Lagi, kunikmati butir-butir kecil yang tumpah ruah
Jatuh dan mendarat di kulitku, tanganku, wajahku.
Sejuk.
Bisa saja aku menari dibawah derasnya hujan,
Berlari dan membiarkan angin menerpa wajahku,
Andai saja kemarin aku belumlah seorang gadis.
Hmm, pun aku masihlah kanak-kanak,
Tak pernah kurasakan derasnya hujan tumpah langsung di
kepalaku.
Hanya rinai yang sempat menyapa jendela kaca ruang tamu,
Ataukah tetesan yang jatuh satu-satu dari atap yang bocor.
Jangan tanyakan betapa rasa cemburu ini begitu besar
Saat gelak tawa mereka yang berlari dibawa hujan terdengar
mengejek
Ingin rasanya kaki ini menyelinap dan berlari lalu berbaur
dengan mereka.
Namun tidak. Ada sesuatu yang lebih penting yang kata mereka
harus kujaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar