2 Maret 2014
Setelah seminggu lalu rencana berburu mutiara hitam dan butiran emas di balik dinding-dinding karst batal, hari ini rencana itu akhirnya berhasil dia tunaikan. Ditemani oleh teman setianya, oppa dan tentu saja dengan mengendarai si merah mereka ngebolang ria menyusuri trotoar makassar - maros - pangkep demi mencapai tebing-tibing karst dan gua-gua gelap nan eksotis yang menantinya di pangkep.
Jangan pernah mengharapan jalan aspal mulus untuk memulai sebuah petualangan! betul saja, setelah tiba di pangkep, aspal licin berubah menjadi jalan setapak yang harus mereka lalui untuk bisa sampai di gua tujuan. Setelah memarkir motor, mereka berdua kemudian berjalan menyusuri jalan setapak dengan suguhan tebing-tebing kapur menjulang dan hamparan sawah menghijau. ada banyak gua dalam kawasan karst tersebut, dan setelah berjalan kaki sekitar dua jam, ternyata mereka tidak menemukan lokasi gua tujuan mereka, tapi tak apa, walau sendal jepit yang dipakainya putus, mereka akhirnya menjumpai gua leang lompo. mungkin tak jauh berbeda dengan gua tujuan mereka, entah beda nama dan mungkin juga letak.
Leang Lompo, dalam bahasa Makassar lompo berarti besar, yang kenyataannya dari luar gua ini memang kelihatan besar, namun jangan tanya apakah gua tersebut betul-betul besar dan luas karena mereka tak berani menyusuri gua ini lebih jauh kedalam, GELAP alasannya. Suara tetesan air yang jatuh satu per satupun terdengar menggema dari dalam gua yang katanya MEYERAMKAN. well, menurutku itu malah menenangkan, keculai jika ada serangga coklat dengan kaki berduri alias kecoa di dalam gua itu baru menyeramkan.
Setelah tiba di bibir gua, mereka segera mengambil sampel tanah demi keperluan peelitian, berharap menemukan spesies bakteri yang belum teridentifikasi. Mereka nampaknya sedikit tergesah dalam pengambilan sampel, mungkin latar gelap dan suara tetesan air membuat mereka sedikit bergidik, hmmm, well takut ternyata tidak hanya menghinggapi kaum hawa tapi juga pasangan duet maut ini. rencananya mereka juga akan mengambil sampel di dinding gua tapi lagi-lagi penyakitnya kumat, LUPA bawa cutton bud buat ngambil sampelnya. ternyata ketinggalan di laboratorium sebelum mereka berangkat, -__-"
setelah selesai mengambil sampel, merekapun kembali menyusuri jalan setapak kembali pada si merah yang setia menunggu. gara-gara kepikiran penyakit LUPA dia, saya malah berhayal lucu juga jika kunci si merah ketinggalan di bibir gua dan mereka harus berJALAN lagi ke gua dan mendapati kunci motornya ternyata hanya bersembunyi di saku celananya. hahahaha... sepertinya penyakit LUPAnya harus segera disembuhkan!
tapi sayang masih ada janji yang belum sempat dia bayar! kali lain kau tidak boleh lupa!!!
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus