malam semakin pekat.
detak jarum jam seakan meledek.
hei, mengapa aku begitu emosi,
berprasangka bahkan pada benda yang tak mengenal rasa.
rasa? heh.
tahu apa kau soal rasa?
tidak, aku tak tahu apa-apa.
aku tak tahu jika rasa bisa sedemikian kejam.
sebegitu kejam hingga membisikkan prasangka,
lewat desau angin dingin dan hamparan kabut yang membutakan.
meski semua tampak putih,
tapi semuanya tertutup.
apa yang bisa kau lihat?
tak ada, aku haya bisa berprasangka.
hanya bisa menerka dimana mentari akan terbit atau terbenam.
seperti biasa, hanya ada aku dan diriku
dalam ruang tanpa batas imajinasi.
aku tak lagi melihat diriku tegak berpijak.
tapi merasai angin dingin yang menerpa pipiku.
menikmati gigitannya hingga ke tulang dan ujung-ujung jariku.
menggapai-gapai awan putih berombak.
duhai, begitu banyak kami yang datang.
tegak berdiri.
tapi mengapa aku masih saja merasa sendiri.
apa yang aku cari?
kadang aku lelah mencari pada ribua kalimat yang berhamburan dari bibir mereka.
mencari dalam sepi yang begitu bising.
frustasi merangkai kata agar mereka dapat memahamiku dalam diamku.
haruskah kita serasi dalam kata hingga disebut harmoni?
sungguh rasa ini menyiksa!
tak terbilang berapa kali lagi aku harus membujuk diriku untuk berdamai.
Duhai, Sang Penguasa hati. Hanya Engkau yang mengetahui wujud rasa ini.
Hanya Engkau yang dapat melihat semuanya, bergerak bersama aliran darahku.
Hanya kepadaMu aku berserah diri.
aku suka.. :)
BalasHapus