Kamis, 03 Oktober 2013

friend in silence.

Hei kau.
Iya, kamu.
kemarilah dan duduk di depanku.
jika saja kau bisa mengindera,
karena aku hanya ingin mengutarakan semuanya lewat tatap.
karena lidah terkadang keterlaluan dan tulisan biasanya hiperbolis.
tapi bagaimana lagi?
bagaimana harus ku bertingkah?
sepertinya ini semakin runyam.
karena aku sebegitu egoisnya,
dan puluhan kalimat menuntut kesempurnaan seakan menari dalam kepalaku.
kalimat itu seakan mengejek ku.
aku?
iya, pantaskah kala aku sendiri tersasar dalam ruang imajinasi?
dunia yang ku ciptakan sendiri?
dan tak sadar jika aku hanya menuntut aku, diriku sendiri.

hei kau,
jangan paksa ku untuk meminta dua kali.
sudah kukatakan susah untuk memperkecil ukuran ego-ku.
jadi tetaplah disini.
ditempat ini.
tolong jangan pernah paksa ku untuk memohon,
duduklah lebih lama,
karena bisa saja tak ada lagi waktu yang lebih lama
temani aku, ya?
meski tak ada kata yang terucap.
itu sudah lebih dari cukup.
entah, bagaimana.
aku rindu.
kamu.




(ini hanyalah sepenggal rasa yang berceceran dalam tiap derap langkah tergesah, hanya sepotong asa dalam letih tak terperih, atau mungkin hanya coretan yang tak termaknai)

1 komentar:

  1. atau bisa saja coretan penuh makna yang tak terakui oleh rasa..

    BalasHapus