, sudahlah bukan itu yang penting tapi moment dalam foto itu. Diriku dan dirinya hanya berdua meski bukan wajah kami yang menjadi fokusnya, jiaaaa. . . . hmmm, waktu itu kami mengadakan worksop di tanjung, tidak kebetulan kami sekelompok, dan jadilah aku bekerja dengan semangat menggebu dan hati yang riang walau terik membakar kulit, asalkan bisa terus bekerjasama dengan dirinya, hhohohoho. . . tak kupungkiri waktu itu aku selalu suka berada di dekatnya meminjam apa saja yang bisa ku pinjam darinya asalkan aku berbicara dengannya, dan parahnya sengaja tidak mengembalikkan barang yang ku pinjam hanya agar dia terus menayakannya padaku, ckckckck. . .
Kalau aku mengingat masa itu sekarang, terkadang aku heran, bagaimana bisa dari jarak yang wajah seseorang sudah samar terlihat aku bahkan tetap bisa menganali kalau itu dirinya! Postur tubuhnya, cara berjalannya, senyumnya, mimiknya, tas yang ia kenakan, merek sepatunya sampai setiap detail di buku catatannya, aku tahu! Sebegitu parahnya kah diriku dulu? (sambil geleng-geleng kepala). Tapi aku tidak akan pernah menyangkal bahwa aku merindukan masa-masa itu. Aku rindu ketika dengan sengaja datang lebih awal ke sekolah karena ingin cepat-cepat melihat ia berjalan menuju bangkunya, meletakkan tasnya, berbalik padaku dan bertanya “tenri, PR mu sudah selesai?”, atau ketika bel pulang bergema aku mengulur waktu keluar dari kelas agar bisa berjalan di belakangnya dan memandangi punggungnya, dan juga saat kami berdiri menunggu angkutan umum di bawah pohon caesalpinia pulcherrima. Sekonyol apapun diriku waktu itu, setidaknya bisa membuat ku tersenyum saat mengingatnya.  Sometimes, I do miss you..

Minggu, 10 Juni 2012

Mengapa ada kejahatan jika bumi bisa tentram dengan kebajikan?
Karena semuanya telah di ciptakan berpasangan.
Bumi akan gulita selamanya jika tak ada siang.
Mengapa harus ada pertemuan jika nanti semuanya akan berakhir? Karena begitu pula deretan huruf tak akan menjadi bermakna tanpa adanya spasi. 
Maka ingatlah ketika pertama kali kita berjalan, tak akan kaki kita tegak menapak jika tak ada keberanian kita untuk melangkah, walau tak dapat dihitung berapa kali kita terjatuh.

Semesta punya aturanya sendiri

Hari ini, terik menyengat kulit bahkan tanah pun bercelah. Samar ku dengar bisikan angin yang merindukan hujan. Lalu akupun berujar pada angin kalau aku juga sangat merindukan hujan, aku merindukan hujanku. Hujan yang bangunkan dari lelapku saat pagi telah datang. Rinainya yang mampu sejukkan hariku, bahkan mampu redam galaknya api. Aku rindu saat-saat ku pandangi hujan yang rintiknya jatuh satu-satu, menembus tanah dan mengobati luka tanah bercelah. Ku katakan pada angin, kalau di musim ini aku merana. Aku ingin sekali merasakan sejuknya hujan tapi semesta punya aturannya sendiri.
Sekarang adalah kemarau, dan itu hal yang wajar. Seperti terangnya siang yang ditutupi gelapnya malam, begitu pula hujan. mungkin sekarang belum saatnya hujan turun, tapi aku yakin hujan akan turun pada waktunya karena hujan pun tahu kapan saat yang tepat. Kalaupun siklus hujan sekarang sudah tak menentu, setidaknya hujan akan tetap turun, jika tidak tatanan dunia ini pasti telah rusak. Mungkin ini akan menjadi penantian yang tak menentu tapi mungkin luka ini akan sembuh seiring waktu berlari.
Tak sadar sudah berkali-kali aku menghembuskan nafas berat berharap beban yang menghimpit dadaku ini keluar bersama nafas yang ku hembuskan. mungkin benar kalau aku masih takut, ya sekarang ini aku takut. Aku layaknya anak burung yang belum siap untuk terbang, karena mungkin belum saatnya. Mungkin aku butuh waktu untuk mempersiapkan sayapku agar dapat terentang lebar dan mengepak kuat saat aku terbang nanti. Aku hanya butuh sedikit bersabar untuk dapat taklukkan angin, butuh sedikit keberanian untuk terjun dari ketinggian agar dapat mengepakkan sayap, dan aku butuh keyakinan kalau aku bisa melewati hari-hari tanpa hujan.

Rabu, 06 Juni 2012

tentangku


Ini tentangku, tentang aku menurut diriku. Aku yang sedang mencoba mengenali diriku. Aku, jelas berbeda dengan kalian ataupun mereka, itu yang ku tahu, namun terkadang aku ingin menjadi sama, atau ada waktu ketika aku tidak ingin menjadi diriku. Aku ingin mengenal diriku lebih dari yang kalian kenal, namun terkadang hal itu menjadi sulit saat diriku cemburu pada kalian karena aku lebih banyak bersama kalian. Aku, raga yang didalamnya bersemayam roh, aku memiliki emosi, ekspresi, namun begitu pula kalian. Aku menghirup udara sama dengan yang kalian hirup, aku memiliki cerita begitu pula kalian, lalu siapa aku?
Sungguh, bahasa langit belum mampu ku terjemahkan..

hmmmm...

hujan, apakah dia jatuh bagai butiran ataukah seperti benang yang tak putus-putus, entahlah. apapun itu aku suka hujan. dinginnya, suasananya, terlebih jejaknya.
:)