Dingin. Namun peluh deras mengucur.
Nafas yang kuhirup satu-satu,
dan sejuk air yang menyelinap di sela-sela jariku.
Jalan setapak menanjak, bebatuan, licinnya tanah, dan lumpur
coklat,
Menyimpan jejakku,
Jejak yang akan kutinggalkan lebih banyak dan lebih tinggi
suatu saat nanti.
Semak, paku, lumut, pinus, eucalyptus,
Berpadu dalam hijau –kuning – coklat.
Aroma lantana camara memenuhi rongga dada.
Riak dan ritme air yang mengalir, menabrak bebatuan, menjadi
music
yang semakin merdu dengan celoteh hewan-hewan kecil
bersayap.
Kabut tipis yang
perlahan mengawan dan menebal,
Membawa hujan yang rinainya sejuk menjalar hingga ke
sendi-sendi tulang
Rasa ngilu yang mengajarkan kaki untuk sabar dan teguh,
Hingga kelak kokoh menapak.
Puncak yang sesekali mengintip dari celah pohon,
Nampak awas pada kaki kecil yang meninggalkan bekas pijakan
Hati inipun berbisik pada si telapak,
“kita akan taklukkan gunung tinggi itu dan kau akan kokoh
berpijak dipuncaknya, kelak”
Ketahuilah bahwa ini tekad, bukan nekad dan mereka amatlah
berbeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar