Minggu, 24 Februari 2013

Sederhana-kan?


Ada berjuta Tanya yang mengendap dalam imaji terliarku.
Seiring menyempitnya alasan berilmu.
Dimanakah dapat kutemui guru?
Mengajariku bahasa alam,
Menemukan jalan dalam gugusan rasi bintang dan tiupan arah angin.
Membaca jejak dalam semak dan ranting,
Melihat rencana langit tentang badai dan cerah.
Bukankah ini naluriah?
Lalu mengapa masih saja mereka berkelit?
Sungguh, bahasa apalagi yang tidak mereka mengerti?
‘hanya sesederhana itu?’ begitulah anggapan kebanyakan dari mereka.
Ya, itu sederhana dalam satu keyakinan.
Satu.
Bahwa Tuhan itu satu, 
namun sudahkah mereka kuasa atas satu ilmu saja?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar