Lagi, dengan senyum yang sama pun pernyataan yang
sama.
Kan ku kisahkan padamu, tentang perbedaan yang kau
tafsir,
Atau hal yang kau sebut “aneh”
Tentang ingin dan anganku.
Jika saja aku bisa memilih, jalan
tanpa alas kaki di atas rumput yang berembun tak masalah menjadi kegiatan
rutinku ketimbang jalan di atas lantai keramik licin dengan kaki indah yang
ditopang high hills. Bayangkan sejuknya embun yang meresap kepori-pori telapak
kakimu, dan empuknya rumput yang kau pijak. Tidakkah kau rasakan damainya?
Cantik. Akupun memiliki persepsi
sendiri. Cantik bukanlah wajah yang di usap bedak, bibir yang di poles lipstick,
pipi yang di taburi perona, atau bulu mata tambahan yang memberatkan kelopak
mata. Cantik itu alami, ia indah. Tak butuh tambahan, karena ku yakin setiap
ciptaanNya indah. Wajah segar yang di basuh air wudhu adalah wajah yang
terindah menurutku, ia bercahaya. Cantik.
Alam dengan segala keteraturannya
yang kompleks merupakan pemukiman megah dari yang terelit. Pepohonan dan semak yang
menghutan sebagai sumber oksigen, bebas dari polusi kenalpot atau gas
pengganggu lainnya. Tanah subur jadi pasar harian tempat memanen sayuran segar
bebas bahan pengawet, sungai dengan riak air jernih yang menenangkan lebih dari
sekedar musik relaksasi, kabut dan hujan yang berpadu bahkan lebih romantis dari
kafe remang hingga gelap. Dapatkah kau hayati kuasa sang Pencipta dalam lembut
semilir angin di sela-sela dedaunan? Adakah kau sadari kehadiranNya dalam ritme
denyut jantung dan setiap tarikan nafasmu? Dan kau akan sangat terpukau oleh
CiptaanNya dengan berdiri tegak di puncak gunung, menyadari bahwa kau begitu
kecil dan amat sangat kecil di bawah langit yang tak berbatas. Atau ketika kau salami
dalamnya samudra, maka kau akan bergidik meresapi keajaiban kuasaNya.
Lalu kaupun meragukan
keistimewaanku sebagai wanita, memangnya kenapa dengan statusku sebagai seorang
wanita? Lihatlah bunda Nusaibah binti Ka’ab yang ketangguhannya sebanding
dengan seribu laki-laki dan Khaulah binti Azwar yang dengan gagah perkasa turut
mengayunkan pedang untuk berjihad. Tak ada larangan bagi wanita untuk menjadi
tangguh bukan, namun tetap tak mengesampingkan keanggunannya sebagai seorang
wanita.
Aku, punya landasan akan ingin dan
anganku yang lebih dari sekedar khayal. Jadi sekali lagi kutegaskan, ini
tidaklah ANEH. Inilah aku apa adanya diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar