Rabu, 25 Maret 2015

It is always be OK.

hei, lama tak bersua..
sepertinya dirimu sudah dipenuhi debu,
dekil tak terawat.. maaf..
akhir-akhir ini aku begitu sibuk,
entah betul-betul sibuk atau mencari kesibukan..
ya, kuakaui aku sudah teramat jarang berbincang dengan mu,
dengan diriku yang aku,
apa kabar mu?
kau pasti kesepian..
semua rutinitas dan kegiatan ini membuatku jarang menemuimu.
maaf karena terlalu sering mengabikanmu,
karena kadang menutup telinga dari jeritanmu,
sungguh, maaf.

apa kau bertanya-tanya mengapa aku kembali?
bukan, bukan karena aku lari dari mereka, tidak.
aku hanya merindukanmu,
merindukan diriku.
rasanya kau begitu jauh untuk kurengkuh,
walau kutahu, kau selalu ada untuk ku.

maukah kau mendengarku, lagi?
meski kutahu, kau selalu tahu.
aku hanya ingin mengutarakannya,
membiarkannya keluar dan hilang terbawa angin.
tak apa kan? kumohon.

aku hanya tak ingin mereka mencecap sembilu.
meski aku harus bersusah payah bungkam dan tersenyum
dari sakit yang mengiris-iris.
dan tentu saja, maaf untuk mengabaikan isakmu, maaf.
bukannya aku tak peduli atau mengabaikan dirimu,
kau tahu, kan..
aku takut kehilangan mereka, lagi..

meski kutahu, kau tak pernah pergi meninggalkanku.

tak apa, kan?
mereka hanya belum mengerti,
tapi aku yakin mereka akan paham entah kapan..
walau mungkin di saat aku melepasnya pergi,
aku lelah dengan semua kehilangan yang telah lalu
aku akan terus mencoba untuk menjaga apa yang ada padaku sekarang ini,
meski kadang untuk diam dan tersenyumpun aku sudah teramat lelah,

dan lagi, mengabaikanmu yang terus meronta..

hei, kau terus saja bertanya, sampai kapan?
sampai kapan aku akan menyimpannya?
sampai kapan aku membiarkan lumpur mengotori sudut hatiku?
aku juga tak tahu sampai kapan.
entah sampai kapan mereka akan mengerti..

berkali-kali aku mencoba untuk menjelaskannya,
namun, akhirnya aku harus kembali terdiam,
dan menyeretmu untuk menjauh..
mengapa?
karena aku tak ingin mereka meledak dan hilang,
karena aku tak tahan dengan segala macam sindiran, cibiran, olok-olok
bahkan diamnya yang mencekik.
tak apa, aku kembali terdiam,
mereka hanya belum mengerti..
tak apa,
aku tidak marah, pun jengkel..
aku hanya lelah..

namun tak apa,
jika nanti kita harus kembali pergi,
merelakan mereka mejauh, lagi.
bukankah aku selalu memilikimu..
aku yakin, kita akan dipertemukan dengan mereka,
mereka yang mengerti, dengan pemahaman yang baik.

tak apa jika sekarang aku harus diam, dan menunggu..
akupu harus belajar lebih sabar,
atau mungkin aku yang tidak mengerti mereka?
ah, betapa jahatnya aku.
mementingkan diriku,

sungguh, mungkin tak apa,
setidaknya aku selalu bersamu,
kuharap diam membuat mereka berfikir dan mengerti.
kita hanya butuh untuk bersabar.