Ada
berjuta Tanya yang mengendap dalam imaji terliarku.
Seiring
menyempitnya alasan berilmu.
Dimanakah
dapat kutemui guru?
Mengajariku
bahasa alam,
Menemukan
jalan dalam gugusan rasi bintang dan tiupan arah angin.
Membaca
jejak dalam semak dan ranting,
Melihat
rencana langit tentang badai dan cerah.
Bukankah
ini naluriah?
Lalu
mengapa masih saja mereka berkelit?
Sungguh,
bahasa apalagi yang tidak mereka mengerti?
‘hanya
sesederhana itu?’ begitulah anggapan kebanyakan dari mereka.
Ya,
itu sederhana dalam satu keyakinan.
Satu.
Bahwa
Tuhan itu satu,
namun sudahkah mereka kuasa atas satu ilmu saja?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar