Waktu. Adakah kau hanya putaran
detik ke menit yang semakin lama semakin cepat? Ataukah perubahan pola fikir
yang sederhana menjadi luarbiasa berbelit-belit? Kau kah yang telah mencuri
tawa dan tatapan teduhnya atau bahkan kau yang telah merubah warna rambutnya?
Duhai waktu, yang didalamnya
matahari bersinar garang hingga tenggelam dengan semburat jingga, yang
setelahnya bulan bersinar. Sungguh, ingin kukeluhkan semua yang ada dalam
relung ini, namun tidak pada mereka yang selalu berkata “sabarlah, memang
seperti itu” atau “saya juga seperti itu..”. dengar, aku hanya butuh pendengar.
Bukan kisah baru yang mereka tambahkan. Egois? Terserah menurut anda.
Pada laut, yang dengannya ombak
menghempas. Aku merasa, ada sesuatu yang menohok dadaku menembus kepalaku dan
mempermainkan logika dan idealismeku. Semakin lama sakitnya semakin perih,
hingga hampir saja aku menyerah untuk melawan arus. Aku terjebak dalam lautan
bahasa alay, dan rutinitas tak jelas yang juga tak berujung. Aku muak dengan
tingkah yang kekanak-kanakan khas anak TK dan cerita pasaran tak penting. Aku
takut, teramat takut malah jika seorang menghampiriku dan bertanya, “apakah
anda Mahasiswa?” sungguh, aku malu untuk berkata iya, ketika aku merasa belum
berbuat apa-apa sebagai seorang akademisi. Aku rindu. Rindu pada lingkungan
akademik yang didalamnya tidak ada penjual obat yang selalu mengumbar jam
tidurnya ataukah judul sinetron yang tadi malam ditontonnya. Aku rindu pada
guru yang tidak sok menggurui. Mimpi? Terserah apa kata anda, sebut saja aku
pemimpi setidaknya aku bisa berharap lebih baik dari pada menjadi plagiat.
Rindu, begitu banyak hal yang
aku rindukuan, namun tak melebihi rinduku pada diriku sendiri. Aku rindu pada
diriku yang kritis, pada diriku yang kadang berontak, pada diriku yang sibuk
dengan hal-hal akademik, pada diriku yang memiliki focus yang jelas, dan pada
diriku yang dikelilingi oleh orang-orang hebat yang berani bermimpi, tentu
akupun merindukan mereka.
Aku tak tahu, apakah sekarang
aku terlalu khawatir dengan symbol lima huruf kapital diatas kertas sehingga
bungkam pada mereka yang menjual obat bukannya mendidik. Ataukah pada selembar
kertas bertuliskan ijazah dalam map yang membuatku ciut mengkritisi dan
mempertanyakan berbagai macam hal? Entahlah. Jangan katakan aku memiliki
terlalu banyak keinginan yang mustahil, namun ketahuilah ini adalah kebutuhanku
sebagai seorang akademisi. I don’t care what you think about me!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar