-Merah Putih-
Merah, semerah darah.
darah yang mana duhai negeriku?
darah yang menetes di jalan-jalan dan lorong-lorong sempit?
darah yang ditumpahkan para begal begundal?
darah yang berceceran dijalan-jalan raya akibat tabrak lari?
darah yang diperas habis oleh mereka yang dengan bangga mengaku manusia?
darah yang mana wahai bangsaku?
Putih,
apakah putih yang bermain-main dengan hukum?
atau komplotan kerah putih yang mirip kera?
Merdeka.
Merdeka kata siapa?
kata para koruptor yang merdeka dari jerat hukum?
atau kata para selebriti yang merdeka dari larangan pornografi?
kata siaran gossip yang merdeka, medesis menyebar aib?
kapan kita merdeka?
apa ketika habis semua alam Indonesia ditebang?
atau ketika bumi Indonesia berluabang semua?
atau mungkin ketika semua orang miskin mati kelapan dan semua orang kaya bermandi uang?
Semoga para pahlawan tak meneteskan darah mereka dengan sia-sia.
adakah kita mengerti rasanya merdeka?
the raindrop
Minggu, 16 Agustus 2015
Senin, 06 Juli 2015
Menanti Fajar
kenalkan kawan baruku,
kunamai dia sunyi.
kami duduk berdua dalam bayangan pohon jati.
berselimut dingin.
memandang langit yang sama,
ku cari bulan yang mulai tersenyum
tapi tak kutemui.
hanya pekat langit yang mulai pudar.
kamipun menanti mentari bersama,
meski kicau burung satu-satu kadang mengusik sunyi.
namun ia tetap disampingku.
ketika daun-daun gugur, lalu menari bersama angin.ketika bulir embun berkilau,
ketika mentari melukis senja,
dan ketika fajar mulai terbit.
hanya sunyi.
tak ada yang lain yang lebih mengerti,
senyum dan binar yang kadang terselip.
betul-betul hanya sunyi.
begitulah,
terkadang kami lebih menikmati semuanya bersama.
walau ada sedikit harap yang kadang terlintas,
adakah seorang yang lebih mengerti dan sabar daripada sunyi,
tapi lagi, aku selalu tak tahan dengan bising dikepalaku.
hingga ku dapati diriku masih disini,
terduduk bersama sunyi.
kami saling bercerita dalam diam.
menikmati sepi dan mentari yang sebentar lagi menyapa.
kunamai dia sunyi.
kami duduk berdua dalam bayangan pohon jati.
berselimut dingin.
memandang langit yang sama,
ku cari bulan yang mulai tersenyum
tapi tak kutemui.
hanya pekat langit yang mulai pudar.
kamipun menanti mentari bersama,
meski kicau burung satu-satu kadang mengusik sunyi.
namun ia tetap disampingku.
ketika daun-daun gugur, lalu menari bersama angin.ketika bulir embun berkilau,
ketika mentari melukis senja,
dan ketika fajar mulai terbit.
hanya sunyi.
tak ada yang lain yang lebih mengerti,
senyum dan binar yang kadang terselip.
betul-betul hanya sunyi.
begitulah,
terkadang kami lebih menikmati semuanya bersama.
walau ada sedikit harap yang kadang terlintas,
adakah seorang yang lebih mengerti dan sabar daripada sunyi,
tapi lagi, aku selalu tak tahan dengan bising dikepalaku.
hingga ku dapati diriku masih disini,
terduduk bersama sunyi.
kami saling bercerita dalam diam.
menikmati sepi dan mentari yang sebentar lagi menyapa.
Senin, 22 Juni 2015
Boared
hei, kau! iya, dirimu. lihatlah, wajah kusut dan pundak yang membungkuk.
Apa kau menamakan dirimu pemuda?
haha, lihat dengan seksama.
kau seperti mayat hidup.
kulit pucat dan mata sayu.
ada apa dengan mu?
apa kau merasa bosan? ya, akupun bosan denganmu.
aku bosan melihat dirimu yang selalu merasa bosan.
aku tahu bahwa kau tahu,
kau tahu apa yang harus kau lakukan.
tapi aku tak pernah bisa mengerti,
mengapa kau tak juga melakukan apa yang harus kau lakukan.
apa lagi-lagi karena kau bosan?
hei,
tegaplah.
jauhkan wajah murung itu dari hadapanku.
mungkin kau harus benar-benar pergi,
melangkahkan kakimu ke suatu tempat.
aku percaya, kau selalu tahu jalan pulang.
pergilah,
karena aku akan selalu bersamamu.
hei, mengapa kau tak bergerak juga?
apa bebannya terlalu berat?
jika iya, kau hanya butuh lebih kuat.
hei, ayolah..
aku tahu.
aku tahu kau selalu tahu apa yang harus kau lakukan.
baiklah, aku tak akan memaksamu,
aku hanya ingin kau tahu,
aku selalu ada dalam dirimu,
kapanpun kau megadu,
aku akan selalu mendengarmu.
Apa kau menamakan dirimu pemuda?
haha, lihat dengan seksama.
kau seperti mayat hidup.
kulit pucat dan mata sayu.
ada apa dengan mu?
apa kau merasa bosan? ya, akupun bosan denganmu.
aku bosan melihat dirimu yang selalu merasa bosan.
aku tahu bahwa kau tahu,
kau tahu apa yang harus kau lakukan.
tapi aku tak pernah bisa mengerti,
mengapa kau tak juga melakukan apa yang harus kau lakukan.
apa lagi-lagi karena kau bosan?
hei,
tegaplah.
jauhkan wajah murung itu dari hadapanku.
mungkin kau harus benar-benar pergi,
melangkahkan kakimu ke suatu tempat.
aku percaya, kau selalu tahu jalan pulang.
pergilah,
karena aku akan selalu bersamamu.
hei, mengapa kau tak bergerak juga?
apa bebannya terlalu berat?
jika iya, kau hanya butuh lebih kuat.
hei, ayolah..
aku tahu.
aku tahu kau selalu tahu apa yang harus kau lakukan.
baiklah, aku tak akan memaksamu,
aku hanya ingin kau tahu,
aku selalu ada dalam dirimu,
kapanpun kau megadu,
aku akan selalu mendengarmu.
Rabu, 25 Maret 2015
It is always be OK.
hei, lama tak bersua..
sepertinya dirimu sudah dipenuhi debu,
dekil tak terawat.. maaf..
akhir-akhir ini aku begitu sibuk,
entah betul-betul sibuk atau mencari kesibukan..
ya, kuakaui aku sudah teramat jarang berbincang dengan mu,
dengan diriku yang aku,
apa kabar mu?
kau pasti kesepian..
semua rutinitas dan kegiatan ini membuatku jarang menemuimu.
maaf karena terlalu sering mengabikanmu,
karena kadang menutup telinga dari jeritanmu,
sungguh, maaf.
apa kau bertanya-tanya mengapa aku kembali?
bukan, bukan karena aku lari dari mereka, tidak.
aku hanya merindukanmu,
merindukan diriku.
rasanya kau begitu jauh untuk kurengkuh,
walau kutahu, kau selalu ada untuk ku.
maukah kau mendengarku, lagi?
meski kutahu, kau selalu tahu.
aku hanya ingin mengutarakannya,
membiarkannya keluar dan hilang terbawa angin.
tak apa kan? kumohon.
aku hanya tak ingin mereka mencecap sembilu.
meski aku harus bersusah payah bungkam dan tersenyum
dari sakit yang mengiris-iris.
dan tentu saja, maaf untuk mengabaikan isakmu, maaf.
bukannya aku tak peduli atau mengabaikan dirimu,
kau tahu, kan..
aku takut kehilangan mereka, lagi..
meski kutahu, kau tak pernah pergi meninggalkanku.
tak apa, kan?
mereka hanya belum mengerti,
tapi aku yakin mereka akan paham entah kapan..
walau mungkin di saat aku melepasnya pergi,
aku lelah dengan semua kehilangan yang telah lalu
aku akan terus mencoba untuk menjaga apa yang ada padaku sekarang ini,
meski kadang untuk diam dan tersenyumpun aku sudah teramat lelah,
dan lagi, mengabaikanmu yang terus meronta..
hei, kau terus saja bertanya, sampai kapan?
sampai kapan aku akan menyimpannya?
sampai kapan aku membiarkan lumpur mengotori sudut hatiku?
aku juga tak tahu sampai kapan.
entah sampai kapan mereka akan mengerti..
berkali-kali aku mencoba untuk menjelaskannya,
namun, akhirnya aku harus kembali terdiam,
dan menyeretmu untuk menjauh..
mengapa?
karena aku tak ingin mereka meledak dan hilang,
karena aku tak tahan dengan segala macam sindiran, cibiran, olok-olok
bahkan diamnya yang mencekik.
tak apa, aku kembali terdiam,
mereka hanya belum mengerti..
tak apa,
aku tidak marah, pun jengkel..
aku hanya lelah..
namun tak apa,
jika nanti kita harus kembali pergi,
merelakan mereka mejauh, lagi.
bukankah aku selalu memilikimu..
aku yakin, kita akan dipertemukan dengan mereka,
mereka yang mengerti, dengan pemahaman yang baik.
tak apa jika sekarang aku harus diam, dan menunggu..
akupu harus belajar lebih sabar,
atau mungkin aku yang tidak mengerti mereka?
ah, betapa jahatnya aku.
mementingkan diriku,
sungguh, mungkin tak apa,
setidaknya aku selalu bersamu,
kuharap diam membuat mereka berfikir dan mengerti.
kita hanya butuh untuk bersabar.
sepertinya dirimu sudah dipenuhi debu,
dekil tak terawat.. maaf..
akhir-akhir ini aku begitu sibuk,
entah betul-betul sibuk atau mencari kesibukan..
ya, kuakaui aku sudah teramat jarang berbincang dengan mu,
dengan diriku yang aku,
apa kabar mu?
kau pasti kesepian..
semua rutinitas dan kegiatan ini membuatku jarang menemuimu.
maaf karena terlalu sering mengabikanmu,
karena kadang menutup telinga dari jeritanmu,
sungguh, maaf.
apa kau bertanya-tanya mengapa aku kembali?
bukan, bukan karena aku lari dari mereka, tidak.
aku hanya merindukanmu,
merindukan diriku.
rasanya kau begitu jauh untuk kurengkuh,
walau kutahu, kau selalu ada untuk ku.
maukah kau mendengarku, lagi?
meski kutahu, kau selalu tahu.
aku hanya ingin mengutarakannya,
membiarkannya keluar dan hilang terbawa angin.
tak apa kan? kumohon.
aku hanya tak ingin mereka mencecap sembilu.
meski aku harus bersusah payah bungkam dan tersenyum
dari sakit yang mengiris-iris.
dan tentu saja, maaf untuk mengabaikan isakmu, maaf.
bukannya aku tak peduli atau mengabaikan dirimu,
kau tahu, kan..
aku takut kehilangan mereka, lagi..
meski kutahu, kau tak pernah pergi meninggalkanku.
tak apa, kan?
mereka hanya belum mengerti,
tapi aku yakin mereka akan paham entah kapan..
walau mungkin di saat aku melepasnya pergi,
aku lelah dengan semua kehilangan yang telah lalu
aku akan terus mencoba untuk menjaga apa yang ada padaku sekarang ini,
meski kadang untuk diam dan tersenyumpun aku sudah teramat lelah,
dan lagi, mengabaikanmu yang terus meronta..
hei, kau terus saja bertanya, sampai kapan?
sampai kapan aku akan menyimpannya?
sampai kapan aku membiarkan lumpur mengotori sudut hatiku?
aku juga tak tahu sampai kapan.
entah sampai kapan mereka akan mengerti..
berkali-kali aku mencoba untuk menjelaskannya,
namun, akhirnya aku harus kembali terdiam,
dan menyeretmu untuk menjauh..
mengapa?
karena aku tak ingin mereka meledak dan hilang,
karena aku tak tahan dengan segala macam sindiran, cibiran, olok-olok
bahkan diamnya yang mencekik.
tak apa, aku kembali terdiam,
mereka hanya belum mengerti..
tak apa,
aku tidak marah, pun jengkel..
aku hanya lelah..
namun tak apa,
jika nanti kita harus kembali pergi,
merelakan mereka mejauh, lagi.
bukankah aku selalu memilikimu..
aku yakin, kita akan dipertemukan dengan mereka,
mereka yang mengerti, dengan pemahaman yang baik.
tak apa jika sekarang aku harus diam, dan menunggu..
akupu harus belajar lebih sabar,
atau mungkin aku yang tidak mengerti mereka?
ah, betapa jahatnya aku.
mementingkan diriku,
sungguh, mungkin tak apa,
setidaknya aku selalu bersamu,
kuharap diam membuat mereka berfikir dan mengerti.
kita hanya butuh untuk bersabar.
Jumat, 02 Januari 2015
new year.
Jangan tanya
bagaimanaku menyambut tahun baru,
Bagiku tak
ada yang spesial,
Hanya sebatas
pagi yang terbit menyelimuti lelah malam.
Lalu kalender
berganti, namun hitungannya tetap sama, satu hari, dua puluh empat jam.
Tetiba terbangun
gegara suara petasan yang membuat telinga pekak,
Tak satu
namun ratusan, salak menyalak memecah keheningan malam.
Menerobos
gerimis yang coba meredam api yang bermekaran.
Indah,
mungkin.
Tapi kawan,
aku lebih menikmati langit pekat bertabur bintang,
Jika saja
kau bertanya.
Dengan bulan
yang tersenyum sabit tanpa awan.
Dan aku
mulai melamun, hampir saja membual.
Menunggu
pagi yang berderit begitu berat.
Menunggu
hening memecah hiruk.
Menunggu,
dalam hangat dekapan selimut dan guling,
Menunggu,
Menyisakan
ruang kosong yang terasa dingin.
Minggu, 16 November 2014
Anugrah dapat Anugra (Anu gratis)!
25 Oktober 2014
selepas shalat duhur, kami menantang terik menuju pelabuhan Lappa, Sinjai Utara. Bermodal Satu tas ransel yang tampak gembung, dan dua kantong toples kosong, serta gumpalan nekat dan tekad, kami siap tersesat. Tiba di Pelabuhan, kami tidak langsung menaiki kapal, namun terlebih dahulu bertanya pada salah satu ABK,
"pak, ini kapal yang mau ke pulau sembilan?"
"iya, ini. sudah hampir berangkat. mau ke pulau mana?"
"ke pulau sembilan pak!"
"iya, pulau sembilan yang mana, ada sembilan pulau, mau ke pulau yang mana?"
"hmmmm, kalo ini kapal mau ke pulau mana pak?
"ke pulau kanalo."
"kalo pulau yang pasir putih pulau apa pak?"
"semua pulau pasir putih."
"kalo pulau yang karang-karangnya masih bagus yang mana pak?"
"kanalo juga bagus, kambuno juga.."
"hmm.. kemana ya.." "bentar ya pak," kataku kemudian sambil meninggalkan pria itu yang kemudian melanjutkan mengangkat barang ke atas kapal.
setelah berdiskusi (lebih tepatnya bingung bersama) dengan, sebut saja ia men, kami memutuskan untuk menaiki kapal yang sebentar lagi akan lepas jangkar, dengan alasan agar kami tiba di pulau (yang entah apa namanya) tidak kemalaman.
kami akhirnya menaiki kapal yang tadi ABK nya sabar melayani pertanyaanku. Kamipun memilih posisi duduk yang nyaman di lambung kapal. Setelah duduk agak lama, mungkin puluhan menit, kapal belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. kami mulai bosan dan sedikit pening karena kapal bergoyang-goyang dimainkan ombak. Di dekat kami juga ada beberapa pria dewasa yang dengan sabar duduk menunggu.
"katanya tadi mau ke pulau kambuno?" tanya seorang pria yang duduk didekat kami. Sebelum naik ke kapal ia sempat bertanya padaku tentang pulau tujuan kami, yang kujawab pulau kambuno, tapi sebetulnya saya juga kurang yakin tentang pulau mana yang akan kami tuju.
"iya kak." kataku singkat.
"kapal ini mau ke pulau kanalo, kalo kambuno yang kapal disana." katanya menjelaskan.
"oh, hehe. kanalo kalo begitu kak." jawabku sambil tersenyum sedikit malu-malu.
"kami naik kapal yang sudah mau berangkat saja kak." jawab men.
pria itu hanya nampak menangguk, mungkin heran mendengar jawaban kami.
beberapa menit kemudian, kapal mulai bergetar karena mesin sudah dinyalakan. Namun, kapal belum langsung berangkat. Kami masih harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi barulah kapal mulai bergerak perlahan. Di atas kapal, kami menghabiskan waktu terkadang dengan berbincang, duduk tanpa suara, namun lebih lama kami habiskan dengan tidur.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk naik ke atap kapal, mencari suasana baru. Ternyata ada beberapa orang yang juga berada disana. Kami duduk di bagian belakang sambil menggunakan jaket untuk berteduh, sesekali memicingkan mata menahan terik.
"kalau sampe di pulau mau tidur dimana?" tanya pria yang tadi duduk di dekat kami dan sekarang juga masih dekat dengan kami.
"di pulau tidak ada penginapan kah kak?" kataku balik bertanya.
"kalo di kanalo tidak ada."
"hmm, mungkin cari mesjid saja. atau kalo ada kapal yang balik sore mungkin langsung balik ji." kata men.
"tinggal di rumah saudara saya saja di sana." katanya menawarkan.
awalnya kami hanya menanggapi tawaran kakak (saya lupa namanya siapa) dengan tersenyum. Namun, saat tiba di pulau, ia betulan mengajak kami ke rumah saudaranya yang lokasinya tepat disamping laut. Saya hanya bisa mengikut, entah kaget, senang, atau heran, tiba-tiba di tawari tempat berteduh dan disuguhi teh hangat, kue dan sepiring semangka. Kami bahkan di berikan kamar untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan kami.
setelah shalat ashar, kami berbincang di beranda rumahnya yang hampir dipenuhi oleh teripang kering. Belakangan kami tahu ternyata kakak adalah seorang penyelam. Namun bukan seperti para penyelam scuba dive, kakak adalah pencari teripang yang menyelam dengan menggunakan kompresor untuk bernafas, tanpa menggunakan baju selam! Penyelamanpun dilakukan saat malam hari.
setelah berbincang sambil menikmati biskuit dan teh, kakak menawarkan diri menemani kami ke laut untuk mencari beberapa spesies hewan laut yang akan kami jadikan awetan basah di sekolah tempat kami KKN-PPL. Namun, bukan hanya kakak, ia juga mengajak satu ponakan dan adik perempuannya untuk ikut dengan kami. Kami ke lokasi menggunakan perahu miliknya. Setelah tiba dilokasi, saya, adik dan ponakan kakak mulai turun ke air yang ternyata lumayan dalam (untuk ukuran saya yang belum terlalu kuat mengapung), mungkin sekitar dua meter. Sementara kakak dan men tetap di atas perahu.
Setelah beberapa menit menceburkan diri, Aldi, nama ponakan kakak membawa dua bintang raja ke atas perahu. tidak lama kemudian, ia juga mengambilkan kami bulu babi. sementara saya dan adik perempuan kakak hanya berenang-renang di pinggir perahu. kami sama-sama kurang bernyali untuk menyelam. Kami juga meminta untuk di ambilkan karang mati, namun Aldi terlanjur mematahkan karang hidup dan membawanya naik ke perahu. Setelah merasa cukup, kami semua naik ke perahu yang tidak semudah kelihatannya. Saya harus dipegangi dan ditarik agar dapat naik.
tiba dirumah, mereka mempersilahkan kami untuk membersihkan badan. setelah mandi, saya dan men bergegas ke dermaga. Kami tidak ingin meninggalkan potret matahari yang sudah mulai terbenam. kamipun menikmati matahari yang perlahan tenggelam hingga sepenuhnya terbenam. Hanya meninggalkan siluet pulau dan warna keemasan di langit.
Saat malam, keluarga kakak repot-repot menyediakan kami makan malam. Mereka sampai memanggil dan mengajak kami hingga kami duduk di kursi. Awalnya mereka hanya mempersilahkan kami berdua namun saya meminta mereka agar makan bersama saja. Akhirnya kami ditemani kak wati dan adik perempuannya. Kaum laki-laki kemudian makan setelah kami.
tidak hanya makan malam, mereka bahkan menyediakan kami pisang goreng dan segelas teh hangat setelah mengajak kami menonton bersama di ruang keluarga mereka. Senang sekali rasanya berada ditengah keluarga mereka. melihat mereka berbincang, bernego tentang siaran yang ingin mereka tonton, tertawa bersama. saya tiba-tiba rindu rumah. Teringat masa-masa SD saat keluargaku juga berbaring bersama diruang keluarga, menonton bersama atau sekedar berbagi cerita.
setelah agak larut, kamipun memilih untuk beristirahat duluan.
Saat subuh, debur ombak terdengar lembut menyapa pantai. Setelah shalat, kami memilih tetap di dalam rumah sambil menunggu yang lain bangun. hari ini kami berencana pulang dengan menumpang kapal yang kami tumpangi kemarin. Namun sebelum itu, kami menyempatkan diri berjalan menyusur pantai untuk kembali mencari beberapa spesies hewan laut. Sebelum turun, kami kembali disuguhi kue dan segelas teh hangat sebagai sarapan.
air laut surut cukup jauh. kami berjalan di atas pasir putih yang nampak bergelombang. sesekali berhenti dan menggali pasir, berharap menemukan hewan laut yang bersembunyi. kami juga memungut beberapa bintang laut, lili laut, sponge, dan kepiting.
kapal yang akan kami tumpangi sudah nampak di dermaga. Kami bergegas naik kerumah sambil membawa hewan pungutan yang kami dapat. setelah berpamitan, saya berniat menghampiri kak wati dan berniat memberikan sedikit 'hadiah' namun ditolak olehnya. akhirnya saya pun menyimpannya kembali dan mengucapkan terima kasih padanya dan keluarga kakak yang begitu baik dan ramah pada kami.
dari ujung dermaga kapal nampak telah sesak oleh penumpang. Kami lalu berjalan cepat menuju ujung dermaga agar tidak ketinggalan kapal. sambil menenteng toples yang berisi hewan-hewan laut, kami terus berjalan sambil sesekali membalas senyuman dari warga yang kami lewati. Akhirnya kami tiba di kapal tepat sebelum kapal menarik jangkar. Kami pulang.
selepas shalat duhur, kami menantang terik menuju pelabuhan Lappa, Sinjai Utara. Bermodal Satu tas ransel yang tampak gembung, dan dua kantong toples kosong, serta gumpalan nekat dan tekad, kami siap tersesat. Tiba di Pelabuhan, kami tidak langsung menaiki kapal, namun terlebih dahulu bertanya pada salah satu ABK,
"pak, ini kapal yang mau ke pulau sembilan?"
"iya, ini. sudah hampir berangkat. mau ke pulau mana?"
"ke pulau sembilan pak!"
"iya, pulau sembilan yang mana, ada sembilan pulau, mau ke pulau yang mana?"
"hmmmm, kalo ini kapal mau ke pulau mana pak?
"ke pulau kanalo."
"kalo pulau yang pasir putih pulau apa pak?"
"semua pulau pasir putih."
"kalo pulau yang karang-karangnya masih bagus yang mana pak?"
"kanalo juga bagus, kambuno juga.."
"hmm.. kemana ya.." "bentar ya pak," kataku kemudian sambil meninggalkan pria itu yang kemudian melanjutkan mengangkat barang ke atas kapal.
setelah berdiskusi (lebih tepatnya bingung bersama) dengan, sebut saja ia men, kami memutuskan untuk menaiki kapal yang sebentar lagi akan lepas jangkar, dengan alasan agar kami tiba di pulau (yang entah apa namanya) tidak kemalaman.
kami akhirnya menaiki kapal yang tadi ABK nya sabar melayani pertanyaanku. Kamipun memilih posisi duduk yang nyaman di lambung kapal. Setelah duduk agak lama, mungkin puluhan menit, kapal belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berangkat. kami mulai bosan dan sedikit pening karena kapal bergoyang-goyang dimainkan ombak. Di dekat kami juga ada beberapa pria dewasa yang dengan sabar duduk menunggu.
"katanya tadi mau ke pulau kambuno?" tanya seorang pria yang duduk didekat kami. Sebelum naik ke kapal ia sempat bertanya padaku tentang pulau tujuan kami, yang kujawab pulau kambuno, tapi sebetulnya saya juga kurang yakin tentang pulau mana yang akan kami tuju.
"iya kak." kataku singkat.
"kapal ini mau ke pulau kanalo, kalo kambuno yang kapal disana." katanya menjelaskan.
"oh, hehe. kanalo kalo begitu kak." jawabku sambil tersenyum sedikit malu-malu.
"kami naik kapal yang sudah mau berangkat saja kak." jawab men.
pria itu hanya nampak menangguk, mungkin heran mendengar jawaban kami.
beberapa menit kemudian, kapal mulai bergetar karena mesin sudah dinyalakan. Namun, kapal belum langsung berangkat. Kami masih harus menunggu sekitar sepuluh menit lagi barulah kapal mulai bergerak perlahan. Di atas kapal, kami menghabiskan waktu terkadang dengan berbincang, duduk tanpa suara, namun lebih lama kami habiskan dengan tidur.
setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, kami memutuskan untuk naik ke atap kapal, mencari suasana baru. Ternyata ada beberapa orang yang juga berada disana. Kami duduk di bagian belakang sambil menggunakan jaket untuk berteduh, sesekali memicingkan mata menahan terik.
"kalau sampe di pulau mau tidur dimana?" tanya pria yang tadi duduk di dekat kami dan sekarang juga masih dekat dengan kami.
"di pulau tidak ada penginapan kah kak?" kataku balik bertanya.
"kalo di kanalo tidak ada."
"hmm, mungkin cari mesjid saja. atau kalo ada kapal yang balik sore mungkin langsung balik ji." kata men.
"tinggal di rumah saudara saya saja di sana." katanya menawarkan.
awalnya kami hanya menanggapi tawaran kakak (saya lupa namanya siapa) dengan tersenyum. Namun, saat tiba di pulau, ia betulan mengajak kami ke rumah saudaranya yang lokasinya tepat disamping laut. Saya hanya bisa mengikut, entah kaget, senang, atau heran, tiba-tiba di tawari tempat berteduh dan disuguhi teh hangat, kue dan sepiring semangka. Kami bahkan di berikan kamar untuk beristirahat dan meletakkan barang bawaan kami.
setelah shalat ashar, kami berbincang di beranda rumahnya yang hampir dipenuhi oleh teripang kering. Belakangan kami tahu ternyata kakak adalah seorang penyelam. Namun bukan seperti para penyelam scuba dive, kakak adalah pencari teripang yang menyelam dengan menggunakan kompresor untuk bernafas, tanpa menggunakan baju selam! Penyelamanpun dilakukan saat malam hari.
setelah berbincang sambil menikmati biskuit dan teh, kakak menawarkan diri menemani kami ke laut untuk mencari beberapa spesies hewan laut yang akan kami jadikan awetan basah di sekolah tempat kami KKN-PPL. Namun, bukan hanya kakak, ia juga mengajak satu ponakan dan adik perempuannya untuk ikut dengan kami. Kami ke lokasi menggunakan perahu miliknya. Setelah tiba dilokasi, saya, adik dan ponakan kakak mulai turun ke air yang ternyata lumayan dalam (untuk ukuran saya yang belum terlalu kuat mengapung), mungkin sekitar dua meter. Sementara kakak dan men tetap di atas perahu.
Setelah beberapa menit menceburkan diri, Aldi, nama ponakan kakak membawa dua bintang raja ke atas perahu. tidak lama kemudian, ia juga mengambilkan kami bulu babi. sementara saya dan adik perempuan kakak hanya berenang-renang di pinggir perahu. kami sama-sama kurang bernyali untuk menyelam. Kami juga meminta untuk di ambilkan karang mati, namun Aldi terlanjur mematahkan karang hidup dan membawanya naik ke perahu. Setelah merasa cukup, kami semua naik ke perahu yang tidak semudah kelihatannya. Saya harus dipegangi dan ditarik agar dapat naik.
tiba dirumah, mereka mempersilahkan kami untuk membersihkan badan. setelah mandi, saya dan men bergegas ke dermaga. Kami tidak ingin meninggalkan potret matahari yang sudah mulai terbenam. kamipun menikmati matahari yang perlahan tenggelam hingga sepenuhnya terbenam. Hanya meninggalkan siluet pulau dan warna keemasan di langit.
Saat malam, keluarga kakak repot-repot menyediakan kami makan malam. Mereka sampai memanggil dan mengajak kami hingga kami duduk di kursi. Awalnya mereka hanya mempersilahkan kami berdua namun saya meminta mereka agar makan bersama saja. Akhirnya kami ditemani kak wati dan adik perempuannya. Kaum laki-laki kemudian makan setelah kami.
tidak hanya makan malam, mereka bahkan menyediakan kami pisang goreng dan segelas teh hangat setelah mengajak kami menonton bersama di ruang keluarga mereka. Senang sekali rasanya berada ditengah keluarga mereka. melihat mereka berbincang, bernego tentang siaran yang ingin mereka tonton, tertawa bersama. saya tiba-tiba rindu rumah. Teringat masa-masa SD saat keluargaku juga berbaring bersama diruang keluarga, menonton bersama atau sekedar berbagi cerita.
setelah agak larut, kamipun memilih untuk beristirahat duluan.
Saat subuh, debur ombak terdengar lembut menyapa pantai. Setelah shalat, kami memilih tetap di dalam rumah sambil menunggu yang lain bangun. hari ini kami berencana pulang dengan menumpang kapal yang kami tumpangi kemarin. Namun sebelum itu, kami menyempatkan diri berjalan menyusur pantai untuk kembali mencari beberapa spesies hewan laut. Sebelum turun, kami kembali disuguhi kue dan segelas teh hangat sebagai sarapan.
air laut surut cukup jauh. kami berjalan di atas pasir putih yang nampak bergelombang. sesekali berhenti dan menggali pasir, berharap menemukan hewan laut yang bersembunyi. kami juga memungut beberapa bintang laut, lili laut, sponge, dan kepiting.
kapal yang akan kami tumpangi sudah nampak di dermaga. Kami bergegas naik kerumah sambil membawa hewan pungutan yang kami dapat. setelah berpamitan, saya berniat menghampiri kak wati dan berniat memberikan sedikit 'hadiah' namun ditolak olehnya. akhirnya saya pun menyimpannya kembali dan mengucapkan terima kasih padanya dan keluarga kakak yang begitu baik dan ramah pada kami.
dari ujung dermaga kapal nampak telah sesak oleh penumpang. Kami lalu berjalan cepat menuju ujung dermaga agar tidak ketinggalan kapal. sambil menenteng toples yang berisi hewan-hewan laut, kami terus berjalan sambil sesekali membalas senyuman dari warga yang kami lewati. Akhirnya kami tiba di kapal tepat sebelum kapal menarik jangkar. Kami pulang.
Kamis, 31 Juli 2014
Ekspedisi Gunung Gede with Power Ranger Dadakan [late post]
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang
engkau dustakan?”
Sungguh tak ada, tak
ada kata yang dapat kurangkai untuk sebuah ungkapan syukur pada Sang Pencipta
selain sujud di atas puncak paku bumi beralaskan butiran pasir. Minggu 20 April
2014, saat purnama masih terang bersinar kami telah menaklukkan puncak gunung
Gede. Menyambut fajar yang akan menyingsing.
Berawal dari niat,
hingga berbentuk satu kalimat “ke gunung Gede” dalam buku harian, mengalir
dalam percakapan yang tak sengaja, semakin deras menjadi sebuah rencana,
membulat jadi tekad, batu, entah apalah namanya. Setelah sedikit kecewa karena
rencana awal gagal total akibat keterlambatan booking online, frustasi karena
tak bisa mendaftar online, berkali-kali menghubungi guide resmi TNGP yang tak
pernah berbalas, hingga Pak Dana dan Pak Syakur nekat ke Cibodas langsung dan
mendapati kantor tutup, namun apapun rintangannya, jika rezeki tak akan kemana,
mereka bertemu langsung dengan Kang Agus (Guide TNGP) saat iseng berfoto di
gerbang Cibodas, berbincang hangat, hingga akhirnya kabar gembira datang tak
terbendung, hingga girang tak kepalang. “kita jadi berangkat ke Gede!”
Jadilah kami berlima,
aku dan mbak Furi yang memang berencana berangkat sejak rencana awal, Pak Dana
yang Alhamdulillah mau diajakin setelah rencana berangkat dengan Sultan dkk
gagal total, Pak Syakur yang juga diajak oleh pak Dana, dan Bu Fiah yang diajak
oleh pak Syakur, sibuk merundingkan rencana keberangkatan sejak H-4. Mulai dari
mendaftar perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus disiapkan, logistic dan
konsumsi, hingga jadwal keberangkatan.
H-1 setelah semua
perlengkapan siap, kami sepakat untuk berkumpul pukul setengah tujuh pagi di
depan Masjid raya kota Bogor.
“Aku nggak yakin kalo
kita bisa berangkat setengah tujuh” kata bu Fiah saat mengendarai motor
sepulang dari berbelanja. Hari H pun tiba, setengah tujuh lebih tujuh menit aku
masih diatas angkot, Pak Dana sudah standby depan masjid Raya. Kurang beberapa
menit pukul tujuh, pak Dana dengan sepatu tentara, celana lapangan, jaket tebal,
slayer hitam-putih lengkap dengan kacamata hitam terlihat duduk sambil
mengobrol dengan mbak Furi di seberang jalan. Segera saja aku bergabung dengan
mereka.
Kurang dua personil lagi, Pak Syakur dan Bu fiah. Setelah ku konfirmasi ternyata mereka masih di kereta. Baiklah, kami menunggu sambil berbincang ria. Beberapa menit berlalu, kami mulai bosan. Sesekali aku melirik jam dilayar handphone, pak Dana bahkan tiduran disamping jalan.
Setelah agak lama, kami
iseng menebak dari angkot manakah bu Fiah dan Pak Syakur akan turun. Beberapa
angkot yang terlihat menepi kearah kami lewat tanpa ada tanda-tanda dari mereka
berdua, beberapa menit kemudian mereka berdua malah terlihat jalan kaki
menghampiri kami.
Siip! Personil
lengkap, segera saja kami berjalan menuju halte, tempat kami bisa menunggu
mobil colt putih yang akan membawa kami menuju puncak Bogor
Tidak berapa lama
setelah tiba dihalte, mobil colt putih jurusan puncak Bogor pun akhirnya tiba,
kami segera naik dan mengambil posisi PW (Paling Wuenak). Perjalanan dari Bogor
ke Puncak menghabiskan waktu sekitar empat jam. Wajarlah, hari itu adalah long
weekend dan puncak adalah salah satu destinasi wisata yang banyak diminati
hingga tak jarang antrian mobil mengular dijalanan sepanjang jalur menuju
puncak.
Sebelum tiba di gerbang
gunung putrid, kami berhenti di depan tokoh Selam*t. bukan toko itu tujuan
kami, melainkan warung didepannya. Yup, makan siang, mengisi stamina sebelum
memulai perjalanan. ^_^
Setelah kampung tengah
terisi, kami kembali melanjutkan perjalan dengan menumpang angkot kuning yag
akan membawa kami langsung menuju gerbang gunung putrid. Perjalan lumayan
lancar dan kami hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hingga tiba
dilokasi tujuan.
Nampaknya jalur
pendakian akan ramai, dari jauh kami telah melihat beberapa rombongan pendaki
yang juga sedang berkumpul di depan warung dekat pos gerbang pendakian. Saat
berkenalan ternyata mereka rombongan dari UNPAD.
Semakin mendekati pos
gunung putri, semakin ramai terlihat para pendaki yang memanggul carrier. Tegur
sapa pun ramai terdengar. Ditengah jalan, aku mendapati bunga dandelion. Ini
adalah kali pertama aku melihat langsung wujudnya dan meniup butir bunganya
yang terbang seperti kapas.
Setelah menumpang
shalat di pos, kami berlima berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum
memulai pendakian. Sebenarnya kami ingin berfoto didepan pos tapi karena
terlalu ramai, niat itu kami urungkan dan kamipun memulai langkah menyusuri
jalan yang mulai menanjak.
Sebelum memasuki
kawasan hutan kami sempat berhenti dua kali untuk istirahat. Maklum, kami masih
dalam tahap penyesuaian. Hehe. Bukan hanya kami, tapi beberapa rombongan juga
ikut beristirahat ditempat yang sama, percakapan hangat dan saling berbagi
bekal membuat kami seakan menjadi saudara. Masuk areal hutan, perjalanan
semakin menantang! Kami diiringi kicauan burung, bunyi serangga, dan tentu saja
sorakan semangat dari para pendaki yang lain. Senyum hangat, dan tegur sapa
selalu kami temui saat berpapasan dengan pendaki lainnya.
Semakin lama
berjalan, beban dipundak rasanya semakin berat, dan ritme tarikan nafas juga
semakin cepat. Peluh mulai membancir walau suhu udara semakin dingin. Saat tiba
di pos selanjutnya, kami istirahat dengan beberapa rombongan pendaki lainnya.
Ditempat inilah kami dijuluki “Power Rangers”, karena jumlah kami ada lima
orang dan masing-masing kami tadinya sempat mengenakan jas hujan plastik dengan
warna yang berbeda-beda.
Kami terus berjalan
walau hari mulai gelap. Saat hari betul-betul gelap, kami hanya diterangi
dengan cahaya senter. Beberapa kali kami sempat terpeleset akibat tanah yang
licak bekas hujan. Walau letih kami tak berhenti untuk saling menyemangati.
“satu..dua..semangat!!” beberapa kali kami lantunkan walau dengan nada lemah.
-_-“.
Terkadang kami bertanya
dengan para pendaki yang sudah turun, “surya kencana berapa jam lagi kang?” dan
ada yang menjawab “deket kok, sejam lagi nyampe.” Lalu beberapa meter kemudian
kami kembali bertanya pada pendaki lainnya yang datang dari arah berlawan dan
kemudian dijawab “dua jam-an ada..” demi mendengar jawaban tersebut kami serasa
di beri harapan palsu. Ternyata PHP bertebaran disepanjang jalan. Tapi
disitulah seninya, -harapan-. Berharap segera tiba ditempat tujuan.
Sebelum tiba di tujuan
tempat kami berencana mendirikan tenda, kami sempat makan malam di jalan. Kami
menemuka tempat datar dipinggir jalan menanjak. Kami membongkar carrier dan
mulai riweh dengan proses
masak-masak. Pada saat inilah kami mulai merasa dingin. Mbak furi bahkan
berjalan mengitari carrier berkali-kali di sepanjang lahan landai tempat kami
memasak. Pak Syakur dan pak Dana juga mencoba untuk membakar beberapa ranting
dan sampah tapi gagal karena rantingnya basah selepas hujan tadi. Saat kompor
sudah menyala kami duduk mengitari kompor, mencari kehangatan.
Tak lama kemudian nasi,
mie rebus dan ikan sarden matang. Kamipun mulai menyantap hidangan dengan
tangan yang agak gemetar menahan dingin. Aku tidak terlalu menikmati makanannya
dan hanya bisa memasukkan tiga sendok nasi kemulutku yang juga susah payah
kutelan. Ditengah sibuknya kami bersantap, tak sengaja mbak furi bergerak dan
menyenggol tas bu Fiah yang berdiri tepat disamping jalan jalur pendakian. Kami
awalnya bengong dan hanya melihat tas tersebut bergelinding jatuh dan
menimbulkan bunyi gedebuk. Nanti setelah bu Fiah berseru “Tas ku!” kami mulai ngngeh. Kami awalnya menunggu tas
tersebut berhenti berbunyi yang artinya ia sudah berhenti bergelinding. Tapi
semakin semakin lama kami menunggu, tas tersebut tidak juga berhenti
bergelinding. Karena takut tasnya nanti bisa jatuh ke jurang, pak Dana segera
kembali TURUN mengejar tas tersebut. Untung saja tas tersebut tersangkut
dipepohonan sehingga pak Dana tidak perlu turun terlalu jauh dan tentu saja
tidak perlu mendaki lagi terlalu jauh. Setelah dicek, syukurlah tak ada satu
barangpun yang hilang walau tas tersebut jatuh dalam keadaan tidak tertutup.
Aku tidak begitu
menikmati makan malam di bawah bulan waktu itu, entahlah sepertinya ikan sarden
tidak mampu membuat lidahku bergoyang. Beberapa saat setelah makan malam, kami
kemali melanjutkan pendakian. Sekitar satu setengah jam perjalanan aku merasa
mual dan beberapa meter kemudian, makanan yang tadi kupaksakan masuk tak dapat
kutahan lagi, keluar kembali. Untunglah aku sempat mengambil jalan agak
kepinggir hingga nasi yang telah menjadi bubur dapat mendarat di semak2 dan
tidak mengganggu pendaki lainnya.
Setelah minum air putih
dan obat masuk angin, aku kembali berjalan, namun beberapa meter kemudian,
ternyata masih ada makanan yang memaksa keluar. Kuhabiskan saja semua yang
tersisa didalam perutku, hingga pekat dan pahit bercampur ditenggorokan.
Setalah betul-betul habis, barulah kurasakan dingin yang teramat mulai
menusuk-nusuk kulit hingga membuatku menggigil. Awalnya aku sangat takut
terkena hipotermia, tapi untung saja mbak furi dan bu Fiah terus memaksaku
untuk bergerak dan mencari tempat hangat. Mereka bahkan harus mendengar
ocehanku yang keuar egitu saja disela-sela bunyi gemelutuk gigiku menahan
dingin.
sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Keesokan harinya,
sebuah hadiah menanti dibalik tenda. Lukisan maha indah terbentang didepan
mata! Hamparan bunga edelweiss, dan tumuhan liar lainnya yang warna-warni, awan
yang tampak begitu dekat, dan puncak gunung yang tampak meliuk-liuk.sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Puas menikmati
pemandangan pagi yang sejuk, waktunya memenuhi kebutuhan gizi. Kami segera
berbagi tuga. Aku dan bu Fiah menyiapkan sarapan, mbak Furi menjemur semua
barang yang basah. Bapak-bapak entah mengerjakan apa…
And we were proudly
present….
Kami berlima sepakat, ada beberapa surga dan
kenikmatan terindah saat mendaki. Jalanan lurus
atau turunan, dan tentu saja kehangatan, alias makanan hangat dan
minuman seduh. ^_^ sarapan beres, cuci
piring sudah, waktunya mengepak barang. Kami akan pindah lokasi camping.
Mencari sepetak tanah dari luasnya padang di Surya kencana. Rencananya kami
akan camping tepat didekat kaki gunung Gede, sehingga akan memudahkan kami jika
mulai muncak.
Power ranger siap
melanjutkan perjalan. Hohoho…
Sore di Surya
Kencana, menjadi fotografer relawan untuk acara pra wedding bu Fiah dan Pak
Syakur. Berlatarkan dua puncak gunung, udara sejuk yang kadang memaksa tangan
merpatkan jaket, hamparan rumput, ilalang dan edelweis dengan gradasi warna
lembut yang serasi, coklat muda, hijau, putih. Serta kabut yang kadang lewat
menyapa. Melihat mereka berpose, rasanya bagaikan “……….”.
Senja mulai
menjelang. Perubahan warna dilangit mulai terlihat, dan kami juga mulai
menyiapkan santap malam. Di tengah-tengah kesibukan kami mengolah bumbu
instant, tak dapat kulewatkan rasanya moment senja di padang ini. Segera saja
aku berlari begitu saja menghampiri senja yang mulai terbenam meninggalkan bu
Fiah dan mbak furi yang tetap asik memasak.
Masuk waktu subuh,
beberapa pendaki melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan beberapa jam
kemudian, sinar merah mulai merekah diangkasa. Inilah moment yang paling
ditunggu, menyaksikan sunrise dari puncak gunung.
Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!
Langit mulai menghitam,
dan malampun semakin pekat. Setelah semua hajat pribadi tertunaikan, waktunya
memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Rasanya belum terlalu lama saat mataku
terpejam, aku sudah terbangun dan mendapati bu Fiah dan mbak Furi yang nampak
berkali-kali merapatkan sleeping bag ke tubuhnya dan kami bertigapun semakin
merapat dan menggigil bersama.
Saat kami coba
mengintip dari balik tenda, suasa di luar nampak terang. Tidak seperti malam
pekat biasanya. Sehingga kami menira hari telah menjelang pagi. Setelah ku cek
jam, ternyata masih pukul satu malam. Yup, bulan sedang bersinar terang malam
itu. Ditambah tak adanya polusi cahaya yang menandingi sinar bulan, suasana
malam itu sangat indah. Bintangpun bagaikan kismis yang ditabur di atas
hitamnya langit yang maha luas. Sekitar kurang lebih satu jam kami meringkuk
kedinginan sambil duduk saling merapat, kami memutuskan untuk membangunkan
bapak-bapak dan bersiap berangkat menuju puncak.
Setengah jam kemudian, kami telah selesai
mengepak barang dan siap berangkat. Setelah doa bersama, kami mulai menjejak
langkah pertama menuju puncak dalam formasi yang telah kami susun. Kami
memperkirakan akan lama perjalanan ke puncak akan menyita waktu kurang lebih
dua sampai tiga jam. Namun ternyata kami hanya berjalan selama kurang lebih
satu jam. Demi melihat papan bertuliskan “PUNCAK GEDE”, semua rasa lelah lenyap
seketika! Tergantikan oleh indahnya lautan cahaya yang tersaji di depan mata.
Sambil menunggu waktu
subuh, kami kembali memongkar carrier, mengeluarkan peralatan masak dan tentu
saja, menyeduh air hangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada minum minuman
hangat di puncak gunung saat suhu betul-betul menggeliitik tulang! ^_^
Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!
Tidak lama kemudian, kami mulai turun melewati jalur
Cibodas. Turunan memang betul-betul kenikmatan terindah setelah lelah menapaki
tanjakan. Langkah kami berderap-derap lincah melewati turunan sambil
berpegangan pada batang-batang pohon. Sekitar pukul delapan pagi, kami rehat
sejenak untuk sarapan. Satu hal yang disepakati oleh semua pendaki adalah,
“semua pendaki adalah saudara” sehingga senyum dan kalimat perhatian bertebaran
disepanjang jalan saat kami berpapasan ataupun melewati pendaki lainnya. Begitu
pula saat sarapan, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki asal Jakarta, dan
segera saja kami ajak sarapan bersama. Tanpa perlu PDKT, dengan sendirinya kami
langsung merasa akrab. Layaknya teman lama yang berjumpa kembali.
Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih delapan
jam. Setelah sampai di Pos pendakian jalur Cibodas, kaki rasanya sudah tidak
bisa digerakkan. Ngilu sekujur tubuh baru terasa setelah mandi dan berganti
pakaian. Tapi semua lelah dan pelu terbayar dengan pengalaman, petualangan, dan
pelajaran yang tak dapat diniai dengan materi.
Terima kasih teman-teman POWER RANGER!! Pak
Dana, mbak Furi, bu Fiah, dan pak Syakur yang telah rela menunaikan inginku
menapak di pucak gunung GEDE. Arigatou gosaimash!!! ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)