Minggu, 16 November 2014

Anugrah dapat Anugra (Anu gratis)!

25 Oktober 2014

selepas shalat duhur, kami menantang terik menuju pelabuhan Lappa, Sinjai Utara. Bermodal Satu tas ransel yang tampak gembung, dan dua kantong toples kosong, serta gumpalan nekat dan tekad, kami siap tersesat. Tiba di Pelabuhan, kami tidak langsung menaiki kapal, namun terlebih dahulu bertanya pada salah satu ABK,

"pak, ini kapal yang mau ke pulau sembilan?"
"iya, ini. sudah hampir berangkat. mau ke pulau mana?"
"ke pulau sembilan pak!"
"iya, pulau sembilan yang mana, ada sembilan pulau, mau ke pulau yang mana?"
"hmmmm, kalo ini kapal mau ke pulau mana pak?
"ke pulau kanalo."
"kalo pulau yang pasir putih pulau apa pak?"
"semua pulau pasir putih."
"kalo pulau yang karang-karangnya masih bagus yang mana pak?"
"kanalo juga bagus, kambuno juga.."
"hmm.. kemana ya.." "bentar ya pak," kataku kemudian sambil meninggalkan pria itu yang kemudian melanjutkan mengangkat barang ke atas kapal.

setelah berdiskusi (lebih tepatnya bingung bersama) dengan, sebut saja ia men, kami memutuskan untuk menaiki kapal yang sebentar lagi akan lepas jangkar, dengan alasan agar kami tiba di pulau (yang entah apa namanya) tidak kemalaman.

kami akhirnya menaiki kapal yang tadi ABK nya sabar melayani pertanyaanku. Kamipun memilih posisi duduk yang nyaman di lambung kapal. Setelah duduk agak lama, mungkin puluhan menit, kapal belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. kami mulai bosan dan sedikit pening karena kapal bergoyang-goyang dimainkan ombak. Di dekat kami juga ada beberapa pria dewasa yang dengan sabar duduk menunggu.

"katanya tadi mau ke pulau kambuno?" tanya seorang pria yang duduk didekat kami. Sebelum naik ke kapal ia sempat bertanya padaku tentang pulau tujuan kami, yang kujawab pulau kambuno, tapi sebetulnya saya juga kurang yakin tentang pulau mana yang akan kami tuju.
"iya kak." kataku singkat.
"kapal ini mau ke pulau kanalo, kalo kambuno yang kapal disana." katanya menjelaskan.
"oh, hehe. kanalo kalo begitu kak." jawabku sambil tersenyum sedikit malu-malu.
"kami naik kapal yang sudah mau berangkat saja kak." jawab men.
pria itu hanya nampak menangguk, mungkin heran mendengar jawaban kami.

beberapa menit kemudian, kapal mulai bergetar karena mesin sudah dinyalakan. Namun, kapal belum langsung berangkat. Kami masih harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi barulah kapal mulai bergerak perlahan. Di atas kapal, kami menghabiskan waktu terkadang dengan berbincang, duduk tanpa suara, namun lebih lama kami habiskan dengan tidur.

setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk naik ke atap kapal, mencari suasana baru. Ternyata ada beberapa orang yang juga berada disana. Kami duduk di bagian belakang sambil menggunakan jaket untuk berteduh, sesekali memicingkan mata menahan terik.

"kalau sampe di pulau mau tidur dimana?" tanya pria yang tadi duduk di dekat kami dan sekarang juga masih dekat dengan kami.
"di pulau tidak ada penginapan kah kak?" kataku balik bertanya.
"kalo di kanalo tidak ada."
"hmm, mungkin cari mesjid saja. atau kalo ada kapal yang balik sore mungkin langsung balik ji." kata men.
"tinggal di rumah saudara saya saja di sana." katanya menawarkan.

awalnya kami hanya menanggapi tawaran kakak (saya lupa namanya siapa) dengan tersenyum. Namun, saat tiba di pulau, ia betulan mengajak kami ke rumah saudaranya yang lokasinya tepat disamping laut. Saya hanya bisa mengikut, entah kaget, senang, atau heran, tiba-tiba di tawari tempat berteduh dan disuguhi teh hangat, kue dan sepiring semangka. Kami bahkan di berikan kamar untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan kami.

setelah shalat ashar, kami berbincang di beranda rumahnya yang hampir dipenuhi oleh teripang kering. Belakangan kami tahu ternyata kakak adalah seorang penyelam. Namun bukan seperti para penyelam scuba dive, kakak adalah pencari teripang yang menyelam dengan menggunakan kompresor untuk bernafas, tanpa menggunakan baju selam! Penyelamanpun dilakukan saat malam hari.

setelah berbincang sambil menikmati biskuit dan teh, kakak menawarkan diri menemani kami ke laut untuk mencari beberapa spesies hewan laut yang akan kami jadikan awetan basah di sekolah tempat kami KKN-PPL. Namun, bukan hanya kakak, ia juga mengajak satu ponakan dan adik perempuannya untuk ikut dengan kami. Kami ke lokasi menggunakan perahu miliknya. Setelah tiba dilokasi, saya, adik dan ponakan kakak mulai turun ke air yang ternyata lumayan dalam (untuk ukuran saya yang belum terlalu kuat mengapung), mungkin sekitar dua meter. Sementara kakak dan men tetap di atas perahu.

Setelah beberapa menit menceburkan diri, Aldi, nama ponakan kakak membawa dua bintang raja ke atas perahu. tidak lama kemudian, ia juga mengambilkan kami bulu babi. sementara saya dan adik perempuan kakak hanya berenang-renang di pinggir perahu. kami sama-sama kurang bernyali untuk menyelam. Kami juga meminta untuk di ambilkan karang mati, namun Aldi terlanjur mematahkan karang hidup dan membawanya naik ke perahu. Setelah merasa cukup, kami semua naik ke perahu yang tidak semudah kelihatannya. Saya harus dipegangi dan ditarik agar dapat naik.

tiba dirumah, mereka mempersilahkan kami untuk membersihkan badan. setelah mandi, saya dan men bergegas ke dermaga. Kami tidak ingin meninggalkan potret matahari yang sudah mulai terbenam. kamipun menikmati matahari yang perlahan tenggelam hingga sepenuhnya terbenam. Hanya meninggalkan siluet pulau dan warna keemasan di langit.



Saat malam, keluarga kakak repot-repot menyediakan kami makan malam. Mereka sampai memanggil dan mengajak kami hingga kami duduk di kursi. Awalnya mereka hanya mempersilahkan kami berdua namun saya meminta mereka agar makan bersama saja. Akhirnya kami ditemani kak wati dan adik perempuannya. Kaum laki-laki kemudian makan setelah kami.

tidak hanya makan malam, mereka bahkan menyediakan kami pisang goreng dan segelas teh hangat setelah mengajak kami menonton bersama di ruang keluarga mereka. Senang sekali rasanya berada ditengah keluarga mereka. melihat mereka berbincang, bernego tentang siaran yang ingin mereka tonton, tertawa bersama. saya tiba-tiba rindu rumah. Teringat masa-masa SD saat keluargaku juga berbaring bersama diruang keluarga, menonton bersama atau sekedar berbagi cerita.

setelah agak larut, kamipun memilih untuk beristirahat duluan.

Saat subuh, debur ombak terdengar lembut menyapa pantai. Setelah shalat, kami memilih tetap di dalam rumah sambil menunggu yang lain bangun. hari ini kami berencana pulang dengan menumpang kapal yang kami tumpangi kemarin. Namun sebelum itu, kami menyempatkan diri berjalan menyusur pantai untuk kembali mencari beberapa spesies hewan laut. Sebelum turun, kami kembali disuguhi kue dan segelas teh hangat sebagai sarapan.




air laut surut cukup jauh. kami berjalan di atas pasir putih yang nampak bergelombang. sesekali berhenti dan menggali pasir, berharap menemukan hewan laut yang bersembunyi. kami juga memungut beberapa bintang laut, lili laut, sponge, dan kepiting.





 kapal yang akan kami tumpangi sudah nampak di dermaga. Kami bergegas naik kerumah sambil membawa hewan pungutan yang kami dapat. setelah berpamitan, saya berniat menghampiri kak wati dan berniat memberikan sedikit 'hadiah' namun ditolak olehnya. akhirnya saya pun menyimpannya kembali dan mengucapkan terima kasih padanya dan keluarga kakak yang begitu baik dan ramah pada kami.

dari ujung dermaga kapal nampak telah sesak oleh penumpang. Kami lalu berjalan cepat menuju ujung dermaga agar tidak ketinggalan kapal. sambil menenteng toples yang berisi hewan-hewan laut, kami terus berjalan sambil sesekali membalas senyuman dari warga yang kami lewati. Akhirnya kami tiba di kapal tepat sebelum kapal menarik jangkar. Kami pulang.

Kamis, 31 Juli 2014

Ekspedisi Gunung Gede with Power Ranger Dadakan [late post]

“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Sungguh tak ada, tak ada kata yang dapat kurangkai untuk sebuah ungkapan syukur pada Sang Pencipta selain sujud di atas puncak paku bumi beralaskan butiran pasir. Minggu 20 April 2014, saat purnama masih terang bersinar kami telah menaklukkan puncak gunung Gede. Menyambut fajar yang akan menyingsing.
Berawal dari niat, hingga berbentuk satu kalimat “ke gunung Gede” dalam buku harian, mengalir dalam percakapan yang tak sengaja, semakin deras menjadi sebuah rencana, membulat jadi tekad, batu, entah apalah namanya. Setelah sedikit kecewa karena rencana awal gagal total akibat keterlambatan booking online, frustasi karena tak bisa mendaftar online, berkali-kali menghubungi guide resmi TNGP yang tak pernah berbalas, hingga Pak Dana dan Pak Syakur nekat ke Cibodas langsung dan mendapati kantor tutup, namun apapun rintangannya, jika rezeki tak akan kemana, mereka bertemu langsung dengan Kang Agus (Guide TNGP) saat iseng berfoto di gerbang Cibodas, berbincang hangat, hingga akhirnya kabar gembira datang tak terbendung, hingga girang tak kepalang.  “kita jadi berangkat ke Gede!”
Jadilah kami berlima, aku dan mbak Furi yang memang berencana berangkat sejak rencana awal, Pak Dana yang Alhamdulillah mau diajakin setelah rencana berangkat dengan Sultan dkk gagal total, Pak Syakur yang juga diajak oleh pak Dana, dan Bu Fiah yang diajak oleh pak Syakur, sibuk merundingkan rencana keberangkatan sejak H-4. Mulai dari mendaftar perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus disiapkan, logistic dan konsumsi, hingga jadwal keberangkatan.
H-1 setelah semua perlengkapan siap, kami sepakat untuk berkumpul pukul setengah tujuh pagi di depan Masjid raya kota Bogor.

“Aku nggak yakin kalo kita bisa berangkat setengah tujuh” kata bu Fiah saat mengendarai motor sepulang dari berbelanja. Hari H pun tiba, setengah tujuh lebih tujuh menit aku masih diatas angkot, Pak Dana sudah standby depan masjid Raya. Kurang beberapa menit pukul tujuh, pak Dana dengan sepatu tentara, celana lapangan, jaket tebal, slayer hitam-putih lengkap dengan kacamata hitam terlihat duduk sambil mengobrol dengan mbak Furi di seberang jalan. Segera saja aku bergabung dengan mereka.














Kurang dua personil lagi, Pak Syakur dan Bu fiah. Setelah ku konfirmasi ternyata mereka masih di kereta. Baiklah, kami menunggu sambil berbincang ria. Beberapa menit berlalu, kami mulai bosan. Sesekali aku melirik jam dilayar handphone, pak Dana bahkan tiduran disamping jalan.



Setelah agak lama, kami iseng menebak dari angkot manakah bu Fiah dan Pak Syakur akan turun. Beberapa angkot yang terlihat menepi kearah kami lewat tanpa ada tanda-tanda dari mereka berdua, beberapa menit kemudian mereka berdua malah terlihat jalan kaki menghampiri kami.
Siip! Personil lengkap, segera saja kami berjalan menuju halte, tempat kami bisa menunggu mobil colt putih yang akan membawa kami menuju puncak Bogor

Tidak berapa lama setelah tiba dihalte, mobil colt putih jurusan puncak Bogor pun akhirnya tiba, kami segera naik dan mengambil posisi PW (Paling Wuenak). Perjalanan dari Bogor ke Puncak menghabiskan waktu sekitar empat jam. Wajarlah, hari itu adalah long weekend dan puncak adalah salah satu destinasi wisata yang banyak diminati hingga tak jarang antrian mobil mengular dijalanan sepanjang jalur menuju puncak.
Sebelum tiba di gerbang gunung putrid, kami berhenti di depan tokoh Selam*t. bukan toko itu tujuan kami, melainkan warung didepannya. Yup, makan siang, mengisi stamina sebelum memulai perjalanan. ^_^


Setelah kampung tengah terisi, kami kembali melanjutkan perjalan dengan menumpang angkot kuning yag akan membawa kami langsung menuju gerbang gunung putrid. Perjalan lumayan lancar dan kami hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hingga tiba dilokasi tujuan.
Nampaknya jalur pendakian akan ramai, dari jauh kami telah melihat beberapa rombongan pendaki yang juga sedang berkumpul di depan warung dekat pos gerbang pendakian. Saat berkenalan ternyata mereka rombongan dari UNPAD.
Semakin mendekati pos gunung putri, semakin ramai terlihat para pendaki yang memanggul carrier. Tegur sapa pun ramai terdengar. Ditengah jalan, aku mendapati bunga dandelion. Ini adalah kali pertama aku melihat langsung wujudnya dan meniup butir bunganya yang terbang seperti kapas.


Setelah menumpang shalat di pos, kami berlima berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum memulai pendakian. Sebenarnya kami ingin berfoto didepan pos tapi karena terlalu ramai, niat itu kami urungkan dan kamipun memulai langkah menyusuri jalan yang mulai menanjak.
Sebelum memasuki kawasan hutan kami sempat berhenti dua kali untuk istirahat. Maklum, kami masih dalam tahap penyesuaian. Hehe. Bukan hanya kami, tapi beberapa rombongan juga ikut beristirahat ditempat yang sama, percakapan hangat dan saling berbagi bekal membuat kami seakan menjadi saudara. Masuk areal hutan, perjalanan semakin menantang! Kami diiringi kicauan burung, bunyi serangga, dan tentu saja sorakan semangat dari para pendaki yang lain. Senyum hangat, dan tegur sapa selalu kami temui saat berpapasan dengan pendaki lainnya.
Semakin lama berjalan, beban dipundak rasanya semakin berat, dan ritme tarikan nafas juga semakin cepat. Peluh mulai membancir walau suhu udara semakin dingin. Saat tiba di pos selanjutnya, kami istirahat dengan beberapa rombongan pendaki lainnya. Ditempat inilah kami dijuluki “Power Rangers”, karena jumlah kami ada lima orang dan masing-masing kami tadinya sempat mengenakan jas hujan plastik dengan warna yang berbeda-beda.






