Kabarnya
bulan indah malam ini. Sepertinya purnama, tapi hanya bisa ku tebak. Lagi,
tembok ini mengekang pandanganku. Aku terjebak dalam ruang-ruang berbatas
semen.
Teringat
akan mimpi empat tahun lalu. Mimpi yang sempat kami luapkan dalam kata yang menggebu
siang itu. Aku dan tiga karibku. Mencoba memprediksi karir dan mengukir mimpi
yang masih diujung bibir. Aku yang selalu ingin belajar ilmu alam, dan mereka
yang bercita jadi dokter, arsitek, dan ahli Badan Meteorologi dan Geofisika.
Siang itu kami seakan berikrar pada diri masing-masing untuk mewujudkan gagasan
yang lebih dari sekedar khayal.
“Kelak,
aku ingin punya rumah yang temboknya tinggi dan atapnya bisa dibuka, biar nanti
kalau malam bisa bebas liat langit luas, bintang yang kerlap-kerlip, dan bulan
yang selalu indah. Terus aku juga mau kalau rumahnya punya banyak jendela biar
bisa puas liat tetes hujan. Oia, lantai rumah rencananya mau dibikin seperti
istana nabi Sulaiman yang dibawahnya ada kolam ikan tapi lantainya dari kaca
biar kolamnya tembus pandang gimana ibu arsitek, bisakan?” tanyaku pada remaja
yang duduk disebelahku dengan rambutnya yang tergerai sepunggung.Lalu iapun
turut berakting dalam lakon yang berjudul mimpi ini.
“kalau
itu-sih gampang, tinggal sediakan bahannya saja. Nanti aku yang desain
modelnya”
Remaja berkerudung abu2
dengan pipi putih tembemnya juga ikut komentar.
“Bagus
itu, nanti kalau kita mau buat rumah tinggal hubungi ibu arsitek saja!” sambil
senyum-senyum menghadap rekanku yang waktu itu calon arsitek.
“Oia,
nanti kalau ada gejala bakal terjadi gempa atau tsunami kamu harus ingatkan
kami ya!” seru remaja lainnya tak kalah antusias.
“Iyalah
ibu dokter. Tenang saja, nanti ta’ telepon deh!” celotehnya seakan semua urusan
bisa beres.
“Terus nanti tenri yang rawat tanaman sama hewan peliharaan dirumah. Iyakan ten?” kata kawanku yang duduk disebelahku sambil melirik usil kearahku.
“Terus nanti tenri yang rawat tanaman sama hewan peliharaan dirumah. Iyakan ten?” kata kawanku yang duduk disebelahku sambil melirik usil kearahku.
“Hei,
akukan bukan tukang kebun atau pengurus kebun binatang. Gini aja, nanti ku
ajari cara merawat tanaman dan hewan, biar kalian juga tahu terus bisa rawat
sendiri. adilkan?” kataku sambil sedikit terkekeh.
Kini,
aku kembali mengenang mimpi siang itu sambil tersenyum. Kami akhirnya berpisah
namun dalam koridor kami masing-masing. Aku yang sedang belajar dijurusan
biologi, Sifra yang mulai berkutat dengan rancangan dan maket, bersiap menjadi
arsitek, Vidhy yang mulai sibuk dengan rumus fisika, dan mungkin sedang
mengamati rasi bintang malam ini, dan rahmi, yang meskipun belum sempat belajar
di kedokteran tapi sibuk memecahkan soal matematika dan menguji rumus2
perhitungan, semoga kelak ia mampu menghitung dengan akurasi yang tepat kapan
mimpi kami dapat terwujud.
Aku
rindu rasa itu. Ketika kami bebas bermimpi setinggi langit, seluas ruang tak
berbatas. Aku merindukan mereka. Merindukan mimpi-mimpi besar yang kami susun
dan bagi bersama, merindukan aliran antusias dan mata yang berbinar akan khayal
tentang mimpi yang akan terwujud. Aku rindu akan optimis. Dimanakah mereka
malam ini?
Senin, 25 februari 2013 (23.00)



















