Minggu, 16 Agustus 2015

1708

-Merah Putih-

Merah, semerah darah.
darah yang mana duhai negeriku?
darah yang menetes di jalan-jalan dan lorong-lorong sempit?
darah yang ditumpahkan para begal begundal?
darah yang berceceran dijalan-jalan raya akibat tabrak lari?
darah yang diperas habis oleh mereka yang dengan bangga mengaku manusia?
darah yang mana wahai bangsaku?

Putih,
apakah putih yang bermain-main dengan hukum?
atau komplotan kerah putih yang mirip kera?

Merdeka.
Merdeka kata siapa?
kata para koruptor yang merdeka dari jerat hukum?
atau kata para selebriti yang merdeka dari larangan pornografi?
kata siaran gossip yang merdeka, medesis menyebar aib?
kapan kita merdeka?
apa ketika habis semua alam Indonesia ditebang?
atau ketika bumi Indonesia berluabang semua?
atau mungkin ketika semua orang miskin mati kelapan dan semua orang kaya bermandi uang?

Semoga para pahlawan tak meneteskan darah mereka dengan sia-sia.
adakah kita mengerti rasanya merdeka?

Senin, 06 Juli 2015

Menanti Fajar

kenalkan kawan baruku,
kunamai dia sunyi.
kami duduk berdua dalam bayangan pohon jati.
berselimut dingin.
memandang langit yang sama,
ku cari bulan yang mulai tersenyum
tapi tak kutemui.
hanya pekat langit yang mulai pudar.
kamipun menanti mentari bersama,
meski kicau burung satu-satu kadang mengusik sunyi.
namun ia tetap disampingku.

ketika daun-daun gugur, lalu menari bersama angin.ketika bulir embun berkilau,
ketika mentari melukis senja,
dan ketika fajar mulai terbit.
hanya sunyi.
tak ada yang lain yang lebih mengerti,
senyum dan binar yang kadang terselip.
betul-betul hanya sunyi.

begitulah,
terkadang kami lebih menikmati semuanya bersama.
walau ada sedikit harap yang kadang terlintas,
adakah seorang yang lebih mengerti dan sabar daripada sunyi,
tapi lagi, aku selalu tak tahan dengan bising dikepalaku.
hingga ku dapati diriku masih disini,
terduduk bersama sunyi.
kami saling bercerita dalam diam.
menikmati sepi dan mentari yang sebentar lagi menyapa.

Senin, 22 Juni 2015

Boared

hei, kau! iya, dirimu. lihatlah, wajah kusut dan pundak yang membungkuk.
Apa kau menamakan dirimu pemuda?
haha, lihat dengan seksama.
kau seperti mayat hidup.
kulit pucat dan mata sayu.
ada apa dengan mu?
apa kau merasa bosan? ya, akupun bosan denganmu.
aku bosan melihat dirimu yang selalu merasa bosan.
aku tahu bahwa kau tahu,
kau tahu apa yang harus kau lakukan.
tapi aku tak pernah bisa mengerti,
mengapa kau tak juga melakukan apa yang harus kau lakukan.
apa lagi-lagi karena kau bosan?
hei,
tegaplah.
jauhkan wajah murung itu dari hadapanku.
mungkin kau harus benar-benar pergi,
melangkahkan kakimu ke suatu tempat.
aku percaya, kau selalu tahu jalan pulang.
pergilah,
karena aku akan selalu bersamamu.
hei, mengapa kau tak bergerak juga?
apa bebannya terlalu berat?
jika iya, kau hanya butuh lebih kuat.
hei, ayolah..
aku tahu.
aku tahu kau selalu tahu apa yang harus kau lakukan.
baiklah, aku tak akan memaksamu,
aku hanya ingin kau tahu,
aku selalu ada dalam dirimu,
kapanpun kau megadu,
aku akan selalu mendengarmu.

Rabu, 25 Maret 2015

It is always be OK.

hei, lama tak bersua..
sepertinya dirimu sudah dipenuhi debu,
dekil tak terawat.. maaf..
akhir-akhir ini aku begitu sibuk,
entah betul-betul sibuk atau mencari kesibukan..
ya, kuakaui aku sudah teramat jarang berbincang dengan mu,
dengan diriku yang aku,
apa kabar mu?
kau pasti kesepian..
semua rutinitas dan kegiatan ini membuatku jarang menemuimu.
maaf karena terlalu sering mengabikanmu,
karena kadang menutup telinga dari jeritanmu,
sungguh, maaf.

apa kau bertanya-tanya mengapa aku kembali?
bukan, bukan karena aku lari dari mereka, tidak.
aku hanya merindukanmu,
merindukan diriku.
rasanya kau begitu jauh untuk kurengkuh,
walau kutahu, kau selalu ada untuk ku.

maukah kau mendengarku, lagi?
meski kutahu, kau selalu tahu.
aku hanya ingin mengutarakannya,
membiarkannya keluar dan hilang terbawa angin.
tak apa kan? kumohon.

aku hanya tak ingin mereka mencecap sembilu.
meski aku harus bersusah payah bungkam dan tersenyum
dari sakit yang mengiris-iris.
dan tentu saja, maaf untuk mengabaikan isakmu, maaf.
bukannya aku tak peduli atau mengabaikan dirimu,
kau tahu, kan..
aku takut kehilangan mereka, lagi..

meski kutahu, kau tak pernah pergi meninggalkanku.

tak apa, kan?
mereka hanya belum mengerti,
tapi aku yakin mereka akan paham entah kapan..
walau mungkin di saat aku melepasnya pergi,
aku lelah dengan semua kehilangan yang telah lalu
aku akan terus mencoba untuk menjaga apa yang ada padaku sekarang ini,
meski kadang untuk diam dan tersenyumpun aku sudah teramat lelah,

dan lagi, mengabaikanmu yang terus meronta..

hei, kau terus saja bertanya, sampai kapan?
sampai kapan aku akan menyimpannya?
sampai kapan aku membiarkan lumpur mengotori sudut hatiku?
aku juga tak tahu sampai kapan.
entah sampai kapan mereka akan mengerti..

berkali-kali aku mencoba untuk menjelaskannya,
namun, akhirnya aku harus kembali terdiam,
dan menyeretmu untuk menjauh..
mengapa?
karena aku tak ingin mereka meledak dan hilang,
karena aku tak tahan dengan segala macam sindiran, cibiran, olok-olok
bahkan diamnya yang mencekik.
tak apa, aku kembali terdiam,
mereka hanya belum mengerti..
tak apa,
aku tidak marah, pun jengkel..
aku hanya lelah..

namun tak apa,
jika nanti kita harus kembali pergi,
merelakan mereka mejauh, lagi.
bukankah aku selalu memilikimu..
aku yakin, kita akan dipertemukan dengan mereka,
mereka yang mengerti, dengan pemahaman yang baik.

tak apa jika sekarang aku harus diam, dan menunggu..
akupu harus belajar lebih sabar,
atau mungkin aku yang tidak mengerti mereka?
ah, betapa jahatnya aku.
mementingkan diriku,

sungguh, mungkin tak apa,
setidaknya aku selalu bersamu,
kuharap diam membuat mereka berfikir dan mengerti.
kita hanya butuh untuk bersabar.


Jumat, 02 Januari 2015

new year.



Jangan tanya bagaimanaku menyambut tahun baru,
Bagiku tak ada yang spesial,
Hanya sebatas pagi yang terbit menyelimuti lelah malam.
Lalu kalender berganti, namun hitungannya tetap sama, satu hari, dua puluh empat jam.
Tetiba terbangun gegara suara petasan yang membuat telinga pekak,
Tak satu namun ratusan, salak menyalak memecah keheningan malam.
Menerobos gerimis yang coba meredam api yang bermekaran.
Indah, mungkin.
Tapi kawan, aku lebih menikmati langit pekat bertabur bintang,
Jika saja kau bertanya.
Dengan bulan yang tersenyum sabit tanpa awan.
Dan aku mulai melamun, hampir saja membual.
Menunggu pagi yang berderit begitu berat.
Menunggu hening memecah hiruk.
Menunggu, dalam hangat dekapan selimut dan guling,
Menunggu,
Menyisakan ruang kosong yang terasa dingin.