Kepulan kabut mengawali bulan juni.
Sebuah desa, di dataran tinggi kawasan gunung
lompo battang. Lanyying.
Uap air yang meng-asap dari mulut, membuat kami
iseng ber-haaah ria, berlagak sedang berada di koreaahh. Measki menggigil, gemelutuk
gigi makin nyaring, dan pelukan pada jaket yang berkali-kali dirapatkan, dinginnya
lantai kayu yang berderak-derak, hingga air yang membuat tulang-tulang seakan
beku, desa ini telak memikatku.
Geremis di awal pagi, dan pelangi setelahnya
menjadikannya indah.
Embun yang menguap dari batang-bantang tanaman
kopi, kayu-kayu lapuk, bahkan bebatuan tampak seperti asap tipis yang di
hembuskan, cahaya mentari yang berpendar-pendar di pucuk daun kopi, dan mawar
merah yang merekah, elok.
Derap langkah, tapak per tapak disuguhi aroma Lantana camara, berpadu dengan aroma Pinus merkusii, rumput, dan tanah yang
basah seakan menguatkan tiap langkah yang menjejak, menjalarkan semangat,
merekahkan senyum.
Riak air sungai, kicauan burung dan serangga
bahkan lebih menentramkan dari pada music yang mereka sebut metal alias
“mellow-total”.
Kuhirup udara yang begitu segar hingga batas
kapasitas paru-paruku menampung udara dan mengehembuskannya perlahan, sunggu
“nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar