Jumat, 28 September 2012

samar.

dalam ruang hampa rutinitas tak berujung.
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!

Kamis, 20 September 2012

understand me!!

kau bercerita tentang betapa tingginya gunung yang kau daki.
tentang betapa luas dan dalamnya samudra yang kau selami.
tentang harapmu, bahwa berani adalah benih yang kau tanam dalam dadaku.
tentang keindahan, dan kehebatan Sang Pencipta.

lalu aku bertanya tentang kebebasan,
tentang batas-batas yang kau rentangkan,
tentang resiko yang kau paparkan,
tentang kerangkeng yang kau buat!

sadarailah!
aku sepertimu.
tapi kau bahkan tak mengenal dan mengerti dirimu.

Miss u "doggy"

Apa kabarmu disana?
Masihkah gelasmu sesak dengan asap kopi yang mengepul?
Apakah koran masih setia dalam genggamanmu?
Berita apakah yang kau cari?
Adakah bahan untuk perdebatan baru kita?

Kau, masihkah tak berubah?
dengan beribu teori untuk mendebat tiap kataku?
dengan cara bicaramu yang sok kebapakan?
masihkah aku yang menjadi rival debatmu?

Bodoh, aku merindukanmu!
dalam rentang jarak yang tak terlalu jauh,
namun ego ini terlalu besar walau hanya untuk sekedar menyapamu kembali.

tahukah kau,
bahwa pertengkaran dan perdebatan kita
yang membuatku merindukan sosokmu?
walau tak jarang aku berkata bosan dihadapanmu,
namun ketahuilah, hati ini berdoa agar kita dapat dipertemukan kembali.

adakah rasa ini juga hadir dalam harimu?
entahlah.

Selasa, 04 September 2012

ku lepas....

sudah ku ajarkan pada hati untuk teguh.
tapi badai itu datang sebelum pondasinya kuat!
hingga hampir saja kerikil yang kususun satu-satu ini rubuh.
walaupun begitu, tetap saja anginnya menusuk hati,
hingga dingin menjalar dan melelehkan butir peluh.
sekuat tenaga kaki ini bertahan untuk tidak goyah
namun mata ini memelas menahan hujan,
walau mendung telah menghitam.

kepada sang penguasa hati,
kukeluhkan semua derita, perasaan yang telah mengendap
pernah  ku berikrar untuk menanti yang terindah
hingga ku lepas simpul ini, yang ikatannya telah membekas
kepada-Mu sang pemilik hati,
aku selalu percaya, jika baik itu sebaik rasanya
dan yang baik niscaya mendapatkan yang terbaik.