Sabtu, 08 Desember 2012

Diskusi dan Pemutaran Film Bahari


Siang ini, lima menit menjelang pukul tiga aku masuk dengan langkah tergesah ke gedung graha pena dengan kondisi sepatu basah dan baju yang dipenuhi bercak-becak air hujan. Sedikit uring-uringan di depan pintu lift yang semuanya tertutup, tujuanku adalah lantai empat. Tempat acara diskusi dan pemutaran film bahari pesta budaya selat Makassar. Bayangan telat terus membuat syarafku tegang dan tubuhku bereaksi berlebihan, maklum undangan yang datang melalui pesan singkat menyatakan acara dimulai pukul dua. Ting. Akhirnya pintu lift terbuka dan kurang dari tigapuluh detik kakiku sudah berada didepan tempat pelaksanaan acara. Ruangan sepi, hanya beberapa orang dengan kartu identitas panitia yang tergatung di leher terlihat lalu-lalang. Perasaanku sudah tidak enak, jangan-jangan acara sudah selesai! Padahal sudah hujan-hujanan dijalan demi untuk menonton film tentang bahari, ya segala hal menyangkut laut, gunung dan adventure tak akan kulewatkan. Sedikit cemas aku menghampiri meja registrasi dan bertanya pada salah satu panitia
“Maaf kak, ini tempat diskusi dan pemutaran film bahari ya?”
“Iya, silahkan tulis namanya di kolom ini” sambil menyodorkan kertas.
Ketika kulihat, baru dua baris pada kolom nama yang terisi dan namaku berada diurutan ketiga. Ada rasa lega yang menjalar didadaku, ternyata acara belum dimulai. Segera saja aku duduk dan merapikan pakaian tepatnya penampilanku yang sedikit berantakan. Sekitar lima menit menunggu, duduk sendirian, tak ada kerjaan iseng ku utak-atik laptopku dan mencoba untuk menulis satu cerita. Dua puluh menit berlalu dan acara belum juga mulai, tak ada tanda-tanda penambahan jumlah pengunjung. Aku mulai resah dan bosan. Lima menit berikutnya, dosenku (Rahmat Saleh, S.Pd, M.Pd) datang dan menyapaku sembari duduk tepat disampingku. Kamipun terlibat percakapan seputar budaya, laut, traveling hingga akhirnya acara pemutaran filmpun dimulai.
            Ada dua film yang ditampilkan. Film pertama merupakan film pedek (documenter) berdurasi sekitar tujuh menit dan berkisah tentang pelestarian budaya bahari nusantara. Film kedua berdurasi sekitar tiga pluh menit, menceritakan tentang wawasan bahari salah satu pulau terpencil yang terletak di kawasan timur Indonesia yaitu pulau Ilpokil. Kedua film tersebut menampilkan satu tokoh yang sama yaitu seorang putra bangsa yang telah menempuh perjalan dari San Francisco ke Indonesia melalui jalur laut selama kurang lebih sebelas bulan seorang diri, Rob Rama akrab disapa dengan Bang Rama.
            Setelah sesi pemutaran film usai, host acara memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bertanya pada bang rama yang hadir sebagai bintang tamu. Beberapa pesertapun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobati rasa penasaran tentang laut, cara menaklukkan lautan, ataupun ingin mendengar kisah lain dari petualangan Rob Rama. Salah satu kisah yang paling mengusik pikiranku adalah penuturannya tentang sampah.
Rob rama mengungkapkan bahwa di tengah lautan terdapat pulau yang terbentuk dari plastic sampah, dan luasnya sebesar pulau Bali! Tidak hanya satu Pulau tapi beberapa pulau! Can you imagine that?! Bahkan pulau plastic tersebut juga tak jarang menjerat binatang laut dan dapat membahayakan kehidupan laut. Kisah ini harusnya membuat kita sadar akan kondisi lingkungan dan tidak membuang sampah kelautan. Tidak hanya itu, Bang Rama juga mengungkapkan bahwa terkadang para nelayan menangkap ikan yang masih kecil, padahal ikan-ikan tersebut merupakan benih dan asset untuk generasi selanjutnya.
Penuturan kisah Rob Rama membuat kami yang hadir dalam acara tersebut sadar akan pentingnya menjaga kelestarian bahari terlebih Indonesia merupakan Negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Terbesit rasa banggaku pada sosok Rob Rama yang masih setia memperhatikan kondisi Bahari Nusantara dan tidak hanya sekedar pengungkapan melalui kata dan teori namun juga aksi.
Setelah acara diskusi usai, pengunjungpun satu-satu bengkit meninggalkan ruangan, namun tidak denganku. Aku ingin mengabadikan moment ini dan juga sosok Rob Rama yang telah menambah kobaran semangat dalam diriku untuk terus mewujudkan mimpiku, “menyelami lautan terdalam dan mendaki gunung tertinggi”. Dengan bantuan Pak Rahmat, akhirnya aku bisa berfoto dengan Rob Rama, Makasih pak. Maaf merepotkan (kundangnya aku, ckckck).
Acara usai, kami pulang dengan pikiran masing-masing. Entah ada yang berfikir untuk melestarikan budaya bahari, atau berfikir untuk mengunjungi pulau dalam film, atau bahkan ada yang tidak berfikir sama sekali. Entahlah. Aku, melangkah keluar Gedung dengan senyum yang muncul malu-malu memandangi wallpaper Hp yang telah berganti latar aku dan Rob rama.



Gunung dan laut, terentang jarak yang tidak dekat mengantarai, dan aku akan menjadi penghubung. Setia mengabarkan gunung tentang laut dan menyampaikan salam gunung pada laut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar