Jumat, 28 Desember 2012

setapak jejak di kaki gunung

just wanna share..

rasa letih kadang mengusik kaki. sandar di pohon yang tidak sengaja ada simbol angka satu tepat di atas kepalaku sehari sebelum ikut lomba, dan alhamdulillah jadi juara pertama. entah ini kebetulan atau apa. ^_^

subuh menjelang pagi di desa lembanna, Malino.

istirahat sejenak di tengah hutan, gerimis tipis-sejuk.

lihatlah, rumpun pun indah! embunnya berkilau-segar.

that's why, I LOVE BLUE SO MUCH!

kabut yang jd backroundx, :)

tapi ini belum puncaknya. kelak kan kukisahkan megah dan luasnya langit juga dalamnya lembah di atas titik tertinggi bumi.

bukan ANEH!


Lagi, dengan senyum yang sama pun pernyataan yang sama.
Kan ku kisahkan padamu, tentang perbedaan yang kau tafsir,
Atau hal yang kau sebut “aneh”
Tentang ingin dan anganku.
Jika saja aku bisa memilih, jalan tanpa alas kaki di atas rumput yang berembun tak masalah menjadi kegiatan rutinku ketimbang jalan di atas lantai keramik licin dengan kaki indah yang ditopang high hills. Bayangkan sejuknya embun yang meresap kepori-pori telapak kakimu, dan empuknya rumput yang kau pijak. Tidakkah kau rasakan damainya?
Cantik. Akupun memiliki persepsi sendiri. Cantik bukanlah wajah yang di usap bedak, bibir yang di poles lipstick, pipi yang di taburi perona, atau bulu mata tambahan yang memberatkan kelopak mata. Cantik itu alami, ia indah. Tak butuh tambahan, karena ku yakin setiap ciptaanNya indah. Wajah segar yang di basuh air wudhu adalah wajah yang terindah menurutku, ia bercahaya. Cantik.
Alam dengan segala keteraturannya yang kompleks merupakan pemukiman megah dari yang terelit. Pepohonan dan semak yang menghutan sebagai sumber oksigen, bebas dari polusi kenalpot atau gas pengganggu lainnya. Tanah subur jadi pasar harian tempat memanen sayuran segar bebas bahan pengawet, sungai dengan riak air jernih yang menenangkan lebih dari sekedar musik relaksasi, kabut dan hujan yang berpadu bahkan lebih romantis dari kafe remang hingga gelap. Dapatkah kau hayati kuasa sang Pencipta dalam lembut semilir angin di sela-sela dedaunan? Adakah kau sadari kehadiranNya dalam ritme denyut jantung dan setiap tarikan nafasmu? Dan kau akan sangat terpukau oleh CiptaanNya dengan berdiri tegak di puncak gunung, menyadari bahwa kau begitu kecil dan amat sangat kecil di bawah langit yang tak berbatas. Atau ketika kau salami dalamnya samudra, maka kau akan bergidik meresapi keajaiban kuasaNya.
Lalu kaupun meragukan keistimewaanku sebagai wanita, memangnya kenapa dengan statusku sebagai seorang wanita? Lihatlah bunda Nusaibah binti Ka’ab yang ketangguhannya sebanding dengan seribu laki-laki dan Khaulah binti Azwar yang dengan gagah perkasa turut mengayunkan pedang untuk berjihad. Tak ada larangan bagi wanita untuk menjadi tangguh bukan, namun tetap tak mengesampingkan keanggunannya sebagai seorang wanita.
Aku, punya landasan akan ingin dan anganku yang lebih dari sekedar khayal. Jadi sekali lagi kutegaskan, ini tidaklah ANEH. Inilah aku apa adanya diriku.


Senin, 24 Desember 2012

wanna dance in the rain


Lagi, kunikmati butir-butir kecil yang tumpah ruah

Jatuh dan mendarat di kulitku, tanganku, wajahku.

Sejuk.

Bisa saja aku menari dibawah derasnya hujan,

Berlari dan membiarkan angin menerpa wajahku,

Andai saja kemarin aku belumlah seorang gadis.

Hmm, pun aku masihlah kanak-kanak,

Tak pernah kurasakan derasnya hujan tumpah langsung di kepalaku.

Hanya rinai yang sempat menyapa jendela kaca ruang tamu,

Ataukah tetesan yang jatuh satu-satu dari atap yang bocor.

Jangan tanyakan betapa rasa cemburu ini begitu besar

Saat gelak tawa mereka yang berlari dibawa hujan terdengar mengejek

Ingin rasanya kaki ini menyelinap dan berlari lalu berbaur dengan mereka.

Namun tidak. Ada sesuatu yang lebih penting yang kata mereka harus kujaga. 

Selasa, 18 Desember 2012

half way..


Dingin. Namun peluh deras mengucur.
Nafas yang kuhirup satu-satu,
dan sejuk air yang menyelinap di sela-sela jariku.
Jalan setapak menanjak, bebatuan, licinnya tanah, dan lumpur coklat,
Menyimpan jejakku,
Jejak yang akan kutinggalkan lebih banyak dan lebih tinggi suatu saat nanti.
Semak, paku, lumut, pinus, eucalyptus,
Berpadu dalam hijau –kuning – coklat.
Aroma lantana camara memenuhi rongga dada.
Riak dan ritme air yang mengalir, menabrak bebatuan, menjadi music
yang semakin merdu dengan celoteh hewan-hewan kecil bersayap.
Kabut  tipis yang perlahan mengawan dan menebal,
Membawa hujan yang rinainya sejuk menjalar hingga ke sendi-sendi tulang
Rasa ngilu yang mengajarkan kaki untuk sabar dan teguh,
Hingga kelak kokoh menapak.
Puncak yang sesekali mengintip dari celah pohon,
Nampak awas pada kaki kecil yang meninggalkan bekas pijakan
Hati inipun berbisik pada si telapak,
“kita akan taklukkan gunung tinggi itu dan kau akan kokoh berpijak dipuncaknya, kelak”
Ketahuilah bahwa ini tekad, bukan nekad dan mereka amatlah berbeda. 

para penakluk dingin


Dalam kotak sempit walau saling berhimpit
Tawa indah itu tetap ada,
dan adrenalin yang melonjak bersama dengan deru ban menggebu.
Sejuk menjelma dingin,
Lalu tangan ini saling berpaut merapat, memperkecil cela hingga dingin tak menyusup.
Bukanlah vila mewah,
namun kebersamaan inilah yang tak ternilai.
dingin yang mengilukan tulang dan
Rangkulan yang menghapus jarak perbedaan,
Sudiang-gowa-maros-perdos pun satu di atas papan.
Andai..


Selasa, 11 Desember 2012

just wanna share


Adakah diantara sekian banyak manusia yang ingin berbagi dengaku?
Namun yang ingin kubagi adalah beban yang berat menindih pundakku, letihku, tangisku, keluhku.
Sudikah?
Meluangkan waktu untuk mendengar kisahku, kagumku pada tatanan alam, amarahku, atau mungkin egoku.
Adakah kau yang mau sejenak mengukir senyum di wajah masam ini?

Mengertikah kalian,
Angan ini berada di puncak tertinggi nun jauh sana.
Namun raga ini terpasung oleh kerangkeng aturan dan gembok-besar pamali.
Salahkah?
Apa karena aku wanita lantas tak punya hak istimewa seperti anak lelaki yang bebas mengembara?
Lantas apa arti dari pepatah “tuntutlah ilmu sampai negeri cina”? kalau hanya mengagumi megahnya langit malam diluar pintu rumahpun tak boleh?

Mengertilah,
Bukankah kau pernah berucap kalau aku adalah emas?
Emas yang terkubur dalam lumpurpun tak ada gunanya.
Bukankah kau menginginkan benihmu tumbuh dan mewarisi sifatmu?
Lalu mengapa masih saja kau rentangkan larangan yang mencekik?
Aku selalu ingat kisahmu tentang magisnya kuasa Sang Pencipta yang kau nikmati di puncak sana, tentang betapa luas kuasa-Nya saat kau salami dalamnya lautan.

Ingatlah,
Aku adalah benihmu.
Kode genetik yang kau wariskan ada padaku, dan itu mutlak.
Lalu apa yang kau sangsikan dariku?
Apa yang membuatku berbeda darimu,
hingga tak kau idzinkan untuk mengecap indahnya kuasa Sang pencipta?


I need a peaceful place without crowded.
I need a place to be with myself.
I need a friend to share.
‘cause I’m too tired to endure it alone.
I need it.


WebRep
Overall rating
This site has no rating
(not enough votes)

Sabtu, 08 Desember 2012

Diskusi dan Pemutaran Film Bahari


Siang ini, lima menit menjelang pukul tiga aku masuk dengan langkah tergesah ke gedung graha pena dengan kondisi sepatu basah dan baju yang dipenuhi bercak-becak air hujan. Sedikit uring-uringan di depan pintu lift yang semuanya tertutup, tujuanku adalah lantai empat. Tempat acara diskusi dan pemutaran film bahari pesta budaya selat Makassar. Bayangan telat terus membuat syarafku tegang dan tubuhku bereaksi berlebihan, maklum undangan yang datang melalui pesan singkat menyatakan acara dimulai pukul dua. Ting. Akhirnya pintu lift terbuka dan kurang dari tigapuluh detik kakiku sudah berada didepan tempat pelaksanaan acara. Ruangan sepi, hanya beberapa orang dengan kartu identitas panitia yang tergatung di leher terlihat lalu-lalang. Perasaanku sudah tidak enak, jangan-jangan acara sudah selesai! Padahal sudah hujan-hujanan dijalan demi untuk menonton film tentang bahari, ya segala hal menyangkut laut, gunung dan adventure tak akan kulewatkan. Sedikit cemas aku menghampiri meja registrasi dan bertanya pada salah satu panitia
“Maaf kak, ini tempat diskusi dan pemutaran film bahari ya?”
“Iya, silahkan tulis namanya di kolom ini” sambil menyodorkan kertas.
Ketika kulihat, baru dua baris pada kolom nama yang terisi dan namaku berada diurutan ketiga. Ada rasa lega yang menjalar didadaku, ternyata acara belum dimulai. Segera saja aku duduk dan merapikan pakaian tepatnya penampilanku yang sedikit berantakan. Sekitar lima menit menunggu, duduk sendirian, tak ada kerjaan iseng ku utak-atik laptopku dan mencoba untuk menulis satu cerita. Dua puluh menit berlalu dan acara belum juga mulai, tak ada tanda-tanda penambahan jumlah pengunjung. Aku mulai resah dan bosan. Lima menit berikutnya, dosenku (Rahmat Saleh, S.Pd, M.Pd) datang dan menyapaku sembari duduk tepat disampingku. Kamipun terlibat percakapan seputar budaya, laut, traveling hingga akhirnya acara pemutaran filmpun dimulai.
            Ada dua film yang ditampilkan. Film pertama merupakan film pedek (documenter) berdurasi sekitar tujuh menit dan berkisah tentang pelestarian budaya bahari nusantara. Film kedua berdurasi sekitar tiga pluh menit, menceritakan tentang wawasan bahari salah satu pulau terpencil yang terletak di kawasan timur Indonesia yaitu pulau Ilpokil. Kedua film tersebut menampilkan satu tokoh yang sama yaitu seorang putra bangsa yang telah menempuh perjalan dari San Francisco ke Indonesia melalui jalur laut selama kurang lebih sebelas bulan seorang diri, Rob Rama akrab disapa dengan Bang Rama.
            Setelah sesi pemutaran film usai, host acara memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bertanya pada bang rama yang hadir sebagai bintang tamu. Beberapa pesertapun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobati rasa penasaran tentang laut, cara menaklukkan lautan, ataupun ingin mendengar kisah lain dari petualangan Rob Rama. Salah satu kisah yang paling mengusik pikiranku adalah penuturannya tentang sampah.
Rob rama mengungkapkan bahwa di tengah lautan terdapat pulau yang terbentuk dari plastic sampah, dan luasnya sebesar pulau Bali! Tidak hanya satu Pulau tapi beberapa pulau! Can you imagine that?! Bahkan pulau plastic tersebut juga tak jarang menjerat binatang laut dan dapat membahayakan kehidupan laut. Kisah ini harusnya membuat kita sadar akan kondisi lingkungan dan tidak membuang sampah kelautan. Tidak hanya itu, Bang Rama juga mengungkapkan bahwa terkadang para nelayan menangkap ikan yang masih kecil, padahal ikan-ikan tersebut merupakan benih dan asset untuk generasi selanjutnya.
Penuturan kisah Rob Rama membuat kami yang hadir dalam acara tersebut sadar akan pentingnya menjaga kelestarian bahari terlebih Indonesia merupakan Negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Terbesit rasa banggaku pada sosok Rob Rama yang masih setia memperhatikan kondisi Bahari Nusantara dan tidak hanya sekedar pengungkapan melalui kata dan teori namun juga aksi.
Setelah acara diskusi usai, pengunjungpun satu-satu bengkit meninggalkan ruangan, namun tidak denganku. Aku ingin mengabadikan moment ini dan juga sosok Rob Rama yang telah menambah kobaran semangat dalam diriku untuk terus mewujudkan mimpiku, “menyelami lautan terdalam dan mendaki gunung tertinggi”. Dengan bantuan Pak Rahmat, akhirnya aku bisa berfoto dengan Rob Rama, Makasih pak. Maaf merepotkan (kundangnya aku, ckckck).
Acara usai, kami pulang dengan pikiran masing-masing. Entah ada yang berfikir untuk melestarikan budaya bahari, atau berfikir untuk mengunjungi pulau dalam film, atau bahkan ada yang tidak berfikir sama sekali. Entahlah. Aku, melangkah keluar Gedung dengan senyum yang muncul malu-malu memandangi wallpaper Hp yang telah berganti latar aku dan Rob rama.



Gunung dan laut, terentang jarak yang tidak dekat mengantarai, dan aku akan menjadi penghubung. Setia mengabarkan gunung tentang laut dan menyampaikan salam gunung pada laut.

Selasa, 04 Desember 2012

on ITC


Ada sensasi aneh yang menguasaiku,
Seperti luapan hormone adrenalin yang mengalir terus-menerus,
Menjalari sekujur tubuhku.
Terlebih ketika kurasakan dingin menjalar dari jemariku,
Yang berpindah dari kaca berembun.
Mereka tampak kecil di bawah kaki ku.
Ini barulah lantai Sembilan sebuah gedung,
Pun masih dibatasi oleh kaca dan belum kurasakan dinginnya angin yang berhembus.
Aku, dan mimpiku.
Berhayal kalau saja tempatku berpijak sekarang adalah puncak bukit
Dengan lembah bagai tak bertepi.
Kan kubiarkan angin menghempas bebanku.
Dan kaki kecil ini akan tetap kokoh seperti aku menggenggam mimpi ini.

                                                                                    Nurhikmah Tenripada