Hari ini, terik menyengat kulit bahkan tanah pun bercelah. Samar ku dengar bisikan angin yang merindukan hujan. Lalu akupun berujar pada angin kalau aku juga sangat merindukan hujan, aku merindukan hujanku. Hujan yang bangunkan dari lelapku saat pagi telah datang. Rinainya yang mampu sejukkan hariku, bahkan mampu redam galaknya api. Aku rindu saat-saat ku pandangi hujan yang rintiknya jatuh satu-satu, menembus tanah dan mengobati luka tanah bercelah. Ku katakan pada angin, kalau di musim ini aku merana. Aku ingin sekali merasakan sejuknya hujan tapi semesta punya aturannya sendiri.
Sekarang adalah kemarau, dan itu hal yang wajar. Seperti terangnya siang yang ditutupi gelapnya malam, begitu pula hujan. mungkin sekarang belum saatnya hujan turun, tapi aku yakin hujan akan turun pada waktunya karena hujan pun tahu kapan saat yang tepat. Kalaupun siklus hujan sekarang sudah tak menentu, setidaknya hujan akan tetap turun, jika tidak tatanan dunia ini pasti telah rusak. Mungkin ini akan menjadi penantian yang tak menentu tapi mungkin luka ini akan sembuh seiring waktu berlari.
Tak sadar sudah berkali-kali aku menghembuskan nafas berat berharap beban yang menghimpit dadaku ini keluar bersama nafas yang ku hembuskan. mungkin benar kalau aku masih takut, ya sekarang ini aku takut. Aku layaknya anak burung yang belum siap untuk terbang, karena mungkin belum saatnya. Mungkin aku butuh waktu untuk mempersiapkan sayapku agar dapat terentang lebar dan mengepak kuat saat aku terbang nanti. Aku hanya butuh sedikit bersabar untuk dapat taklukkan angin, butuh sedikit keberanian untuk terjun dari ketinggian agar dapat mengepakkan sayap, dan aku butuh keyakinan kalau aku bisa melewati hari-hari tanpa hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar