25 Oktober 2014
selepas shalat duhur, kami menantang terik menuju pelabuhan Lappa, Sinjai Utara. Bermodal Satu tas ransel yang tampak gembung, dan dua kantong toples kosong, serta gumpalan nekat dan tekad, kami siap tersesat. Tiba di Pelabuhan, kami tidak langsung menaiki kapal, namun terlebih dahulu bertanya pada salah satu ABK,
"pak, ini kapal yang mau ke pulau sembilan?"
"iya, ini. sudah hampir berangkat. mau ke pulau mana?"
"ke pulau sembilan pak!"
"iya, pulau sembilan yang mana, ada sembilan pulau, mau ke pulau yang mana?"
"hmmmm, kalo ini kapal mau ke pulau mana pak?
"ke pulau kanalo."
"kalo pulau yang pasir putih pulau apa pak?"
"semua pulau pasir putih."
"kalo pulau yang karang-karangnya masih bagus yang mana pak?"
"kanalo juga bagus, kambuno juga.."
"hmm.. kemana ya.." "bentar ya pak," kataku kemudian sambil meninggalkan pria itu yang kemudian melanjutkan mengangkat barang ke atas kapal.
setelah berdiskusi (lebih tepatnya bingung bersama) dengan, sebut saja ia men, kami memutuskan untuk menaiki kapal yang sebentar lagi akan lepas jangkar, dengan alasan agar kami tiba di pulau (yang entah apa namanya) tidak kemalaman.
kami akhirnya menaiki kapal yang tadi ABK nya sabar melayani pertanyaanku. Kamipun memilih posisi duduk yang nyaman di lambung kapal. Setelah duduk agak lama, mungkin puluhan menit, kapal belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. kami mulai bosan dan sedikit pening karena kapal bergoyang-goyang dimainkan ombak. Di dekat kami juga ada beberapa pria dewasa yang dengan sabar duduk menunggu.
"katanya tadi mau ke pulau kambuno?" tanya seorang pria yang duduk didekat kami. Sebelum naik ke kapal ia sempat bertanya padaku tentang pulau tujuan kami, yang kujawab pulau kambuno, tapi sebetulnya saya juga kurang yakin tentang pulau mana yang akan kami tuju.
"iya kak." kataku singkat.
"kapal ini mau ke pulau kanalo, kalo kambuno yang kapal disana." katanya menjelaskan.
"oh, hehe. kanalo kalo begitu kak." jawabku sambil tersenyum sedikit malu-malu.
"kami naik kapal yang sudah mau berangkat saja kak." jawab men.
pria itu hanya nampak menangguk, mungkin heran mendengar jawaban kami.
beberapa menit kemudian, kapal mulai bergetar karena mesin sudah dinyalakan. Namun, kapal belum langsung berangkat. Kami masih harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi barulah kapal mulai bergerak perlahan. Di atas kapal, kami menghabiskan waktu terkadang dengan berbincang, duduk tanpa suara, namun lebih lama kami habiskan dengan tidur.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk naik ke atap kapal, mencari suasana baru. Ternyata ada beberapa orang yang juga berada disana. Kami duduk di bagian belakang sambil menggunakan jaket untuk berteduh, sesekali memicingkan mata menahan terik.
"kalau sampe di pulau mau tidur dimana?" tanya pria yang tadi duduk di dekat kami dan sekarang juga masih dekat dengan kami.
"di pulau tidak ada penginapan kah kak?" kataku balik bertanya.
"kalo di kanalo tidak ada."
"hmm, mungkin cari mesjid saja. atau kalo ada kapal yang balik sore mungkin langsung balik ji." kata men.
"tinggal di rumah saudara saya saja di sana." katanya menawarkan.
awalnya kami hanya menanggapi tawaran kakak (saya lupa namanya siapa) dengan tersenyum. Namun, saat tiba di pulau, ia betulan mengajak kami ke rumah saudaranya yang lokasinya tepat disamping laut. Saya hanya bisa mengikut, entah kaget, senang, atau heran, tiba-tiba di tawari tempat berteduh dan disuguhi teh hangat, kue dan sepiring semangka. Kami bahkan di berikan kamar untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan kami.
setelah shalat ashar, kami berbincang di beranda rumahnya yang hampir dipenuhi oleh teripang kering. Belakangan kami tahu ternyata kakak adalah seorang penyelam. Namun bukan seperti para penyelam scuba dive, kakak adalah pencari teripang yang menyelam dengan menggunakan kompresor untuk bernafas, tanpa menggunakan baju selam! Penyelamanpun dilakukan saat malam hari.
setelah berbincang sambil menikmati biskuit dan teh, kakak menawarkan diri menemani kami ke laut untuk mencari beberapa spesies hewan laut yang akan kami jadikan awetan basah di sekolah tempat kami KKN-PPL. Namun, bukan hanya kakak, ia juga mengajak satu ponakan dan adik perempuannya untuk ikut dengan kami. Kami ke lokasi menggunakan perahu miliknya. Setelah tiba dilokasi, saya, adik dan ponakan kakak mulai turun ke air yang ternyata lumayan dalam (untuk ukuran saya yang belum terlalu kuat mengapung), mungkin sekitar dua meter. Sementara kakak dan men tetap di atas perahu.
Setelah beberapa menit menceburkan diri, Aldi, nama ponakan kakak membawa dua bintang raja ke atas perahu. tidak lama kemudian, ia juga mengambilkan kami bulu babi. sementara saya dan adik perempuan kakak hanya berenang-renang di pinggir perahu. kami sama-sama kurang bernyali untuk menyelam. Kami juga meminta untuk di ambilkan karang mati, namun Aldi terlanjur mematahkan karang hidup dan membawanya naik ke perahu. Setelah merasa cukup, kami semua naik ke perahu yang tidak semudah kelihatannya. Saya harus dipegangi dan ditarik agar dapat naik.
tiba dirumah, mereka mempersilahkan kami untuk membersihkan badan. setelah mandi, saya dan men bergegas ke dermaga. Kami tidak ingin meninggalkan potret matahari yang sudah mulai terbenam. kamipun menikmati matahari yang perlahan tenggelam hingga sepenuhnya terbenam. Hanya meninggalkan siluet pulau dan warna keemasan di langit.
Saat malam, keluarga kakak repot-repot menyediakan kami makan malam. Mereka sampai memanggil dan mengajak kami hingga kami duduk di kursi. Awalnya mereka hanya mempersilahkan kami berdua namun saya meminta mereka agar makan bersama saja. Akhirnya kami ditemani kak wati dan adik perempuannya. Kaum laki-laki kemudian makan setelah kami.
tidak hanya makan malam, mereka bahkan menyediakan kami pisang goreng dan segelas teh hangat setelah mengajak kami menonton bersama di ruang keluarga mereka. Senang sekali rasanya berada ditengah keluarga mereka. melihat mereka berbincang, bernego tentang siaran yang ingin mereka tonton, tertawa bersama. saya tiba-tiba rindu rumah. Teringat masa-masa SD saat keluargaku juga berbaring bersama diruang keluarga, menonton bersama atau sekedar berbagi cerita.
setelah agak larut, kamipun memilih untuk beristirahat duluan.
Saat subuh, debur ombak terdengar lembut menyapa pantai. Setelah shalat, kami memilih tetap di dalam rumah sambil menunggu yang lain bangun. hari ini kami berencana pulang dengan menumpang kapal yang kami tumpangi kemarin. Namun sebelum itu, kami menyempatkan diri berjalan menyusur pantai untuk kembali mencari beberapa spesies hewan laut. Sebelum turun, kami kembali disuguhi kue dan segelas teh hangat sebagai sarapan.
air laut surut cukup jauh. kami berjalan di atas pasir putih yang nampak bergelombang. sesekali berhenti dan menggali pasir, berharap menemukan hewan laut yang bersembunyi. kami juga memungut beberapa bintang laut, lili laut, sponge, dan kepiting.
kapal yang akan kami tumpangi sudah nampak di dermaga. Kami bergegas naik kerumah sambil membawa hewan pungutan yang kami dapat. setelah berpamitan, saya berniat menghampiri kak wati dan berniat memberikan sedikit 'hadiah' namun ditolak olehnya. akhirnya saya pun menyimpannya kembali dan mengucapkan terima kasih padanya dan keluarga kakak yang begitu baik dan ramah pada kami.
dari ujung dermaga kapal nampak telah sesak oleh penumpang. Kami lalu berjalan cepat menuju ujung dermaga agar tidak ketinggalan kapal. sambil menenteng toples yang berisi hewan-hewan laut, kami terus berjalan sambil sesekali membalas senyuman dari warga yang kami lewati. Akhirnya kami tiba di kapal tepat sebelum kapal menarik jangkar. Kami pulang.