Jangan tanya
bagaimanaku menyambut tahun baru,
Bagiku tak
ada yang spesial,
Hanya sebatas
pagi yang terbit menyelimuti lelah malam.
Lalu kalender
berganti, namun hitungannya tetap sama, satu hari, dua puluh empat jam.
Tetiba terbangun
gegara suara petasan yang membuat telinga pekak,
Tak satu
namun ratusan, salak menyalak memecah keheningan malam.
Menerobos
gerimis yang coba meredam api yang bermekaran.
Indah,
mungkin.
Tapi kawan,
aku lebih menikmati langit pekat bertabur bintang,
Jika saja
kau bertanya.
Dengan bulan
yang tersenyum sabit tanpa awan.
Dan aku
mulai melamun, hampir saja membual.
Menunggu
pagi yang berderit begitu berat.
Menunggu
hening memecah hiruk.
Menunggu,
dalam hangat dekapan selimut dan guling,
Menunggu,
Menyisakan
ruang kosong yang terasa dingin.