Minggu, 27 Oktober 2013

Tanpa Judul

Harus ku akui bahwa sulit memutuskan untuk mengakhiri sebuah kebiasaan. Namanya juga terbiasa, memutuskan untuk berhenti terbiasa rasanya seperti kehilangan sesuatu. selalu ada yang aneh. seperti sekarang, mungkin ini akan menjadi yang terakhir setelah puluhan tulisan cengeng dan penuh keluhan dalam blog ini. aku memutuskan untuk tidak akan menumpahkan keluhan, protes, atau hal-hal cengeng lainnya di blog ini, tidak juga pada siapapun. (kalian boleh berteriak horee sekencang-kencangnya karena kalian akhirnya terbebas dari tulisan-tulisan egois tidak penting ku). 
Aku sepenuhnya sadar kalau setiap orang pastilah punya masalahnya masing-masing, dan maaf karena selama ini tulisan-tulisan tidak pentingku mungkin terpaksa kalian baca dan mungkin sedikit menambah masalah pada kalian, (meskipun saya tidak pernah memaksa kalian untuk membacanya). Aku juga tahu kalau tidak semua orang mau menyimak meskipun mereka bisa mendengar, jadi untuk apa repot-repot bercerita? 
Once I read that, "tersenyumlah maka dunia akan ikut tersenyum, dan jika kau bersedih maka kau akan menangis sendiri". iyakan? memangnya kalian mau ikut-ikutan nangis? memangnya kalian mau nambah masalah? memangnya kalian rela waktunya habis hanya untuk mendengar cerita yang tidak pernah penting? sudahlah, aku atau mungkin kalian juga terbiasa mendengar ungkapan "itukan derita mu!" so, who's care about something? nobody! 
biarlah semua ku simpan sendiri, mungkin semuanya hanya akan mengendap atau sesekali luluh dalam isak diam. mungkin rasanya akan seperti gatal yang tidak bisa digaruk, hmmm can you imagine that? hahaha..
So, this will be the last.
Thanks. ^_^

Kamis, 24 Oktober 2013

I DO!

It's just a wishful thinking.
so what's wrong?
but I know that it's totally useless.
it's not something that i need, i just want it.
and it's clearly different.

it's just much up my mind!
i don't know how this thing is harder than usual.
It was easy to give several logic reason.
I did rather well.
but now?
I wish I could be more patient.
d*mn it!

Minggu, 06 Oktober 2013

Welcome!

Terimah kasih.
Setelah kering dan terik,
akhirnya rinai ini kembali menyapa.
membersihkan atmosfir yang begitu menyesakkan.
menyuguhkan sejuk dan sendu,
menyembuhkan sembilu.
mengabarkan gembira.


"Hujan yang bermanfaat" Amin.

Kamis, 03 Oktober 2013

friend in silence.

Hei kau.
Iya, kamu.
kemarilah dan duduk di depanku.
jika saja kau bisa mengindera,
karena aku hanya ingin mengutarakan semuanya lewat tatap.
karena lidah terkadang keterlaluan dan tulisan biasanya hiperbolis.
tapi bagaimana lagi?
bagaimana harus ku bertingkah?
sepertinya ini semakin runyam.
karena aku sebegitu egoisnya,
dan puluhan kalimat menuntut kesempurnaan seakan menari dalam kepalaku.
kalimat itu seakan mengejek ku.
aku?
iya, pantaskah kala aku sendiri tersasar dalam ruang imajinasi?
dunia yang ku ciptakan sendiri?
dan tak sadar jika aku hanya menuntut aku, diriku sendiri.

hei kau,
jangan paksa ku untuk meminta dua kali.
sudah kukatakan susah untuk memperkecil ukuran ego-ku.
jadi tetaplah disini.
ditempat ini.
tolong jangan pernah paksa ku untuk memohon,
duduklah lebih lama,
karena bisa saja tak ada lagi waktu yang lebih lama
temani aku, ya?
meski tak ada kata yang terucap.
itu sudah lebih dari cukup.
entah, bagaimana.
aku rindu.
kamu.




(ini hanyalah sepenggal rasa yang berceceran dalam tiap derap langkah tergesah, hanya sepotong asa dalam letih tak terperih, atau mungkin hanya coretan yang tak termaknai)

A letter in a bottle

You’re not the best, you’re just special

Kau resmi menanggalkan angka belasan di usiamu.
Semoga syukur adalah kata pertama yang terucap,
saat kesempatan untuk menghirup udara masih bisa kita nikmati.
Bertambah usia dalam hitungan kita, berkurang pula usia dalam hitungan-Nya.
Semoga detik ini dan menit-menit berikutnya,
dapat menjadikan kita lebih tegap berdiri dengan tunduk dijalan-Nya.
Semoga usia kita dipanjangkan,
Agar dapat lebih bersyukur,
Agar dapat lebih bermanfaat,
Dan tentu saja agar dapat lebih memperbanyak ibadah karena-Nya.
Dan sekarang marilah kembali bersyukur karena kita masih diberi nikmat Iman, dan semoga tak pudar hingga detaknya berhenti.
Amin.

September, 2013.

What I've done?

Ibarat menulis surat lalu menggulungnya dan dimasukkan kedalam botol, kemudian melemparnya sekuat tenaga menuju ombak yang kemudian menghempaskannya ke sudut pantai lain.
Sebesar apapun harapan akan surat itu sampai pada orang yang dituju, tetap saja kemungkinnya hampir mustahil surat itu ditemukan oleh orang yang dimaksud. Bisa saja suratnya tak pernah mencapai pantai, hanya mengapung ditengah lautan, terjerat bersama sampah lainnya. 

dan rasa ini seperti buih ombak yang lebur menghempas karang dan pasir pantai. Berderai tanpa sempat sadar kalau jutaan gelembung kecilnya telah meletus dan raib. 
lalu apa gunanya merangkai kata jika suratnya tak akan pernah sampai ten? It was too late.