Sabtu, 17 November 2012

Sesak.

Lidah ini keluh, mungkin karena terlalu banyak kata yang ingin melompat keluar, saling berebut mendapat posisi di awal kalimat namun bibir ini masih saja rapat terkunci. 
Lihatlah, senyum ini masih berani nampak walau masam rasanya.
Namun tak ada yang dapat mengelabui mata. ia redup. 

Tahukah kalian rasanya tersenyum ketika tangis sudah di ujung pelupuk mata? 
Menahan air mata yang membuat dada sesak, 
menhirup nafas yang setiap hembusannya semakin mendesak, 
memukul-mukul hati hingga tangis pecah?

Sudahlah, kalian tak akan pernah mengerti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar