Senin, 25 Februari 2013

lebih dari sekedar khayal.


Kabarnya bulan indah malam ini. Sepertinya purnama, tapi hanya bisa ku tebak. Lagi, tembok ini mengekang pandanganku. Aku terjebak dalam ruang-ruang berbatas semen.
Teringat akan mimpi empat tahun lalu. Mimpi yang sempat kami luapkan dalam kata yang menggebu siang itu. Aku dan tiga karibku. Mencoba memprediksi karir dan mengukir mimpi yang masih diujung bibir. Aku yang selalu ingin belajar ilmu alam, dan mereka yang bercita jadi dokter, arsitek, dan ahli Badan Meteorologi dan Geofisika. Siang itu kami seakan berikrar pada diri masing-masing untuk mewujudkan gagasan yang lebih dari sekedar khayal.
“Kelak, aku ingin punya rumah yang temboknya tinggi dan atapnya bisa dibuka, biar nanti kalau malam bisa bebas liat langit luas, bintang yang kerlap-kerlip, dan bulan yang selalu indah. Terus aku juga mau kalau rumahnya punya banyak jendela biar bisa puas liat tetes hujan. Oia, lantai rumah rencananya mau dibikin seperti istana nabi Sulaiman yang dibawahnya ada kolam ikan tapi lantainya dari kaca biar kolamnya tembus pandang gimana ibu arsitek, bisakan?” tanyaku pada remaja yang duduk disebelahku dengan rambutnya yang tergerai sepunggung.Lalu iapun turut berakting dalam lakon yang berjudul mimpi ini.
“kalau itu-sih gampang, tinggal sediakan bahannya saja. Nanti aku yang desain modelnya”
Remaja berkerudung abu2 dengan pipi putih tembemnya juga ikut komentar.
“Bagus itu, nanti kalau kita mau buat rumah tinggal hubungi ibu arsitek saja!” sambil senyum-senyum menghadap rekanku yang waktu itu calon arsitek.
“Oia, nanti kalau ada gejala bakal terjadi gempa atau tsunami kamu harus ingatkan kami ya!” seru remaja lainnya tak kalah antusias.
“Iyalah ibu dokter. Tenang saja, nanti ta’ telepon deh!” celotehnya seakan semua urusan bisa beres.
            “Terus nanti tenri yang rawat tanaman sama hewan peliharaan dirumah. Iyakan ten?” kata kawanku yang duduk disebelahku sambil melirik usil kearahku.
“Hei, akukan bukan tukang kebun atau pengurus kebun binatang. Gini aja, nanti ku ajari cara merawat tanaman dan hewan, biar kalian juga tahu terus bisa rawat sendiri. adilkan?” kataku sambil sedikit terkekeh.
Kini, aku kembali mengenang mimpi siang itu sambil tersenyum. Kami akhirnya berpisah namun dalam koridor kami masing-masing. Aku yang sedang belajar dijurusan biologi, Sifra yang mulai berkutat dengan rancangan dan maket, bersiap menjadi arsitek, Vidhy yang mulai sibuk dengan rumus fisika, dan mungkin sedang mengamati rasi bintang malam ini, dan rahmi, yang meskipun belum sempat belajar di kedokteran tapi sibuk memecahkan soal matematika dan menguji rumus2 perhitungan, semoga kelak ia mampu menghitung dengan akurasi yang tepat kapan mimpi kami dapat terwujud.
Aku rindu rasa itu. Ketika kami bebas bermimpi setinggi langit, seluas ruang tak berbatas. Aku merindukan mereka. Merindukan mimpi-mimpi besar yang kami susun dan bagi bersama, merindukan aliran antusias dan mata yang berbinar akan khayal tentang mimpi yang akan terwujud. Aku rindu akan optimis. Dimanakah mereka malam ini? 


Senin, 25 februari 2013 (23.00)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar