Jumat, 21 Juni 2013

reflection.

kamu siapa? tanya ku pada seseorang yang terperangkap dalam kaca.
tapi ia tak menjawab.
hanya saja aku merasa jengah ketika ia harus mengikuti tiap gerikku.
begitu seterusnya hingga membuatku marah.
dan lihatlah, ia menangis!
astaga, aku bahkan tidak menyentuhnya.
dasar cengeng.
aku mendengus sangking kesalnya.
tapi itu malah membuat tangisannya menderas.
astaga!

terpaksa ku tekan egoku untuk membujuknya.
sudahlah, berhenti menangis seperti anak kecil, dan jangan merajuk!
dan hei, dia akhirnya menurut,
walau ia masih saja menggigit bibirnya yang bergetar.

dia terlihat hmmm, entahlah..
aku bukan kamus yang bisa mendefenisikan jutaan kata.
sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan,
lalu akupun berdiri mematung didepannya, menunggu dengan sedikit tidak sabaran,
ia masih saja menendang-nendang sembarang debu di depannya.
beberapa menit berlalu,
hanya hening.
aku tak bisa memaksanya bicara,
bahkan walau kugertakpun malah hanya akan membuatnya menangis.

hei, dia itu siapa?
berhenti mengikuti gerikku!

Minggu, 09 Juni 2013

Coffee lover

Jika saja kejadiannya tidak pada perkebunan kopi dalam hutan di atas bukit dengan tanah landai dan licin, ditambah perintah dari dosen tercinta kami dan wanti-wanti dari warga pemilik kebun kopi, mungkin kami sudah menganggapnya pecandu kopi yang teramat fanatic. Dengar saja kampanyenya yang meneriakkan kalimat-kalimat
            “Jangan rusak kopinya!”
            “Jangan pegang kopinya!”
Sampai kalimat “Sayangi kopi!!!” berkali-kali terdengar nyaring, atau mungkin tepatnya galak bersahut-sahutan dari moncong megaphone yang bertengger di bahunya. Well, padahal hari itu kabanyakan dari kami berkesimpulan kalau mungkin ia lebih peduli pada dahan-dahan kopi ketimbang kami-kami yang nyaris kepeleset karena dengan lantang DILARANG keras berpegangan pada dahan kopi yang sangat ia sayangi. :-p
Pagi berikutnya, saat matahari hangat menyapa, telapak ini kembali menyusuri jalan-jalan lengang desa asri lanyying. Lalu beberapa menit kemudian, bukan lagi jalan aspal yang kami tapaki, namun serasah pinus pada jalan setapak mendaki. NEKAT. Niat menjejak kaki di puncak bukit yang menantang untuk di daki, kami berempat dengan nafas yang tersengal menguatkan pijakan pada jalan dengan kemiringan yang di buat dengan tidak memperhatikan kenyamanan pejalan kaki. Beberapa menit berjalan, salah seorang dari kami berhenti, istirahat katanya. It’s okay, kami bertiga melanjutkan jalan, membujuk kaki untuk tetap menapak. Beberapa meter kemudian, seorang lagi berhenti. “disinimeka menunggu” katanya.
Jadilah saya yang sudah teramat niat ingin merasakan sensasi berdiri tegak di puncak gunung (tapi dalam hal ini masih terhitung bukit) ngotot mendaki di temani dengan sang-penyayang-kopi. Hhehe.
Langkah demi langkah, jalanan nampaknya semakin tak berperikemanusiaan. Kemiringannya makin landai, ukurannya makin sempit dan menjurus kepinggir, salah langkah bisa terpleset dan meluncur bebas seperti di perosotan, namun bedanya perosotan disini sama sekali tidak mulus. Walau nafas semakin pendek, peluh deras mengucur, kaki gemetar menopang berat badan (meski sebetulnya badan ku tidak berat-berat amat), karena sudah niat mau ke puncak akhirnya kaki mau juga di bujuk untuk tetap berjalan. Tapi sayangnya beberapa menit berjalan, jalanan betul-betul sudah tidak bisa di ajak berdamai. Tidak ada ada lagi jalan setapak, dan jalananya juga sudah hampir lurus 90o. Padahal kami sudah melewati kebun kopi, dan mungkin tinggal beberapa ratus meter lagi sampai puncak. Tapi karena larangan dari sang-penyayag-kopi dan masih teringat teriakannya kemarin di perkebunan kopi, untuk kali ini aku menurut saja untuk tidak melanjutkan pendakian.
Kiri-kanan tempat kami berhenti, padat akan tanaman. Layaknya pemandangan hutan biasanya, namun ketika berbalik dan memandang kebawah, perkebunan nampak lebih indah dari sudut pandang kami ditempat itu. Jauh di bawah tempat kami berpijak, perkebunan nampak elok, berlekuk-lekuk mengikuti kelandaian tanahnya, tanamannya rapi, sejajar. Ditambah warna keemasan sinar matahari berpendar, memantul dari pucuk-pucuk hijau. Hanya senyum yang rekahannya tak mampu kutahan sebagai ungkapan akan semua keindahan lanscpe yang kunikmati ini.
Ternyata, perjuangan menuruni bukit lebih berat dari pada saat pendakian. Kami harus berjalan seperti kepiting dengan bertumpu pada kaki kanan, dan sungguh, itu SUSAH. Berkali-kali kaki ku hampir terpelesat dan
            “Pegang ini biar gampang turun” kata sang-penyayang-kopi sambil nunjuk batang kopi.
“Ajaib, mudah-mudahan tidak salah dengar” gumamku. Sambil menahan tawa yang hampir meledak mengingat kalimat-kalimat kampanye sayangi-kopi yang ia gembor-gemborkan kemarin.
Sebelum kembali kerumah warga tempat kami menginap langkah kaki ku berbelok ke jalan yang belum pernah ku lalui, iseng hanya ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi, dan juga untuk sekedar memusakan mata menyimpan berbit-bit memori tentang landscape indah desa ini, sebelum sebentar lagi kami kembali ke kepadatan kota yang menjemukan.
Sungguh, aku rela di marahi atau bahkan di katto dari pada harus melewatkan view ini. Bukit-bukit perkebunan yang mirip bukit-bukit teletubies, hamparan hijau dan biru langit yang seakan menyatu, pagar-pagar kayu, latar bukit dengan lengkungan puncak yang seperti busur mistar, embun yang menggelanyut di ujung-ujung daun. Tak ada lagi kata yang mampu ku ungkapkan. Aku hanya ingin memandanginya lagi dan lagi, berusaha mengingat tiap paduan warnanya dengan jelas, dan tidak dapat ku pungkiri, ada haru yang menyentil sudut rasaku. ada protes yang bergejolak, ada berontak yang tertahan, semuanya padu. Namun syukur adalah rasa yang menjalar di tiap cc darahku. Sungguh, tak ada nikmat yang dapat kupungkiri.
Terima kasih.
Untuk jantung yang masih berdetak dan untuk udara yang masih bisa kuhirup.




Nb: untuk sang-penyayang-kopi, terimah kasih untuk keberatan hatinya menemani lebih dekat ke puncak, dan untuk ucapan “yaa” di tiap pijakan kakiku. Maaf sudah merusak kopi. :-p

Selamat datang, Juni.

Kepulan kabut mengawali bulan juni.
Sebuah desa, di dataran tinggi kawasan gunung lompo battang. Lanyying.
Uap air yang meng-asap dari mulut, membuat kami iseng ber-haaah ria, berlagak sedang berada di koreaahh. Measki menggigil, gemelutuk gigi makin nyaring, dan pelukan pada jaket yang berkali-kali dirapatkan, dinginnya lantai kayu yang berderak-derak, hingga air yang membuat tulang-tulang seakan beku, desa ini telak memikatku.
Geremis di awal pagi, dan pelangi setelahnya menjadikannya indah.
Embun yang menguap dari batang-bantang tanaman kopi, kayu-kayu lapuk, bahkan bebatuan tampak seperti asap tipis yang di hembuskan, cahaya mentari yang berpendar-pendar di pucuk daun kopi, dan mawar merah yang merekah, elok.
Derap langkah, tapak per tapak disuguhi aroma Lantana camara, berpadu dengan aroma Pinus merkusii, rumput, dan tanah yang basah seakan menguatkan tiap langkah yang menjejak, menjalarkan semangat, merekahkan senyum.
Riak air sungai, kicauan burung dan serangga bahkan lebih menentramkan dari pada music yang mereka sebut metal alias “mellow-total”.
Kuhirup udara yang begitu segar hingga batas kapasitas paru-paruku menampung udara dan mengehembuskannya perlahan, sunggu “nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”