Hari ini seperti
biasanya, di tempat yang sama dimana kita sering bertemu dan berbincang
seadanya, dan seperti biasa rasa ini masih terpendam dan mungkin akan terus
terpendam dalam hati. Iseng, kucoba mengkalkulasi rentang waktu yang telah ku
lalui dengan rasa ini, dan ternyata dua tahun merupakan waktu yang belum cukup
dan mungkin tidak akan pernah cukup untuk menyimpan rapat dan menyembunyikan
rasa ini.
Aku sadar bahwa tiap
detik yang telah kulalui semakin mematangkan rasa ini, menggrogoti hatiku
seperti sel kanker yang tumbuh dengan cepat mempengaruhi hidupku namun aku
sangat piawai dalam menyembunyikan rasa ini sehingga mungkin kau tidak pernah
menyadari dan mungkin tidak akan pernah menyadarinya, tapi tahukah kau bahwa
ini semakin menyiksaku. Kucoba mengungkapkan rasa ini lewat pandangan mataku
tapi apa daya, sorot matamu begitu tajam dan akupun tak memiliki keberanian
untuk beradu dengannya. Seperti sekarang ini, yang mungkin akan jadi hari
terakhir kita bersama di tempat yang sederhana ini aku belum juga mampu untuk
jujur setidaknya pada diriku sendiri.
Kusadari ada rasa sedih
yang teramat dalam menjalari tubuhku yang membuatku tetap duduk ditempat
sederhana ini tak bergeser, tetap memperhatikan sosokmu meski lewat celah orang
lain, mendengarkan dengan cermat saat kau berbicara meski yang kuperhatikan
hanyalah suaramu, gayamu dalam berbicara yang mungkin akan sangat aku rindukan
ketika engkau pergi sebentar lagi.
Aku tak dapat melawan
waktu, yang bisa kulakukan hanyalah patuh pada putaran detiknya, dan waktunya
pun tiba untukmu pergi meninggalkan ku dengan rasa yang telah mengendap jauh
didasar hati ini. Ingin rasanya aku membunuh waktu hingga hari ini tak kan
pernah ada dan tak kan pernah ada waktu untukmu pergi meninggalkanku, tapi aku
hanya bisa menyimpan sebaris senyummu dalam memoriku.
Kini, aku hanya mampu
memandangi punggungmu dan tanpa sadar menghitung tiap langkah yang semakin lama
semakin jauh meninggalkan sekeping hati yang meradang. Ingin rasanya aku
berteriak memanggil namamu sebelum sosokmu menghilang di tikungan jalan, dan
mencegatmu agar kau tidak pergi tapi sepatah kata perpisahanpun tak mampu ku
ucapkan saat kau memberikanku senyuman terakhirmu karena lidah ini selalu saja
keluh tiap menatap sosokmu dan akhirnya sosokmu pun hilang seiring rinai hujan
pertama yang jatuh pada tanah kering bercelah. Hujan.
oooOooo
Sebelas bulan sudah
sejak hujan pertama turun. Kini, seperti biasa aku masih setia menyimpan rasa
ini seperti dendam yang semakin lama semakin bergejolak dan mendesak untuk keluar.
Hari ini, masih seperti biasanya aku berjalan di bawah gagahnya matahari menuju
tempat sederhana dimana rasa ini mulai tumbuh. Siang yang terik ini membuat
tanah bercelah dan dedaunan pohon mengering, udarapun disesaki bau aspal dan
knalpot yang menyengat. Hanya angin yang sesekali bertiup yang mampu
memberikanku kesejukan. Dengan nafas berat, kulanjutkan langkah ku yang mulai
lemah, dalam hati aku berbisik, “Hujan, betapa aku merindukanmu”.
oooOooo
Tak terasa, setahun
telah ku lalui sejak kepergianmu. Hariku masih seperti biasanya. Tak ada yang
menyadari bahwa hati ini semakin lama semakin sakit dan meradang, sama
sepertiku yang tak menyadari bahwa aku bisa melalui hariku seakan tak terjadi
sesuatu.
Telingaku spontan fokus
dan mataku jeli menyisir tiap orang yang lalu lalang didekatku dan aku hampir
saja tak mempercayai pandanganku sendiri. Di ujung jalan ini, tempat dimana
sosokmu menghilang bersama tetesan hujan, aku tidak lagi melihat punggungmu
tapi aku melihat dadamu yang lapang! Tanpa sadar aku berdiri mematung hingga
sosokmu berada tepat di depanku dengan senyuman yang lebih indah dari pada saat
terakhir aku melihatnya.
Cukup sudah! Aku tak
bisa lagi memaksa hatiku untuk berbohong dan menyembunyikan rasa ini, karena
aku memang menyukaimu. Seiring rinai hujan yang jatuh membasahi kulitku,
kuluapkan semua rasa yang tak dapat lagi aku pendam. Rasa yang selama ini
membuat ekor mataku jeli mengenali sosokmu, membuat telingaku peka akan suaramu
dan bibirku yang tak henti mengukir senyum saat kau ada didekatku. “aku
menyayangimu”. Titik.
Nurhikmah tenri pada. 04.30 rabu, 15
February 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar