Minggu, 09 Juni 2013

Selamat datang, Juni.

Kepulan kabut mengawali bulan juni.
Sebuah desa, di dataran tinggi kawasan gunung lompo battang. Lanyying.
Uap air yang meng-asap dari mulut, membuat kami iseng ber-haaah ria, berlagak sedang berada di koreaahh. Measki menggigil, gemelutuk gigi makin nyaring, dan pelukan pada jaket yang berkali-kali dirapatkan, dinginnya lantai kayu yang berderak-derak, hingga air yang membuat tulang-tulang seakan beku, desa ini telak memikatku.
Geremis di awal pagi, dan pelangi setelahnya menjadikannya indah.
Embun yang menguap dari batang-bantang tanaman kopi, kayu-kayu lapuk, bahkan bebatuan tampak seperti asap tipis yang di hembuskan, cahaya mentari yang berpendar-pendar di pucuk daun kopi, dan mawar merah yang merekah, elok.
Derap langkah, tapak per tapak disuguhi aroma Lantana camara, berpadu dengan aroma Pinus merkusii, rumput, dan tanah yang basah seakan menguatkan tiap langkah yang menjejak, menjalarkan semangat, merekahkan senyum.
Riak air sungai, kicauan burung dan serangga bahkan lebih menentramkan dari pada music yang mereka sebut metal alias “mellow-total”.
Kuhirup udara yang begitu segar hingga batas kapasitas paru-paruku menampung udara dan mengehembuskannya perlahan, sunggu “nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar