Kamis, 31 Juli 2014

Ekspedisi Gunung Gede with Power Ranger Dadakan [late post]

“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Sungguh tak ada, tak ada kata yang dapat kurangkai untuk sebuah ungkapan syukur pada Sang Pencipta selain sujud di atas puncak paku bumi beralaskan butiran pasir. Minggu 20 April 2014, saat purnama masih terang bersinar kami telah menaklukkan puncak gunung Gede. Menyambut fajar yang akan menyingsing.
Berawal dari niat, hingga berbentuk satu kalimat “ke gunung Gede” dalam buku harian, mengalir dalam percakapan yang tak sengaja, semakin deras menjadi sebuah rencana, membulat jadi tekad, batu, entah apalah namanya. Setelah sedikit kecewa karena rencana awal gagal total akibat keterlambatan booking online, frustasi karena tak bisa mendaftar online, berkali-kali menghubungi guide resmi TNGP yang tak pernah berbalas, hingga Pak Dana dan Pak Syakur nekat ke Cibodas langsung dan mendapati kantor tutup, namun apapun rintangannya, jika rezeki tak akan kemana, mereka bertemu langsung dengan Kang Agus (Guide TNGP) saat iseng berfoto di gerbang Cibodas, berbincang hangat, hingga akhirnya kabar gembira datang tak terbendung, hingga girang tak kepalang.  “kita jadi berangkat ke Gede!”
Jadilah kami berlima, aku dan mbak Furi yang memang berencana berangkat sejak rencana awal, Pak Dana yang Alhamdulillah mau diajakin setelah rencana berangkat dengan Sultan dkk gagal total, Pak Syakur yang juga diajak oleh pak Dana, dan Bu Fiah yang diajak oleh pak Syakur, sibuk merundingkan rencana keberangkatan sejak H-4. Mulai dari mendaftar perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus disiapkan, logistic dan konsumsi, hingga jadwal keberangkatan.
H-1 setelah semua perlengkapan siap, kami sepakat untuk berkumpul pukul setengah tujuh pagi di depan Masjid raya kota Bogor.

“Aku nggak yakin kalo kita bisa berangkat setengah tujuh” kata bu Fiah saat mengendarai motor sepulang dari berbelanja. Hari H pun tiba, setengah tujuh lebih tujuh menit aku masih diatas angkot, Pak Dana sudah standby depan masjid Raya. Kurang beberapa menit pukul tujuh, pak Dana dengan sepatu tentara, celana lapangan, jaket tebal, slayer hitam-putih lengkap dengan kacamata hitam terlihat duduk sambil mengobrol dengan mbak Furi di seberang jalan. Segera saja aku bergabung dengan mereka.














Kurang dua personil lagi, Pak Syakur dan Bu fiah. Setelah ku konfirmasi ternyata mereka masih di kereta. Baiklah, kami menunggu sambil berbincang ria. Beberapa menit berlalu, kami mulai bosan. Sesekali aku melirik jam dilayar handphone, pak Dana bahkan tiduran disamping jalan.



Setelah agak lama, kami iseng menebak dari angkot manakah bu Fiah dan Pak Syakur akan turun. Beberapa angkot yang terlihat menepi kearah kami lewat tanpa ada tanda-tanda dari mereka berdua, beberapa menit kemudian mereka berdua malah terlihat jalan kaki menghampiri kami.
Siip! Personil lengkap, segera saja kami berjalan menuju halte, tempat kami bisa menunggu mobil colt putih yang akan membawa kami menuju puncak Bogor

Tidak berapa lama setelah tiba dihalte, mobil colt putih jurusan puncak Bogor pun akhirnya tiba, kami segera naik dan mengambil posisi PW (Paling Wuenak). Perjalanan dari Bogor ke Puncak menghabiskan waktu sekitar empat jam. Wajarlah, hari itu adalah long weekend dan puncak adalah salah satu destinasi wisata yang banyak diminati hingga tak jarang antrian mobil mengular dijalanan sepanjang jalur menuju puncak.
Sebelum tiba di gerbang gunung putrid, kami berhenti di depan tokoh Selam*t. bukan toko itu tujuan kami, melainkan warung didepannya. Yup, makan siang, mengisi stamina sebelum memulai perjalanan. ^_^


Setelah kampung tengah terisi, kami kembali melanjutkan perjalan dengan menumpang angkot kuning yag akan membawa kami langsung menuju gerbang gunung putrid. Perjalan lumayan lancar dan kami hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hingga tiba dilokasi tujuan.
Nampaknya jalur pendakian akan ramai, dari jauh kami telah melihat beberapa rombongan pendaki yang juga sedang berkumpul di depan warung dekat pos gerbang pendakian. Saat berkenalan ternyata mereka rombongan dari UNPAD.
Semakin mendekati pos gunung putri, semakin ramai terlihat para pendaki yang memanggul carrier. Tegur sapa pun ramai terdengar. Ditengah jalan, aku mendapati bunga dandelion. Ini adalah kali pertama aku melihat langsung wujudnya dan meniup butir bunganya yang terbang seperti kapas.


Setelah menumpang shalat di pos, kami berlima berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum memulai pendakian. Sebenarnya kami ingin berfoto didepan pos tapi karena terlalu ramai, niat itu kami urungkan dan kamipun memulai langkah menyusuri jalan yang mulai menanjak.
Sebelum memasuki kawasan hutan kami sempat berhenti dua kali untuk istirahat. Maklum, kami masih dalam tahap penyesuaian. Hehe. Bukan hanya kami, tapi beberapa rombongan juga ikut beristirahat ditempat yang sama, percakapan hangat dan saling berbagi bekal membuat kami seakan menjadi saudara. Masuk areal hutan, perjalanan semakin menantang! Kami diiringi kicauan burung, bunyi serangga, dan tentu saja sorakan semangat dari para pendaki yang lain. Senyum hangat, dan tegur sapa selalu kami temui saat berpapasan dengan pendaki lainnya.
Semakin lama berjalan, beban dipundak rasanya semakin berat, dan ritme tarikan nafas juga semakin cepat. Peluh mulai membancir walau suhu udara semakin dingin. Saat tiba di pos selanjutnya, kami istirahat dengan beberapa rombongan pendaki lainnya. Ditempat inilah kami dijuluki “Power Rangers”, karena jumlah kami ada lima orang dan masing-masing kami tadinya sempat mengenakan jas hujan plastik dengan warna yang berbeda-beda.






Kami terus berjalan walau hari mulai gelap. Saat hari betul-betul gelap, kami hanya diterangi dengan cahaya senter. Beberapa kali kami sempat terpeleset akibat tanah yang licak bekas hujan. Walau letih kami tak berhenti untuk saling menyemangati. “satu..dua..semangat!!” beberapa kali kami lantunkan walau dengan nada lemah. -_-“.
Terkadang kami bertanya dengan para pendaki yang sudah turun, “surya kencana berapa jam lagi kang?” dan ada yang menjawab “deket kok, sejam lagi nyampe.” Lalu beberapa meter kemudian kami kembali bertanya pada pendaki lainnya yang datang dari arah berlawan dan kemudian dijawab “dua jam-an ada..” demi mendengar jawaban tersebut kami serasa di beri harapan palsu. Ternyata PHP bertebaran disepanjang jalan. Tapi disitulah seninya, -harapan-. Berharap segera tiba ditempat tujuan.
Sebelum tiba di tujuan tempat kami berencana mendirikan tenda, kami sempat makan malam di jalan. Kami menemuka tempat datar dipinggir jalan menanjak. Kami membongkar carrier dan mulai riweh dengan proses masak-masak. Pada saat inilah kami mulai merasa dingin. Mbak furi bahkan berjalan mengitari carrier berkali-kali di sepanjang lahan landai tempat kami memasak. Pak Syakur dan pak Dana juga mencoba untuk membakar beberapa ranting dan sampah tapi gagal karena rantingnya basah selepas hujan tadi. Saat kompor sudah menyala kami duduk mengitari kompor, mencari kehangatan.
Tak lama kemudian nasi, mie rebus dan ikan sarden matang. Kamipun mulai menyantap hidangan dengan tangan yang agak gemetar menahan dingin. Aku tidak terlalu menikmati makanannya dan hanya bisa memasukkan tiga sendok nasi kemulutku yang juga susah payah kutelan. Ditengah sibuknya kami bersantap, tak sengaja mbak furi bergerak dan menyenggol tas bu Fiah yang berdiri tepat disamping jalan jalur pendakian. Kami awalnya bengong dan hanya melihat tas tersebut bergelinding jatuh dan menimbulkan bunyi gedebuk. Nanti setelah bu Fiah berseru “Tas ku!” kami mulai ngngeh. Kami awalnya menunggu tas tersebut berhenti berbunyi yang artinya ia sudah berhenti bergelinding. Tapi semakin semakin lama kami menunggu, tas tersebut tidak juga berhenti bergelinding. Karena takut tasnya nanti bisa jatuh ke jurang, pak Dana segera kembali TURUN mengejar tas tersebut. Untung saja tas tersebut tersangkut dipepohonan sehingga pak Dana tidak perlu turun terlalu jauh dan tentu saja tidak perlu mendaki lagi terlalu jauh. Setelah dicek, syukurlah tak ada satu barangpun yang hilang walau tas tersebut jatuh dalam keadaan tidak tertutup.
Aku tidak begitu menikmati makan malam di bawah bulan waktu itu, entahlah sepertinya ikan sarden tidak mampu membuat lidahku bergoyang. Beberapa saat setelah makan malam, kami kemali melanjutkan pendakian. Sekitar satu setengah jam perjalanan aku merasa mual dan beberapa meter kemudian, makanan yang tadi kupaksakan masuk tak dapat kutahan lagi, keluar kembali. Untunglah aku sempat mengambil jalan agak kepinggir hingga nasi yang telah menjadi bubur dapat mendarat di semak2 dan tidak mengganggu pendaki lainnya.
Setelah minum air putih dan obat masuk angin, aku kembali berjalan, namun beberapa meter kemudian, ternyata masih ada makanan yang memaksa keluar. Kuhabiskan saja semua yang tersisa didalam perutku, hingga pekat dan pahit bercampur ditenggorokan. Setalah betul-betul habis, barulah kurasakan dingin yang teramat mulai menusuk-nusuk kulit hingga membuatku menggigil. Awalnya aku sangat takut terkena hipotermia, tapi untung saja mbak furi dan bu Fiah terus memaksaku untuk bergerak dan mencari tempat hangat. Mereka bahkan harus mendengar ocehanku yang keuar egitu saja disela-sela bunyi gemelutuk gigiku menahan dingin.
sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Keesokan harinya, sebuah hadiah menanti dibalik tenda. Lukisan maha indah terbentang didepan mata! Hamparan bunga edelweiss, dan tumuhan liar lainnya yang warna-warni, awan yang tampak begitu dekat, dan puncak gunung yang tampak meliuk-liuk.
























Puas menikmati pemandangan pagi yang sejuk, waktunya memenuhi kebutuhan gizi. Kami segera berbagi tuga. Aku dan bu Fiah menyiapkan sarapan, mbak Furi menjemur semua barang yang basah. Bapak-bapak entah mengerjakan apa…



And we were proudly present….


Kami berlima sepakat, ada beberapa surga dan kenikmatan terindah saat mendaki. Jalanan lurus  atau turunan, dan tentu saja kehangatan, alias makanan hangat dan minuman seduh. ^_^  sarapan beres, cuci piring sudah, waktunya mengepak barang. Kami akan pindah lokasi camping. Mencari sepetak tanah dari luasnya padang di Surya kencana. Rencananya kami akan camping tepat didekat kaki gunung Gede, sehingga akan memudahkan kami jika mulai muncak.
 Power ranger siap melanjutkan perjalan. Hohoho…



Setelah berjalan kurang dari sejam, akhirnya kami menemukan tempat strategis untuk mendirikan tenda. Kriteria lokasi strategis menurut kami adalah, banyak pohon yang dapat menahan terpaan angin dingin, dekat dengan semak yang lumayan lebat, tempat kami “ehem”. Hehehe ^_~


Sore di Surya Kencana, menjadi fotografer relawan untuk acara pra wedding bu Fiah dan Pak Syakur. Berlatarkan dua puncak gunung, udara sejuk yang kadang memaksa tangan merpatkan jaket, hamparan rumput, ilalang dan edelweis dengan gradasi warna lembut yang serasi, coklat muda, hijau, putih. Serta kabut yang kadang lewat menyapa. Melihat mereka berpose, rasanya bagaikan “……….”.