Kami terus berjalan walau hari mulai gelap. Saat hari betul-betul gelap, kami hanya diterangi dengan cahaya senter. Beberapa kali kami sempat terpeleset akibat tanah yang licak bekas hujan. Walau letih kami tak berhenti untuk saling menyemangati. “satu..dua..semangat!!” beberapa kali kami lantunkan walau dengan nada lemah. -_-“.
Terkadang kami bertanya dengan para pendaki yang sudah turun, “surya kencana berapa jam lagi kang?” dan ada yang menjawab “deket kok, sejam lagi nyampe.” Lalu beberapa meter kemudian kami kembali bertanya pada pendaki lainnya yang datang dari arah berlawan dan kemudian dijawab “dua jam-an ada..” demi mendengar jawaban tersebut kami serasa di beri harapan palsu. Ternyata PHP bertebaran disepanjang jalan. Tapi disitulah seninya, -harapan-. Berharap segera tiba ditempat tujuan.
Sebelum tiba di tujuan tempat kami berencana mendirikan tenda, kami sempat makan malam di jalan. Kami menemuka tempat datar dipinggir jalan menanjak. Kami membongkar carrier dan mulai riweh dengan proses masak-masak. Pada saat inilah kami mulai merasa dingin. Mbak furi bahkan berjalan mengitari carrier berkali-kali di sepanjang lahan landai tempat kami memasak. Pak Syakur dan pak Dana juga mencoba untuk membakar beberapa ranting dan sampah tapi gagal karena rantingnya basah selepas hujan tadi. Saat kompor sudah menyala kami duduk mengitari kompor, mencari kehangatan.
Tak lama kemudian nasi, mie rebus dan ikan sarden matang. Kamipun mulai menyantap hidangan dengan tangan yang agak gemetar menahan dingin. Aku tidak terlalu menikmati makanannya dan hanya bisa memasukkan tiga sendok nasi kemulutku yang juga susah payah kutelan. Ditengah sibuknya kami bersantap, tak sengaja mbak furi bergerak dan menyenggol tas bu Fiah yang berdiri tepat disamping jalan jalur pendakian. Kami awalnya bengong dan hanya melihat tas tersebut bergelinding jatuh dan menimbulkan bunyi gedebuk. Nanti setelah bu Fiah berseru “Tas ku!” kami mulai ngngeh. Kami awalnya menunggu tas tersebut berhenti berbunyi yang artinya ia sudah berhenti bergelinding. Tapi semakin semakin lama kami menunggu, tas tersebut tidak juga berhenti bergelinding. Karena takut tasnya nanti bisa jatuh ke jurang, pak Dana segera kembali TURUN mengejar tas tersebut. Untung saja tas tersebut tersangkut dipepohonan sehingga pak Dana tidak perlu turun terlalu jauh dan tentu saja tidak perlu mendaki lagi terlalu jauh. Setelah dicek, syukurlah tak ada satu barangpun yang hilang walau tas tersebut jatuh dalam keadaan tidak tertutup.
Aku tidak begitu menikmati makan malam di bawah bulan waktu itu, entahlah sepertinya ikan sarden tidak mampu membuat lidahku bergoyang. Beberapa saat setelah makan malam, kami kemali melanjutkan pendakian. Sekitar satu setengah jam perjalanan aku merasa mual dan beberapa meter kemudian, makanan yang tadi kupaksakan masuk tak dapat kutahan lagi, keluar kembali. Untunglah aku sempat mengambil jalan agak kepinggir hingga nasi yang telah menjadi bubur dapat mendarat di semak2 dan tidak mengganggu pendaki lainnya.
Setelah minum air putih dan obat masuk angin, aku kembali berjalan, namun beberapa meter kemudian, ternyata masih ada makanan yang memaksa keluar. Kuhabiskan saja semua yang tersisa didalam perutku, hingga pekat dan pahit bercampur ditenggorokan. Setalah betul-betul habis, barulah kurasakan dingin yang teramat mulai menusuk-nusuk kulit hingga membuatku menggigil. Awalnya aku sangat takut terkena hipotermia, tapi untung saja mbak furi dan bu Fiah terus memaksaku untuk bergerak dan mencari tempat hangat. Mereka bahkan harus mendengar ocehanku yang keuar egitu saja disela-sela bunyi gemelutuk gigiku menahan dingin.
sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Keesokan harinya, sebuah hadiah menanti dibalik tenda. Lukisan maha indah terbentang didepan mata! Hamparan bunga edelweiss, dan tumuhan liar lainnya yang warna-warni, awan yang tampak begitu dekat, dan puncak gunung yang tampak meliuk-liuk.
























Puas menikmati pemandangan pagi yang sejuk, waktunya memenuhi kebutuhan gizi. Kami segera berbagi tuga. Aku dan bu Fiah menyiapkan sarapan, mbak Furi menjemur semua barang yang basah. Bapak-bapak entah mengerjakan apa…



And we were proudly present….


Kami berlima sepakat, ada beberapa surga dan kenikmatan terindah saat mendaki. Jalanan lurus  atau turunan, dan tentu saja kehangatan, alias makanan hangat dan minuman seduh. ^_^  sarapan beres, cuci piring sudah, waktunya mengepak barang. Kami akan pindah lokasi camping. Mencari sepetak tanah dari luasnya padang di Surya kencana. Rencananya kami akan camping tepat didekat kaki gunung Gede, sehingga akan memudahkan kami jika mulai muncak.
 Power ranger siap melanjutkan perjalan. Hohoho…



Setelah berjalan kurang dari sejam, akhirnya kami menemukan tempat strategis untuk mendirikan tenda. Kriteria lokasi strategis menurut kami adalah, banyak pohon yang dapat menahan terpaan angin dingin, dekat dengan semak yang lumayan lebat, tempat kami “ehem”. Hehehe ^_~


Sore di Surya Kencana, menjadi fotografer relawan untuk acara pra wedding bu Fiah dan Pak Syakur. Berlatarkan dua puncak gunung, udara sejuk yang kadang memaksa tangan merpatkan jaket, hamparan rumput, ilalang dan edelweis dengan gradasi warna lembut yang serasi, coklat muda, hijau, putih. Serta kabut yang kadang lewat menyapa. Melihat mereka berpose, rasanya bagaikan “……….”.


Dalam moment seperti ini, aku juga tentu saja akan mengabadikan gambar diri dalam panorama indah ini, tak apa, walau sendiri. Haha.


Senja mulai menjelang. Perubahan warna dilangit mulai terlihat, dan kami juga mulai menyiapkan santap malam. Di tengah-tengah kesibukan kami mengolah bumbu instant, tak dapat kulewatkan rasanya moment senja di padang ini. Segera saja aku berlari begitu saja menghampiri senja yang mulai terbenam meninggalkan bu Fiah dan mbak furi yang tetap asik memasak.


Langit mulai menghitam, dan malampun semakin pekat. Setelah semua hajat pribadi tertunaikan, waktunya memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Rasanya belum terlalu lama saat mataku terpejam, aku sudah terbangun dan mendapati bu Fiah dan mbak Furi yang nampak berkali-kali merapatkan sleeping bag ke tubuhnya dan kami bertigapun semakin merapat dan menggigil bersama.
Saat kami coba mengintip dari balik tenda, suasa di luar nampak terang. Tidak seperti malam pekat biasanya. Sehingga kami menira hari telah menjelang pagi. Setelah ku cek jam, ternyata masih pukul satu malam. Yup, bulan sedang bersinar terang malam itu. Ditambah tak adanya polusi cahaya yang menandingi sinar bulan, suasana malam itu sangat indah. Bintangpun bagaikan kismis yang ditabur di atas hitamnya langit yang maha luas. Sekitar kurang lebih satu jam kami meringkuk kedinginan sambil duduk saling merapat, kami memutuskan untuk membangunkan bapak-bapak dan bersiap berangkat menuju puncak.
Setengah jam kemudian, kami telah selesai mengepak barang dan siap berangkat. Setelah doa bersama, kami mulai menjejak langkah pertama menuju puncak dalam formasi yang telah kami susun. Kami memperkirakan akan lama perjalanan ke puncak akan menyita waktu kurang lebih dua sampai tiga jam. Namun ternyata kami hanya berjalan selama kurang lebih satu jam. Demi melihat papan bertuliskan “PUNCAK GEDE”, semua rasa lelah lenyap seketika! Tergantikan oleh indahnya lautan cahaya yang tersaji di depan mata.



Sambil menunggu waktu subuh, kami kembali memongkar carrier, mengeluarkan peralatan masak dan tentu saja, menyeduh air hangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada minum minuman hangat di puncak gunung saat suhu betul-betul menggeliitik tulang! ^_^
Masuk waktu subuh, beberapa pendaki melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan beberapa jam kemudian, sinar merah mulai merekah diangkasa. Inilah moment yang paling ditunggu, menyaksikan sunrise dari puncak gunung.


Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!



Tidak lama kemudian, kami mulai turun melewati jalur Cibodas. Turunan memang betul-betul kenikmatan terindah setelah lelah menapaki tanjakan. Langkah kami berderap-derap lincah melewati turunan sambil berpegangan pada batang-batang pohon. Sekitar pukul delapan pagi, kami rehat sejenak untuk sarapan. Satu hal yang disepakati oleh semua pendaki adalah, “semua pendaki adalah saudara” sehingga senyum dan kalimat perhatian bertebaran disepanjang jalan saat kami berpapasan ataupun melewati pendaki lainnya. Begitu pula saat sarapan, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki asal Jakarta, dan segera saja kami ajak sarapan bersama. Tanpa perlu PDKT, dengan sendirinya kami langsung merasa akrab. Layaknya teman lama yang berjumpa kembali.
Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih delapan jam. Setelah sampai di Pos pendakian jalur Cibodas, kaki rasanya sudah tidak bisa digerakkan. Ngilu sekujur tubuh baru terasa setelah mandi dan berganti pakaian. Tapi semua lelah dan pelu terbayar dengan pengalaman, petualangan, dan pelajaran yang tak dapat diniai dengan materi.
Terima kasih teman-teman POWER RANGER!! Pak Dana, mbak Furi, bu Fiah, dan pak Syakur yang telah rela menunaikan inginku menapak di pucak gunung GEDE. Arigatou gosaimash!!! ^_^

Kamis, 12 Juni 2014

Still.

menghitung tiap detik yang berdetak,
hitam tetap pekat,
menyusur koridor dengan langkah berderap
tak berujung, gulita merengkuh tiap degup.
bahkan waktu hanyalah pajangan,
penonton dalam drama topeng yang bisu.

masih mentari yang sama,
bulan dengan senyum yang sama,
dan kalian tetap sama.
tak berubah, hitam tetap pekat.

menenteng hormat dan wibawah,
lewat berbusung dada,
membungkuk rendah, menghamba untuk mencibir di belakang punggung.
kalian tetap sama,
bermain peran di depan waktu yang tetap setia menyimak.



Senin, 09 Juni 2014

thanks for believe in me

dalam tiap tarikan nafas,
dapat ku rasakan berat bongkahan rasa yang kita hembuskan.
membaca tiap tatap dalam diam.
menerjemahkan senyum yang kadang menyelinap diantara kata.

maaf,
berkali ku hampir menyerah.
menerbangkan harap demi taat.
berkali ku hampir pasrah,
berserah, letih melawan arus.
maaf.

terkadang keras kepala ada gunanya,
dari mana kau mempelajarinya!
kau, mengapa begitu ngotot!
menyimpul tali yang berkali-kali hampir kulepas.

baiklah,
aku tak ingin menyesal.
menyesal karena takut kau tak akan pernah tahu,
harap terbesarku dalam katamu.
walau mungkin aku tak akan pernah memohon,
aku hanya berharap.

apa kau tahu wujud rasanya?
saat kau selalu berucap,
"I'm still with my decision."
seperti mendapatkan sepotong gula merah diantara penat menyusur hutan.
manis.

tak peduli seberapa sering ku coba menyayat ikatannya,
tetap jaga simpulnya,
karena harapku juga sama.
be strong to hold me. 

Senin, 21 April 2014

Kabut

malam semakin pekat.
detak jarum jam seakan meledek.
hei, mengapa aku begitu emosi,
berprasangka bahkan pada benda yang tak mengenal rasa.
rasa? heh.
tahu apa kau soal rasa?
tidak, aku tak tahu apa-apa.
aku tak tahu jika rasa bisa sedemikian kejam.
sebegitu kejam hingga membisikkan prasangka,
lewat desau angin dingin dan hamparan kabut yang membutakan.
meski semua tampak putih,
tapi semuanya tertutup.
apa yang bisa kau lihat?
tak ada, aku haya bisa berprasangka.
hanya bisa menerka dimana mentari akan terbit atau terbenam.
seperti biasa, hanya ada aku dan diriku
dalam ruang tanpa batas imajinasi.
aku tak lagi melihat diriku tegak berpijak.
tapi merasai angin dingin yang menerpa pipiku.
menikmati gigitannya hingga ke tulang dan ujung-ujung jariku.
menggapai-gapai awan putih berombak.
duhai, begitu banyak kami yang datang.
tegak berdiri.
tapi mengapa aku masih saja merasa sendiri.
apa yang aku cari?
kadang aku lelah mencari pada ribua kalimat yang berhamburan dari bibir mereka.
mencari dalam sepi yang begitu bising.
frustasi merangkai kata agar mereka dapat memahamiku dalam diamku.
haruskah kita serasi dalam kata hingga disebut harmoni?
sungguh rasa ini menyiksa!
tak terbilang berapa kali lagi aku harus membujuk diriku untuk berdamai.
Duhai, Sang Penguasa hati. Hanya Engkau yang mengetahui wujud rasa ini.
Hanya Engkau yang dapat melihat semuanya, bergerak bersama aliran darahku.
Hanya kepadaMu aku berserah diri.

Rabu, 05 Maret 2014

Rabu, 5 Maret 2014


Malam tadi adalah kali kedua tidurku tidak nyenyak semenjak berada di kota hujan ini. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku terjaga berkali-kali, menarik hp dari bawah bantal dan mendapati jam masih menuliskan angka 02.10 am, terjaga sekitar 2 menit aku kembali terlelap namun tetap saja mataku kembali melek padahal aku baru saja tidur sekitar setengah jam, begitu seterusnya setidaknya saya terjaga 5 kali sebelum akhirnya betul-betul keluar dari kepompong sleeping bag sekitar pukul setengah enam pagi.
Sebelum beranjak dari hangatnya sleeping bag, aku berfikir sebentar tentang hal yang akan ku lakukan setelah menjejakkan kaki di lantai, tapi pagi ini aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diluar rutinitasku selama setidaknya dua minggu ini.

Jalan-jalan pagi! Yup. Ide itu sebenarnya sudah kupikirkan semenjak kemarin sore, setelah percakapan hangat dengan dua kawan baruku di sekolah alam. Aku ingin mengunjungi kebun sekolah alam yang letaknya tidak jauh dari kosan. Segera saja aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi berwudhu dan sholat subuh, setelah itu dengan agak tergesah bergani kostum, celana parasut hitam, baju kaos biru, jilbab hitam, sepatu biru, dompet dan hp di masukkan ke kantong celana dan tentu saja kamera biru di kalungkan ke leher. SIP!
Setelah berjalan sekitar lima menit, menyapa satpam sekolah dan petugas bersih-bersih barulah saya masuk ke kebun sekola alam. Tidak terlalu luas tapi cukup kondusif untuk pembelajaran.
 

Kebunnya disesaki tanaman jagung yang masih mudah, pere yang buahnya masih kecil-kecil, pisang, bahkan ada juga kandang kelinci dan kambing. Di ujung kebun terdapat tempat perlengkapan, terlihat beberapa pasang boots dan peralatan berkebun lainnya.






Setelah puas memotret dan mengintip kelinci, sayapun melanjutkan langkah ke tempat selanjutnya. Tapi ‘tempat selanjutnya’ sama sekali belum tergambar di kepalaku. Jadilah saya mengikuti kemana arah kaki ini melangkah, ciaaatt… hehe.

Sebelum meninggalkan kebun, siluet bundar matahari jingga kemerahan nampak dari balik pepohonan. Entah kenapa saya tiba-tiba panik! Pikiran pertama yang terlintas adalah “saya harus cari tempat tinggi secepatnya biar bias menikmati sunrise tanpa terhalang!” tapi saying sekali sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk pohon, dan atap rumah mewah yang tinggi-tinggi, sangat mengalangi pemandangan. Saya hampir nekat memanjat tugu untuk mendapatkan potret matahari terbit tapi urung karena ada satpam yang sedang berjaga, urusannya bias ribet kalau saya dapat teguran, jadilah saya melangkan dengan tergesa keluar kebun sambil celingukan kiri-kanan mencari tempat ‘tinggi’.



Hanya trotoar sempit dan rumah padat yang saling berdesakan di kiri kanan jalan sebelum akhirnya saya menemui hamparan kebun ubi kayu, dan yang paling membuat saya frustasi adalah siluet matahari yang semakin meninggi dan warna kemerahannya yag semakin memudar tampak mengikuti langkahku dari balik daun ubi kayu. Namun saya masih terus melangkah hingga akhirnya mendapati tanah lapang tepat didepan jalan tol. Langsung saja saya mencari pose yang pas untuk mengabadikan matahari terbit di pagi ini. Tapi sayang gambarnya tidak maksimal.. Aaaarrggghh… lain kali harus datang lebih awal ke tempat ini!!!




Lepas memotret mentari pagi, saya baru tersadar akan keindahan bunga-bunga liar yang mulai bermekaran disekitar kaki saya. Tumbuhan asteraceae, mimosaseae, ilalang dan rumput liar tampak segar berbalut embun pagi. Tetesan embun yang bergelanyut di pucuk-pucuk daun tampak bening mengkristal.





Mentari semakin tinggi, waktunya balik kanan. Walau tak puas menikmati sunrise hari ini, setidaknya saya sudah menemukan tempat strategis untuk hunting foto, saya hanya perlu datang lebih awal di lain waktu, mungkin besok.. hohoho..
  
Kembali ke kosan dan mendapati cuaca hari ini tampak.. 

cerah!

Dan sambil memandang jemuran dan hanger yang bergelantungan, ada senyum yang tersembunyi dibalik desahan nafas berat, waktunya mencuci baju!