“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang
engkau dustakan?”
Sungguh tak ada, tak
ada kata yang dapat kurangkai untuk sebuah ungkapan syukur pada Sang Pencipta
selain sujud di atas puncak paku bumi beralaskan butiran pasir. Minggu 20 April
2014, saat purnama masih terang bersinar kami telah menaklukkan puncak gunung
Gede. Menyambut fajar yang akan menyingsing.
Berawal dari niat,
hingga berbentuk satu kalimat “ke gunung Gede” dalam buku harian, mengalir
dalam percakapan yang tak sengaja, semakin deras menjadi sebuah rencana,
membulat jadi tekad, batu, entah apalah namanya. Setelah sedikit kecewa karena
rencana awal gagal total akibat keterlambatan booking online, frustasi karena
tak bisa mendaftar online, berkali-kali menghubungi guide resmi TNGP yang tak
pernah berbalas, hingga Pak Dana dan Pak Syakur nekat ke Cibodas langsung dan
mendapati kantor tutup, namun apapun rintangannya, jika rezeki tak akan kemana,
mereka bertemu langsung dengan Kang Agus (Guide TNGP) saat iseng berfoto di
gerbang Cibodas, berbincang hangat, hingga akhirnya kabar gembira datang tak
terbendung, hingga girang tak kepalang. “kita jadi berangkat ke Gede!”
Jadilah kami berlima,
aku dan mbak Furi yang memang berencana berangkat sejak rencana awal, Pak Dana
yang Alhamdulillah mau diajakin setelah rencana berangkat dengan Sultan dkk
gagal total, Pak Syakur yang juga diajak oleh pak Dana, dan Bu Fiah yang diajak
oleh pak Syakur, sibuk merundingkan rencana keberangkatan sejak H-4. Mulai dari
mendaftar perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus disiapkan, logistic dan
konsumsi, hingga jadwal keberangkatan.
H-1 setelah semua
perlengkapan siap, kami sepakat untuk berkumpul pukul setengah tujuh pagi di
depan Masjid raya kota Bogor.
“Aku nggak yakin kalo
kita bisa berangkat setengah tujuh” kata bu Fiah saat mengendarai motor
sepulang dari berbelanja. Hari H pun tiba, setengah tujuh lebih tujuh menit aku
masih diatas angkot, Pak Dana sudah standby depan masjid Raya. Kurang beberapa
menit pukul tujuh, pak Dana dengan sepatu tentara, celana lapangan, jaket tebal,
slayer hitam-putih lengkap dengan kacamata hitam terlihat duduk sambil
mengobrol dengan mbak Furi di seberang jalan. Segera saja aku bergabung dengan
mereka.
Kurang dua personil lagi, Pak Syakur dan Bu fiah. Setelah ku konfirmasi ternyata mereka masih di kereta. Baiklah, kami menunggu sambil berbincang ria. Beberapa menit berlalu, kami mulai bosan. Sesekali aku melirik jam dilayar handphone, pak Dana bahkan tiduran disamping jalan.
Setelah agak lama, kami
iseng menebak dari angkot manakah bu Fiah dan Pak Syakur akan turun. Beberapa
angkot yang terlihat menepi kearah kami lewat tanpa ada tanda-tanda dari mereka
berdua, beberapa menit kemudian mereka berdua malah terlihat jalan kaki
menghampiri kami.
Siip! Personil
lengkap, segera saja kami berjalan menuju halte, tempat kami bisa menunggu
mobil colt putih yang akan membawa kami menuju puncak Bogor
Tidak berapa lama
setelah tiba dihalte, mobil colt putih jurusan puncak Bogor pun akhirnya tiba,
kami segera naik dan mengambil posisi PW (Paling Wuenak). Perjalanan dari Bogor
ke Puncak menghabiskan waktu sekitar empat jam. Wajarlah, hari itu adalah long
weekend dan puncak adalah salah satu destinasi wisata yang banyak diminati
hingga tak jarang antrian mobil mengular dijalanan sepanjang jalur menuju
puncak.
Sebelum tiba di gerbang
gunung putrid, kami berhenti di depan tokoh Selam*t. bukan toko itu tujuan
kami, melainkan warung didepannya. Yup, makan siang, mengisi stamina sebelum
memulai perjalanan. ^_^
Setelah kampung tengah
terisi, kami kembali melanjutkan perjalan dengan menumpang angkot kuning yag
akan membawa kami langsung menuju gerbang gunung putrid. Perjalan lumayan
lancar dan kami hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hingga tiba
dilokasi tujuan.
Nampaknya jalur
pendakian akan ramai, dari jauh kami telah melihat beberapa rombongan pendaki
yang juga sedang berkumpul di depan warung dekat pos gerbang pendakian. Saat
berkenalan ternyata mereka rombongan dari UNPAD.
Semakin mendekati pos
gunung putri, semakin ramai terlihat para pendaki yang memanggul carrier. Tegur
sapa pun ramai terdengar. Ditengah jalan, aku mendapati bunga dandelion. Ini
adalah kali pertama aku melihat langsung wujudnya dan meniup butir bunganya
yang terbang seperti kapas.
Setelah menumpang
shalat di pos, kami berlima berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum
memulai pendakian. Sebenarnya kami ingin berfoto didepan pos tapi karena
terlalu ramai, niat itu kami urungkan dan kamipun memulai langkah menyusuri
jalan yang mulai menanjak.
Sebelum memasuki
kawasan hutan kami sempat berhenti dua kali untuk istirahat. Maklum, kami masih
dalam tahap penyesuaian. Hehe. Bukan hanya kami, tapi beberapa rombongan juga
ikut beristirahat ditempat yang sama, percakapan hangat dan saling berbagi
bekal membuat kami seakan menjadi saudara. Masuk areal hutan, perjalanan
semakin menantang! Kami diiringi kicauan burung, bunyi serangga, dan tentu saja
sorakan semangat dari para pendaki yang lain. Senyum hangat, dan tegur sapa
selalu kami temui saat berpapasan dengan pendaki lainnya.
Semakin lama
berjalan, beban dipundak rasanya semakin berat, dan ritme tarikan nafas juga
semakin cepat. Peluh mulai membancir walau suhu udara semakin dingin. Saat tiba
di pos selanjutnya, kami istirahat dengan beberapa rombongan pendaki lainnya.
Ditempat inilah kami dijuluki “Power Rangers”, karena jumlah kami ada lima
orang dan masing-masing kami tadinya sempat mengenakan jas hujan plastik dengan
warna yang berbeda-beda.
Kami terus berjalan
walau hari mulai gelap. Saat hari betul-betul gelap, kami hanya diterangi
dengan cahaya senter. Beberapa kali kami sempat terpeleset akibat tanah yang
licak bekas hujan. Walau letih kami tak berhenti untuk saling menyemangati.
“satu..dua..semangat!!” beberapa kali kami lantunkan walau dengan nada lemah.
-_-“.
Terkadang kami bertanya
dengan para pendaki yang sudah turun, “surya kencana berapa jam lagi kang?” dan
ada yang menjawab “deket kok, sejam lagi nyampe.” Lalu beberapa meter kemudian
kami kembali bertanya pada pendaki lainnya yang datang dari arah berlawan dan
kemudian dijawab “dua jam-an ada..” demi mendengar jawaban tersebut kami serasa
di beri harapan palsu. Ternyata PHP bertebaran disepanjang jalan. Tapi
disitulah seninya, -harapan-. Berharap segera tiba ditempat tujuan.
Sebelum tiba di tujuan
tempat kami berencana mendirikan tenda, kami sempat makan malam di jalan. Kami
menemuka tempat datar dipinggir jalan menanjak. Kami membongkar carrier dan
mulai riweh dengan proses
masak-masak. Pada saat inilah kami mulai merasa dingin. Mbak furi bahkan
berjalan mengitari carrier berkali-kali di sepanjang lahan landai tempat kami
memasak. Pak Syakur dan pak Dana juga mencoba untuk membakar beberapa ranting
dan sampah tapi gagal karena rantingnya basah selepas hujan tadi. Saat kompor
sudah menyala kami duduk mengitari kompor, mencari kehangatan.
Tak lama kemudian nasi,
mie rebus dan ikan sarden matang. Kamipun mulai menyantap hidangan dengan
tangan yang agak gemetar menahan dingin. Aku tidak terlalu menikmati makanannya
dan hanya bisa memasukkan tiga sendok nasi kemulutku yang juga susah payah
kutelan. Ditengah sibuknya kami bersantap, tak sengaja mbak furi bergerak dan
menyenggol tas bu Fiah yang berdiri tepat disamping jalan jalur pendakian. Kami
awalnya bengong dan hanya melihat tas tersebut bergelinding jatuh dan
menimbulkan bunyi gedebuk. Nanti setelah bu Fiah berseru “Tas ku!” kami mulai ngngeh. Kami awalnya menunggu tas
tersebut berhenti berbunyi yang artinya ia sudah berhenti bergelinding. Tapi
semakin semakin lama kami menunggu, tas tersebut tidak juga berhenti
bergelinding. Karena takut tasnya nanti bisa jatuh ke jurang, pak Dana segera
kembali TURUN mengejar tas tersebut. Untung saja tas tersebut tersangkut
dipepohonan sehingga pak Dana tidak perlu turun terlalu jauh dan tentu saja
tidak perlu mendaki lagi terlalu jauh. Setelah dicek, syukurlah tak ada satu
barangpun yang hilang walau tas tersebut jatuh dalam keadaan tidak tertutup.
Aku tidak begitu
menikmati makan malam di bawah bulan waktu itu, entahlah sepertinya ikan sarden
tidak mampu membuat lidahku bergoyang. Beberapa saat setelah makan malam, kami
kemali melanjutkan pendakian. Sekitar satu setengah jam perjalanan aku merasa
mual dan beberapa meter kemudian, makanan yang tadi kupaksakan masuk tak dapat
kutahan lagi, keluar kembali. Untunglah aku sempat mengambil jalan agak
kepinggir hingga nasi yang telah menjadi bubur dapat mendarat di semak2 dan
tidak mengganggu pendaki lainnya.
Setelah minum air putih
dan obat masuk angin, aku kembali berjalan, namun beberapa meter kemudian,
ternyata masih ada makanan yang memaksa keluar. Kuhabiskan saja semua yang
tersisa didalam perutku, hingga pekat dan pahit bercampur ditenggorokan.
Setalah betul-betul habis, barulah kurasakan dingin yang teramat mulai
menusuk-nusuk kulit hingga membuatku menggigil. Awalnya aku sangat takut
terkena hipotermia, tapi untung saja mbak furi dan bu Fiah terus memaksaku
untuk bergerak dan mencari tempat hangat. Mereka bahkan harus mendengar
ocehanku yang keuar egitu saja disela-sela bunyi gemelutuk gigiku menahan
dingin.
sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Keesokan harinya,
sebuah hadiah menanti dibalik tenda. Lukisan maha indah terbentang didepan
mata! Hamparan bunga edelweiss, dan tumuhan liar lainnya yang warna-warni, awan
yang tampak begitu dekat, dan puncak gunung yang tampak meliuk-liuk.sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Puas menikmati
pemandangan pagi yang sejuk, waktunya memenuhi kebutuhan gizi. Kami segera
berbagi tuga. Aku dan bu Fiah menyiapkan sarapan, mbak Furi menjemur semua
barang yang basah. Bapak-bapak entah mengerjakan apa…
And we were proudly
present….
Kami berlima sepakat, ada beberapa surga dan
kenikmatan terindah saat mendaki. Jalanan lurus
atau turunan, dan tentu saja kehangatan, alias makanan hangat dan
minuman seduh. ^_^ sarapan beres, cuci
piring sudah, waktunya mengepak barang. Kami akan pindah lokasi camping.
Mencari sepetak tanah dari luasnya padang di Surya kencana. Rencananya kami
akan camping tepat didekat kaki gunung Gede, sehingga akan memudahkan kami jika
mulai muncak.
Power ranger siap
melanjutkan perjalan. Hohoho…
Sore di Surya
Kencana, menjadi fotografer relawan untuk acara pra wedding bu Fiah dan Pak
Syakur. Berlatarkan dua puncak gunung, udara sejuk yang kadang memaksa tangan
merpatkan jaket, hamparan rumput, ilalang dan edelweis dengan gradasi warna
lembut yang serasi, coklat muda, hijau, putih. Serta kabut yang kadang lewat
menyapa. Melihat mereka berpose, rasanya bagaikan “……….”.
Senja mulai
menjelang. Perubahan warna dilangit mulai terlihat, dan kami juga mulai
menyiapkan santap malam. Di tengah-tengah kesibukan kami mengolah bumbu
instant, tak dapat kulewatkan rasanya moment senja di padang ini. Segera saja
aku berlari begitu saja menghampiri senja yang mulai terbenam meninggalkan bu
Fiah dan mbak furi yang tetap asik memasak.
Masuk waktu subuh,
beberapa pendaki melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan beberapa jam
kemudian, sinar merah mulai merekah diangkasa. Inilah moment yang paling
ditunggu, menyaksikan sunrise dari puncak gunung.
Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!
Langit mulai menghitam,
dan malampun semakin pekat. Setelah semua hajat pribadi tertunaikan, waktunya
memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Rasanya belum terlalu lama saat mataku
terpejam, aku sudah terbangun dan mendapati bu Fiah dan mbak Furi yang nampak
berkali-kali merapatkan sleeping bag ke tubuhnya dan kami bertigapun semakin
merapat dan menggigil bersama.
Saat kami coba
mengintip dari balik tenda, suasa di luar nampak terang. Tidak seperti malam
pekat biasanya. Sehingga kami menira hari telah menjelang pagi. Setelah ku cek
jam, ternyata masih pukul satu malam. Yup, bulan sedang bersinar terang malam
itu. Ditambah tak adanya polusi cahaya yang menandingi sinar bulan, suasana
malam itu sangat indah. Bintangpun bagaikan kismis yang ditabur di atas
hitamnya langit yang maha luas. Sekitar kurang lebih satu jam kami meringkuk
kedinginan sambil duduk saling merapat, kami memutuskan untuk membangunkan
bapak-bapak dan bersiap berangkat menuju puncak.
Setengah jam kemudian, kami telah selesai
mengepak barang dan siap berangkat. Setelah doa bersama, kami mulai menjejak
langkah pertama menuju puncak dalam formasi yang telah kami susun. Kami
memperkirakan akan lama perjalanan ke puncak akan menyita waktu kurang lebih
dua sampai tiga jam. Namun ternyata kami hanya berjalan selama kurang lebih
satu jam. Demi melihat papan bertuliskan “PUNCAK GEDE”, semua rasa lelah lenyap
seketika! Tergantikan oleh indahnya lautan cahaya yang tersaji di depan mata.
Sambil menunggu waktu
subuh, kami kembali memongkar carrier, mengeluarkan peralatan masak dan tentu
saja, menyeduh air hangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada minum minuman
hangat di puncak gunung saat suhu betul-betul menggeliitik tulang! ^_^
Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!
Tidak lama kemudian, kami mulai turun melewati jalur
Cibodas. Turunan memang betul-betul kenikmatan terindah setelah lelah menapaki
tanjakan. Langkah kami berderap-derap lincah melewati turunan sambil
berpegangan pada batang-batang pohon. Sekitar pukul delapan pagi, kami rehat
sejenak untuk sarapan. Satu hal yang disepakati oleh semua pendaki adalah,
“semua pendaki adalah saudara” sehingga senyum dan kalimat perhatian bertebaran
disepanjang jalan saat kami berpapasan ataupun melewati pendaki lainnya. Begitu
pula saat sarapan, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki asal Jakarta, dan
segera saja kami ajak sarapan bersama. Tanpa perlu PDKT, dengan sendirinya kami
langsung merasa akrab. Layaknya teman lama yang berjumpa kembali.
Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih delapan
jam. Setelah sampai di Pos pendakian jalur Cibodas, kaki rasanya sudah tidak
bisa digerakkan. Ngilu sekujur tubuh baru terasa setelah mandi dan berganti
pakaian. Tapi semua lelah dan pelu terbayar dengan pengalaman, petualangan, dan
pelajaran yang tak dapat diniai dengan materi.
Terima kasih teman-teman POWER RANGER!! Pak
Dana, mbak Furi, bu Fiah, dan pak Syakur yang telah rela menunaikan inginku
menapak di pucak gunung GEDE. Arigatou gosaimash!!! ^_^