Rabu, 05 Maret 2014

Rabu, 5 Maret 2014


Malam tadi adalah kali kedua tidurku tidak nyenyak semenjak berada di kota hujan ini. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku terjaga berkali-kali, menarik hp dari bawah bantal dan mendapati jam masih menuliskan angka 02.10 am, terjaga sekitar 2 menit aku kembali terlelap namun tetap saja mataku kembali melek padahal aku baru saja tidur sekitar setengah jam, begitu seterusnya setidaknya saya terjaga 5 kali sebelum akhirnya betul-betul keluar dari kepompong sleeping bag sekitar pukul setengah enam pagi.
Sebelum beranjak dari hangatnya sleeping bag, aku berfikir sebentar tentang hal yang akan ku lakukan setelah menjejakkan kaki di lantai, tapi pagi ini aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diluar rutinitasku selama setidaknya dua minggu ini.

Jalan-jalan pagi! Yup. Ide itu sebenarnya sudah kupikirkan semenjak kemarin sore, setelah percakapan hangat dengan dua kawan baruku di sekolah alam. Aku ingin mengunjungi kebun sekolah alam yang letaknya tidak jauh dari kosan. Segera saja aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi berwudhu dan sholat subuh, setelah itu dengan agak tergesah bergani kostum, celana parasut hitam, baju kaos biru, jilbab hitam, sepatu biru, dompet dan hp di masukkan ke kantong celana dan tentu saja kamera biru di kalungkan ke leher. SIP!
Setelah berjalan sekitar lima menit, menyapa satpam sekolah dan petugas bersih-bersih barulah saya masuk ke kebun sekola alam. Tidak terlalu luas tapi cukup kondusif untuk pembelajaran.
 

Kebunnya disesaki tanaman jagung yang masih mudah, pere yang buahnya masih kecil-kecil, pisang, bahkan ada juga kandang kelinci dan kambing. Di ujung kebun terdapat tempat perlengkapan, terlihat beberapa pasang boots dan peralatan berkebun lainnya.






Setelah puas memotret dan mengintip kelinci, sayapun melanjutkan langkah ke tempat selanjutnya. Tapi ‘tempat selanjutnya’ sama sekali belum tergambar di kepalaku. Jadilah saya mengikuti kemana arah kaki ini melangkah, ciaaatt… hehe.

Sebelum meninggalkan kebun, siluet bundar matahari jingga kemerahan nampak dari balik pepohonan. Entah kenapa saya tiba-tiba panik! Pikiran pertama yang terlintas adalah “saya harus cari tempat tinggi secepatnya biar bias menikmati sunrise tanpa terhalang!” tapi saying sekali sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk pohon, dan atap rumah mewah yang tinggi-tinggi, sangat mengalangi pemandangan. Saya hampir nekat memanjat tugu untuk mendapatkan potret matahari terbit tapi urung karena ada satpam yang sedang berjaga, urusannya bias ribet kalau saya dapat teguran, jadilah saya melangkan dengan tergesa keluar kebun sambil celingukan kiri-kanan mencari tempat ‘tinggi’.



Hanya trotoar sempit dan rumah padat yang saling berdesakan di kiri kanan jalan sebelum akhirnya saya menemui hamparan kebun ubi kayu, dan yang paling membuat saya frustasi adalah siluet matahari yang semakin meninggi dan warna kemerahannya yag semakin memudar tampak mengikuti langkahku dari balik daun ubi kayu. Namun saya masih terus melangkah hingga akhirnya mendapati tanah lapang tepat didepan jalan tol. Langsung saja saya mencari pose yang pas untuk mengabadikan matahari terbit di pagi ini. Tapi sayang gambarnya tidak maksimal.. Aaaarrggghh… lain kali harus datang lebih awal ke tempat ini!!!




Lepas memotret mentari pagi, saya baru tersadar akan keindahan bunga-bunga liar yang mulai bermekaran disekitar kaki saya. Tumbuhan asteraceae, mimosaseae, ilalang dan rumput liar tampak segar berbalut embun pagi. Tetesan embun yang bergelanyut di pucuk-pucuk daun tampak bening mengkristal.





Mentari semakin tinggi, waktunya balik kanan. Walau tak puas menikmati sunrise hari ini, setidaknya saya sudah menemukan tempat strategis untuk hunting foto, saya hanya perlu datang lebih awal di lain waktu, mungkin besok.. hohoho..
  
Kembali ke kosan dan mendapati cuaca hari ini tampak.. 

cerah!

Dan sambil memandang jemuran dan hanger yang bergelantungan, ada senyum yang tersembunyi dibalik desahan nafas berat, waktunya mencuci baju! 


Sabtu,1 maret 2014

Seminggu sudah melakoni hidup jadi anak kosan. Well this is the first time I live alone, totally alone with my own bedroom, kitchen, bathroom, and little living room. ALONE. Walaupun sepi tapi seru juga, dan setelah seminggu lamanya mendekam dalam rutinitas kosan-sekolah-kosan lagi-bosan, akhirnya hari ini adalah hari pelampiasan kebosananku! Wuohohoho…

Kota hujan, kota seribu angkot, kota puluahn curuk, dan tentu saja Kebun Raya di tengah kota.


Ransel yang lumayan berat (isinya laptop, satu pasang baju, charger dan peralatan listrik sejenisnya, empat buah buku ratusan halaman, dan perlengkapan mandi) tak akan menghalangi langkahku. (meski sebetulnya agak ngosngosan). Lepas makan siang dan shalat dhuhur di Botani Square, saya langsung saja menuju pinggiran jalan yang nantinya akan bermuara langsung ke gerbang utama kebun raya. Perkiraan saya tentang jauhnya rute ternyata meleset, mungkin karena beban berat di punggung hingga membuat saya memutuskan untuk naik angkot saja di tengah jalan karena peluh yang terus mengucur dan baju terusan yang sudah mulai lembab karena keringat.

Sekitar sepuluh menitan di atas angkot (macet!!) akhirnya sampai juga di gerbang utama. Segera ku bayar tiket masuk dan melenggang masuk ke kebun raya, menyusuri pepohonan yang tumbuh lebat dikiri-kanan jalan setapak. 


Tidak hanya pohon-pohon tinggi tua, tapi disana saya juga disuguhi pemandangan sekumpulan tanaman paku, taman kaktus dan kamboja, hingga danau mungil di tengah hamparan rumput hijau.





Setelah berjalan kaki sekitar dua jam menyusuri sejuk dan rindang tanaman, saya sampai di jembatan merah yang dibawahnya mengalir sungai deras.


Melihat air yang begitu melimpah, saya teringat kalau saya lupa membeli air sebelum ngebolang. Rasa haus segera saja melanda, saya menyeberangi jembatan dan berharap menemukan penjual air mineral diseberang. Tapi sayang sekali yang ada hanya penjual ice cream. -_-“ terpaksa dahaga ini harus di tahan.

Tak jauh dari tempat penjual ice cream nampak sebuah jembatan lagi, dan di seberang jembatan I found a wonderful landscape! Tanah lapang dengan rumput hijau yang luas, dua buah kolam yang dipenuhi teratai, jajaran bunga hias di tengah sebagai pemisah jalan. Entah mengapa saya langsung lupa dengan dahaga yang mengganggu. 















Well, rasanya kurang lengkap jika saya tidak berpose ditengah pemandangan ini, namun saya hanya ngebolang sendiri ditemani dengan backpack, dan siapakah yang akan memenuhi hasratku menjadi model sehari? Tidak ada pemirsa, tidak mungkinkan saya mengganngu beberapa pasangan yang tampak mesra bercengkrama di tengah padang rumput yang serasa hanya milik mereka berdua hanya untuk menjepret saya! Tapi tenang saja, saya sudah menyiapkan tripod mini, kamera diatur dengan timer, hmm tak apalah memotret diri sendiri.. hahaha..




Puas menikmati landscape dan mengistirahatkan punggung dan bahu yang letih menggendong beban berat, kakipun kembali siap melangkah. Mengikuti jalan aspal, hingga tiba di rumah anggrek, tapi mungkin karena sudah terlalu sore, rumah anggreknya sudah tutup. 




“Baiklah, tak apa, lain waktu saya akan kesini lagi” batinku.
Ku lihat layar hp ternyata sudah pukul setengah lima sore. Langitpun tampak mendung, waktunya pulang! Belum juga saya sampai di gerbang, hujan telah menderas. Segera saja saya bernaung dibawah rimbunnya dedaunan sambil memasang cover back dan membuka payung. Saya masih berada ditengah-tengah deretan pepohonan besar dan dikepung hujan deras, ditambah jalanan berlumut yang licin sementara langit sudah mulai gelap. Ada rasa getir yang menyelinap sedikit demi sedikit seiring langkahku yang tergesah, saya baru sadar jika saya sendirian berjalan ditengah pepohonan lebat dan guntur yang sesekali menggelegar. Untung saja tak lama kemudian saya mencapai gerbang utama.
Setelah membeli sebotol air dan melepas dahaga, saya kembali naik ankot mengakhiri petualangan hari ini. J

Selasa, 04 Maret 2014

Ekspedisi Karst.

2 Maret 2014

Setelah seminggu lalu rencana berburu mutiara hitam dan butiran emas di balik dinding-dinding karst batal, hari ini rencana itu akhirnya berhasil dia tunaikan. Ditemani oleh teman setianya, oppa dan tentu saja dengan mengendarai si merah mereka ngebolang ria menyusuri trotoar makassar - maros - pangkep demi mencapai tebing-tibing karst dan gua-gua gelap nan eksotis yang menantinya di pangkep.

Jangan pernah mengharapan jalan aspal mulus untuk memulai sebuah petualangan! betul saja, setelah tiba di pangkep, aspal licin berubah menjadi jalan setapak yang harus mereka lalui untuk bisa sampai di gua tujuan. Setelah memarkir motor, mereka berdua kemudian berjalan menyusuri jalan setapak dengan suguhan tebing-tebing kapur menjulang dan hamparan sawah menghijau. ada banyak gua dalam kawasan karst tersebut, dan setelah berjalan kaki sekitar dua jam, ternyata mereka tidak menemukan lokasi gua tujuan mereka, tapi tak apa, walau sendal jepit yang dipakainya putus, mereka akhirnya menjumpai gua leang lompo. mungkin tak jauh berbeda dengan gua tujuan mereka, entah beda nama dan mungkin juga letak.

Leang Lompo, dalam bahasa Makassar lompo berarti besar, yang kenyataannya dari luar gua ini memang kelihatan besar, namun jangan tanya apakah gua tersebut betul-betul besar dan luas karena mereka tak berani menyusuri gua ini lebih jauh kedalam, GELAP alasannya. Suara tetesan air yang jatuh satu per satupun terdengar menggema dari dalam gua yang katanya MEYERAMKAN. well, menurutku itu malah menenangkan, keculai jika ada serangga coklat dengan kaki berduri alias kecoa di dalam gua itu baru menyeramkan.

Setelah tiba di bibir gua, mereka segera mengambil sampel tanah demi keperluan peelitian, berharap menemukan spesies bakteri yang belum teridentifikasi. Mereka nampaknya sedikit tergesah dalam pengambilan sampel, mungkin latar gelap dan suara tetesan air membuat mereka sedikit bergidik, hmmm, well takut ternyata tidak hanya menghinggapi kaum hawa tapi juga pasangan duet maut ini. rencananya mereka juga akan mengambil sampel di dinding gua tapi lagi-lagi penyakitnya kumat, LUPA bawa cutton bud buat ngambil sampelnya. ternyata ketinggalan di laboratorium sebelum mereka berangkat, -__-"

setelah selesai mengambil sampel, merekapun kembali menyusuri jalan setapak kembali pada si merah yang setia menunggu. gara-gara kepikiran penyakit LUPA dia, saya malah berhayal lucu juga jika kunci si merah ketinggalan di bibir gua dan mereka harus berJALAN lagi ke gua dan mendapati kunci motornya ternyata hanya bersembunyi di saku celananya. hahahaha... sepertinya penyakit LUPAnya harus segera disembuhkan!

tapi sayang masih ada janji yang belum sempat dia bayar! kali lain kau tidak boleh lupa!!!