18 februari 2014.
Kurasakan lagi deru mesin pesawat yang membawaku mengudara, melejit menembus awan.
desakan tekanan udara yang terkadang membuat telinga sakit,
hamparan awan dan langit maha luas yang nampaknya tak berujung.
dan tentu saja,
di satu sudut hatiku, yang terkadang kusembunyikan jauh kedalam dan tak kubiarkan mereka walau hanya mengintipnya, tergurat sepenggal rasa.
rasa yang tak pernah mampu kuterjemahkan dengan sempurna,
rasa yang membuat ku tetap tersenyum walau mata beningnya nampak sendu saat melepasku,
rasa yang mampu membuatku tenang dalam pelukannya yang seakan tak ingin merelakanku,
rasa yang selalu mampu membuatku berfikir semua akan baik-baik saja.
seperti bendungan kokoh yang mampu menahan luapan linangan yang mendesak pelupuk mata.
semua akan baik-baik saja, harapku.
yang tak henti, terlebih saat tubuhku ikut terguncang dengan pesawat menantang angin dan awan..
semua kan baik-baik saja,
saat riuh gaduh suara mereka lewat telepon terdengar,
saat kata "kakak" terucap berkali-kali dengan lantang yang selalu membuatku mampu mengingat tiap detail tingkahnya, tawanya, kerlingannya, hangat tangan mungilnya saat memeluk leherku, kenakalannya yang membuatku gemas setengah mati, lembut rambutnya, ciuman kilatnya,
ah bunga.. ini hanya sebentar, semua akan baik-baik saja.
semua akan baik-baik saja,
walau tak adalagi ritual panggilan makan bersama yang kadang memaksaku beranjak dari kegiatan yang tengah kukerjakan.
walau tak adalagi baki biru bundar yang penuh berisi lauk dan sayuran.
walau kadang kupaksakan suap demi suap makanan kutelan.
ini hanya sebentar, semua akan baik-baik saja.
tentu saja, semua akn baik-baik saja.
itulah tugas yang harus ku emban.
memastikan semua baik-baik saja,
i'll do my best.
Sabtu, 22 Februari 2014
Selasa, 18 Februari 2014
Kamis, 06 Februari 2014
harap di ujung senja
sembari melepas penat sambil tiduran dikamar orangtua, sekaligus melepas rindu karena seharian kami sibuk dengan urusan masing-masing, etta (panggilan untuk ayah bagi suku bugis) dengan ujung rambut yang masih basah sambil memperbaiki simpul sarungnya berkisah tentang "perjuangan hidup". Kisah yang mungkin sederhana bagi sebagian orang, bagaimanakah kisahnya? sayang sekali aku tak akan membagi kisahnya utuh disini, tapi baiklah, akan ku bagi sepenggal kisah dan nasehat yang tak akan kulupakan dari tuturnya di senja kemarin.
...............................................................................
"ingat nak, jika seseorang telah menikah maka seorang istri lebih utama dari keluarga bahkan orangtua, begitupun suami, karena seseorang yang telah menikah, mereka telah disatukan, masing-masing ibarat pakaian bagi pasangannya. Jika seorang lelaki menikah maka bukan lagi ibunya yang akan menyentuhnya, melainkan istrinya. Pernahkah kau mendengar kisah seorang permaisuri yang berkhianat pada rajanya?"
"hmmm" jawabku sambil mengingat cerita yang pernah ku baca.
"tapi kebanyakan kisah adalah tentang penghianatan saudara, bahkan anak pada orangtuanya. seperti itulah nak, maka seorang istri tidak dapat diceraikan hanya karena alasan saudaranya tidak suka. Bercerai itu halal, tapi amat dibenci oleh Allah! Istri dapat diceraikan dengan tiga alasan, dia berkhianat pada suaminya, dia durhaka, dan dia lebih menuntut hak dunia. Jikapun seorang istri yang bersikap tidak baik menurut saudaranya, atau istrinya memiliki sifat buruk maka sebenarnya itu adalah tugas suaminya untuk mengarahkan istrinya menjadi lebih baik. tapi ingat nak, bukan hak manusia untuk memberi petunjuk, hanya Allah yang berhak memberikan petunjuk pada seseorang, tugas kita hanyalah memperingatkan, kita tidak mungkin dapat merubah seseorang dari usaha kita melainkan orang tersebut sendiri yang mau berubah dan diberikan petunjuk. Yang salah adalah jika kita hanya diam"
aku hanya dapat tertegun mendengar semua penuturannya. setelah ummi selesai menyiapkan sejadah untuk shalat magrib berjamaah, ettapun menutup kisahnya,
"oleh karena itu nak, pilihlah calon suami yang dapat membimbingmu dan mengajarmu, yang memiliki pemahaman agama yang benar tapi tidak sebatas paham, namun dilaksanakan.
iyakan ummi" sambil mengerling ke arah ummi yang tersipu.
iyakan ummi" sambil mengerling ke arah ummi yang tersipu.
Akupun mengangguk lalu beranjak sambil tersenyum melihat mereka shalat berjamaah.
Langganan:
Postingan (Atom)