Dalam moment seperti ini, aku juga tentu saja akan mengabadikan gambar diri dalam panorama indah ini, tak apa, walau sendiri. Haha.


Senja mulai menjelang. Perubahan warna dilangit mulai terlihat, dan kami juga mulai menyiapkan santap malam. Di tengah-tengah kesibukan kami mengolah bumbu instant, tak dapat kulewatkan rasanya moment senja di padang ini. Segera saja aku berlari begitu saja menghampiri senja yang mulai terbenam meninggalkan bu Fiah dan mbak furi yang tetap asik memasak.


Langit mulai menghitam, dan malampun semakin pekat. Setelah semua hajat pribadi tertunaikan, waktunya memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Rasanya belum terlalu lama saat mataku terpejam, aku sudah terbangun dan mendapati bu Fiah dan mbak Furi yang nampak berkali-kali merapatkan sleeping bag ke tubuhnya dan kami bertigapun semakin merapat dan menggigil bersama.
Saat kami coba mengintip dari balik tenda, suasa di luar nampak terang. Tidak seperti malam pekat biasanya. Sehingga kami menira hari telah menjelang pagi. Setelah ku cek jam, ternyata masih pukul satu malam. Yup, bulan sedang bersinar terang malam itu. Ditambah tak adanya polusi cahaya yang menandingi sinar bulan, suasana malam itu sangat indah. Bintangpun bagaikan kismis yang ditabur di atas hitamnya langit yang maha luas. Sekitar kurang lebih satu jam kami meringkuk kedinginan sambil duduk saling merapat, kami memutuskan untuk membangunkan bapak-bapak dan bersiap berangkat menuju puncak.
Setengah jam kemudian, kami telah selesai mengepak barang dan siap berangkat. Setelah doa bersama, kami mulai menjejak langkah pertama menuju puncak dalam formasi yang telah kami susun. Kami memperkirakan akan lama perjalanan ke puncak akan menyita waktu kurang lebih dua sampai tiga jam. Namun ternyata kami hanya berjalan selama kurang lebih satu jam. Demi melihat papan bertuliskan “PUNCAK GEDE”, semua rasa lelah lenyap seketika! Tergantikan oleh indahnya lautan cahaya yang tersaji di depan mata.



Sambil menunggu waktu subuh, kami kembali memongkar carrier, mengeluarkan peralatan masak dan tentu saja, menyeduh air hangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada minum minuman hangat di puncak gunung saat suhu betul-betul menggeliitik tulang! ^_^
Masuk waktu subuh, beberapa pendaki melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan beberapa jam kemudian, sinar merah mulai merekah diangkasa. Inilah moment yang paling ditunggu, menyaksikan sunrise dari puncak gunung.


Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!



Tidak lama kemudian, kami mulai turun melewati jalur Cibodas. Turunan memang betul-betul kenikmatan terindah setelah lelah menapaki tanjakan. Langkah kami berderap-derap lincah melewati turunan sambil berpegangan pada batang-batang pohon. Sekitar pukul delapan pagi, kami rehat sejenak untuk sarapan. Satu hal yang disepakati oleh semua pendaki adalah, “semua pendaki adalah saudara” sehingga senyum dan kalimat perhatian bertebaran disepanjang jalan saat kami berpapasan ataupun melewati pendaki lainnya. Begitu pula saat sarapan, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki asal Jakarta, dan segera saja kami ajak sarapan bersama. Tanpa perlu PDKT, dengan sendirinya kami langsung merasa akrab. Layaknya teman lama yang berjumpa kembali.
Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih delapan jam. Setelah sampai di Pos pendakian jalur Cibodas, kaki rasanya sudah tidak bisa digerakkan. Ngilu sekujur tubuh baru terasa setelah mandi dan berganti pakaian. Tapi semua lelah dan pelu terbayar dengan pengalaman, petualangan, dan pelajaran yang tak dapat diniai dengan materi.
Terima kasih teman-teman POWER RANGER!! Pak Dana, mbak Furi, bu Fiah, dan pak Syakur yang telah rela menunaikan inginku menapak di pucak gunung GEDE. Arigatou gosaimash!!! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar