Siang ini, lima menit
menjelang pukul tiga aku masuk dengan langkah tergesah ke gedung graha pena
dengan kondisi sepatu basah dan baju yang dipenuhi bercak-becak air hujan.
Sedikit uring-uringan di depan pintu lift yang semuanya tertutup, tujuanku
adalah lantai empat. Tempat acara diskusi dan pemutaran film bahari pesta
budaya selat Makassar. Bayangan telat terus membuat syarafku tegang dan tubuhku
bereaksi berlebihan, maklum undangan yang datang melalui pesan singkat
menyatakan acara dimulai pukul dua. Ting. Akhirnya pintu lift terbuka dan kurang
dari tigapuluh detik kakiku sudah berada didepan tempat pelaksanaan acara.
Ruangan sepi, hanya beberapa orang dengan kartu identitas panitia yang
tergatung di leher terlihat lalu-lalang. Perasaanku sudah tidak enak,
jangan-jangan acara sudah selesai! Padahal sudah hujan-hujanan dijalan demi
untuk menonton film tentang bahari, ya segala hal menyangkut laut, gunung dan adventure tak akan kulewatkan. Sedikit
cemas aku menghampiri meja registrasi dan bertanya pada salah satu panitia
“Maaf kak, ini tempat
diskusi dan pemutaran film bahari ya?”
“Iya, silahkan tulis
namanya di kolom ini” sambil menyodorkan kertas.
Ketika kulihat, baru dua baris pada
kolom nama yang terisi dan namaku berada diurutan ketiga. Ada rasa lega yang
menjalar didadaku, ternyata acara belum dimulai. Segera saja aku duduk dan
merapikan pakaian tepatnya penampilanku yang sedikit berantakan. Sekitar lima
menit menunggu, duduk sendirian, tak ada kerjaan iseng ku utak-atik laptopku
dan mencoba untuk menulis satu cerita. Dua puluh menit berlalu dan acara belum
juga mulai, tak ada tanda-tanda penambahan jumlah pengunjung. Aku mulai resah
dan bosan. Lima menit berikutnya, dosenku (Rahmat Saleh, S.Pd, M.Pd) datang dan
menyapaku sembari duduk tepat disampingku. Kamipun terlibat percakapan seputar
budaya, laut, traveling hingga
akhirnya acara pemutaran filmpun dimulai.
Ada
dua film yang ditampilkan. Film pertama merupakan film pedek (documenter)
berdurasi sekitar tujuh menit dan berkisah tentang pelestarian budaya bahari
nusantara. Film kedua berdurasi sekitar tiga pluh menit, menceritakan tentang
wawasan bahari salah satu pulau terpencil yang terletak di kawasan timur
Indonesia yaitu pulau Ilpokil. Kedua film tersebut menampilkan satu tokoh yang sama yaitu seorang
putra bangsa yang telah menempuh perjalan dari San Francisco ke Indonesia
melalui jalur laut selama kurang lebih sebelas bulan seorang diri, Rob Rama akrab disapa
dengan Bang Rama.
Setelah
sesi pemutaran film usai, host acara memberikan kesempatan pada pengunjung
untuk bertanya pada bang rama yang hadir sebagai bintang tamu. Beberapa pesertapun
memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobati rasa penasaran tentang laut, cara
menaklukkan lautan, ataupun ingin mendengar kisah lain dari petualangan Rob Rama. Salah satu kisah yang paling mengusik pikiranku adalah penuturannya tentang
sampah.
Rob rama mengungkapkan
bahwa di tengah lautan terdapat pulau yang terbentuk dari plastic sampah, dan
luasnya sebesar pulau Bali! Tidak hanya satu Pulau tapi beberapa pulau! Can you imagine that?! Bahkan pulau plastic
tersebut juga tak jarang menjerat binatang laut dan dapat membahayakan
kehidupan laut. Kisah ini harusnya membuat kita sadar akan kondisi lingkungan
dan tidak membuang sampah kelautan. Tidak hanya itu, Bang Rama juga
mengungkapkan bahwa terkadang para nelayan menangkap ikan yang masih kecil,
padahal ikan-ikan tersebut merupakan benih dan asset untuk generasi
selanjutnya.
Penuturan kisah Rob Rama membuat kami yang hadir dalam acara tersebut sadar akan pentingnya menjaga
kelestarian bahari terlebih Indonesia merupakan Negara kepulauan yang disatukan
oleh lautan. Terbesit rasa banggaku pada sosok Rob Rama yang masih setia
memperhatikan kondisi Bahari Nusantara dan tidak hanya sekedar pengungkapan
melalui kata dan teori namun juga aksi.
Setelah acara diskusi
usai, pengunjungpun satu-satu bengkit meninggalkan ruangan, namun tidak
denganku. Aku ingin mengabadikan moment ini dan juga sosok Rob Rama yang telah
menambah kobaran semangat dalam diriku untuk terus mewujudkan mimpiku, “menyelami
lautan terdalam dan mendaki gunung tertinggi”. Dengan bantuan Pak Rahmat,
akhirnya aku bisa berfoto dengan Rob Rama, Makasih pak. Maaf merepotkan (kundangnya
aku, ckckck).
Acara usai, kami pulang
dengan pikiran masing-masing. Entah ada yang berfikir untuk melestarikan budaya
bahari, atau berfikir untuk mengunjungi pulau dalam film, atau bahkan ada yang
tidak berfikir sama sekali. Entahlah. Aku, melangkah keluar Gedung dengan
senyum yang muncul malu-malu memandangi wallpaper Hp yang telah berganti latar
aku dan Rob rama.
Gunung
dan laut, terentang jarak yang tidak dekat mengantarai, dan aku akan menjadi
penghubung. Setia mengabarkan gunung tentang laut dan menyampaikan salam gunung
pada laut.