Selasa, 11 Desember 2012

just wanna share


Adakah diantara sekian banyak manusia yang ingin berbagi dengaku?
Namun yang ingin kubagi adalah beban yang berat menindih pundakku, letihku, tangisku, keluhku.
Sudikah?
Meluangkan waktu untuk mendengar kisahku, kagumku pada tatanan alam, amarahku, atau mungkin egoku.
Adakah kau yang mau sejenak mengukir senyum di wajah masam ini?

Mengertikah kalian,
Angan ini berada di puncak tertinggi nun jauh sana.
Namun raga ini terpasung oleh kerangkeng aturan dan gembok-besar pamali.
Salahkah?
Apa karena aku wanita lantas tak punya hak istimewa seperti anak lelaki yang bebas mengembara?
Lantas apa arti dari pepatah “tuntutlah ilmu sampai negeri cina”? kalau hanya mengagumi megahnya langit malam diluar pintu rumahpun tak boleh?

Mengertilah,
Bukankah kau pernah berucap kalau aku adalah emas?
Emas yang terkubur dalam lumpurpun tak ada gunanya.
Bukankah kau menginginkan benihmu tumbuh dan mewarisi sifatmu?
Lalu mengapa masih saja kau rentangkan larangan yang mencekik?
Aku selalu ingat kisahmu tentang magisnya kuasa Sang Pencipta yang kau nikmati di puncak sana, tentang betapa luas kuasa-Nya saat kau salami dalamnya lautan.

Ingatlah,
Aku adalah benihmu.
Kode genetik yang kau wariskan ada padaku, dan itu mutlak.
Lalu apa yang kau sangsikan dariku?
Apa yang membuatku berbeda darimu,
hingga tak kau idzinkan untuk mengecap indahnya kuasa Sang pencipta?


I need a peaceful place without crowded.
I need a place to be with myself.
I need a friend to share.
‘cause I’m too tired to endure it alone.
I need it.


WebRep
Overall rating
This site has no rating
(not enough votes)

Sabtu, 08 Desember 2012

Diskusi dan Pemutaran Film Bahari


Siang ini, lima menit menjelang pukul tiga aku masuk dengan langkah tergesah ke gedung graha pena dengan kondisi sepatu basah dan baju yang dipenuhi bercak-becak air hujan. Sedikit uring-uringan di depan pintu lift yang semuanya tertutup, tujuanku adalah lantai empat. Tempat acara diskusi dan pemutaran film bahari pesta budaya selat Makassar. Bayangan telat terus membuat syarafku tegang dan tubuhku bereaksi berlebihan, maklum undangan yang datang melalui pesan singkat menyatakan acara dimulai pukul dua. Ting. Akhirnya pintu lift terbuka dan kurang dari tigapuluh detik kakiku sudah berada didepan tempat pelaksanaan acara. Ruangan sepi, hanya beberapa orang dengan kartu identitas panitia yang tergatung di leher terlihat lalu-lalang. Perasaanku sudah tidak enak, jangan-jangan acara sudah selesai! Padahal sudah hujan-hujanan dijalan demi untuk menonton film tentang bahari, ya segala hal menyangkut laut, gunung dan adventure tak akan kulewatkan. Sedikit cemas aku menghampiri meja registrasi dan bertanya pada salah satu panitia
“Maaf kak, ini tempat diskusi dan pemutaran film bahari ya?”
“Iya, silahkan tulis namanya di kolom ini” sambil menyodorkan kertas.
Ketika kulihat, baru dua baris pada kolom nama yang terisi dan namaku berada diurutan ketiga. Ada rasa lega yang menjalar didadaku, ternyata acara belum dimulai. Segera saja aku duduk dan merapikan pakaian tepatnya penampilanku yang sedikit berantakan. Sekitar lima menit menunggu, duduk sendirian, tak ada kerjaan iseng ku utak-atik laptopku dan mencoba untuk menulis satu cerita. Dua puluh menit berlalu dan acara belum juga mulai, tak ada tanda-tanda penambahan jumlah pengunjung. Aku mulai resah dan bosan. Lima menit berikutnya, dosenku (Rahmat Saleh, S.Pd, M.Pd) datang dan menyapaku sembari duduk tepat disampingku. Kamipun terlibat percakapan seputar budaya, laut, traveling hingga akhirnya acara pemutaran filmpun dimulai.
            Ada dua film yang ditampilkan. Film pertama merupakan film pedek (documenter) berdurasi sekitar tujuh menit dan berkisah tentang pelestarian budaya bahari nusantara. Film kedua berdurasi sekitar tiga pluh menit, menceritakan tentang wawasan bahari salah satu pulau terpencil yang terletak di kawasan timur Indonesia yaitu pulau Ilpokil. Kedua film tersebut menampilkan satu tokoh yang sama yaitu seorang putra bangsa yang telah menempuh perjalan dari San Francisco ke Indonesia melalui jalur laut selama kurang lebih sebelas bulan seorang diri, Rob Rama akrab disapa dengan Bang Rama.
            Setelah sesi pemutaran film usai, host acara memberikan kesempatan pada pengunjung untuk bertanya pada bang rama yang hadir sebagai bintang tamu. Beberapa pesertapun memanfaatkan kesempatan ini untuk mengobati rasa penasaran tentang laut, cara menaklukkan lautan, ataupun ingin mendengar kisah lain dari petualangan Rob Rama. Salah satu kisah yang paling mengusik pikiranku adalah penuturannya tentang sampah.
Rob rama mengungkapkan bahwa di tengah lautan terdapat pulau yang terbentuk dari plastic sampah, dan luasnya sebesar pulau Bali! Tidak hanya satu Pulau tapi beberapa pulau! Can you imagine that?! Bahkan pulau plastic tersebut juga tak jarang menjerat binatang laut dan dapat membahayakan kehidupan laut. Kisah ini harusnya membuat kita sadar akan kondisi lingkungan dan tidak membuang sampah kelautan. Tidak hanya itu, Bang Rama juga mengungkapkan bahwa terkadang para nelayan menangkap ikan yang masih kecil, padahal ikan-ikan tersebut merupakan benih dan asset untuk generasi selanjutnya.
Penuturan kisah Rob Rama membuat kami yang hadir dalam acara tersebut sadar akan pentingnya menjaga kelestarian bahari terlebih Indonesia merupakan Negara kepulauan yang disatukan oleh lautan. Terbesit rasa banggaku pada sosok Rob Rama yang masih setia memperhatikan kondisi Bahari Nusantara dan tidak hanya sekedar pengungkapan melalui kata dan teori namun juga aksi.
Setelah acara diskusi usai, pengunjungpun satu-satu bengkit meninggalkan ruangan, namun tidak denganku. Aku ingin mengabadikan moment ini dan juga sosok Rob Rama yang telah menambah kobaran semangat dalam diriku untuk terus mewujudkan mimpiku, “menyelami lautan terdalam dan mendaki gunung tertinggi”. Dengan bantuan Pak Rahmat, akhirnya aku bisa berfoto dengan Rob Rama, Makasih pak. Maaf merepotkan (kundangnya aku, ckckck).
Acara usai, kami pulang dengan pikiran masing-masing. Entah ada yang berfikir untuk melestarikan budaya bahari, atau berfikir untuk mengunjungi pulau dalam film, atau bahkan ada yang tidak berfikir sama sekali. Entahlah. Aku, melangkah keluar Gedung dengan senyum yang muncul malu-malu memandangi wallpaper Hp yang telah berganti latar aku dan Rob rama.



Gunung dan laut, terentang jarak yang tidak dekat mengantarai, dan aku akan menjadi penghubung. Setia mengabarkan gunung tentang laut dan menyampaikan salam gunung pada laut.

Selasa, 04 Desember 2012

on ITC


Ada sensasi aneh yang menguasaiku,
Seperti luapan hormone adrenalin yang mengalir terus-menerus,
Menjalari sekujur tubuhku.
Terlebih ketika kurasakan dingin menjalar dari jemariku,
Yang berpindah dari kaca berembun.
Mereka tampak kecil di bawah kaki ku.
Ini barulah lantai Sembilan sebuah gedung,
Pun masih dibatasi oleh kaca dan belum kurasakan dinginnya angin yang berhembus.
Aku, dan mimpiku.
Berhayal kalau saja tempatku berpijak sekarang adalah puncak bukit
Dengan lembah bagai tak bertepi.
Kan kubiarkan angin menghempas bebanku.
Dan kaki kecil ini akan tetap kokoh seperti aku menggenggam mimpi ini.

                                                                                    Nurhikmah Tenripada

Sabtu, 17 November 2012

Sesak.

Lidah ini keluh, mungkin karena terlalu banyak kata yang ingin melompat keluar, saling berebut mendapat posisi di awal kalimat namun bibir ini masih saja rapat terkunci. 
Lihatlah, senyum ini masih berani nampak walau masam rasanya.
Namun tak ada yang dapat mengelabui mata. ia redup. 

Tahukah kalian rasanya tersenyum ketika tangis sudah di ujung pelupuk mata? 
Menahan air mata yang membuat dada sesak, 
menhirup nafas yang setiap hembusannya semakin mendesak, 
memukul-mukul hati hingga tangis pecah?

Sudahlah, kalian tak akan pernah mengerti.

Rabu, 14 November 2012



  
Bunga,
Kau yang selalu bisa mengusir penatku walau hanya dengan senyum lugumu menyambut datangku..
Dengan mata yang berbinar walau tak jarang mata itu mendung
dan tangan yang terulur minta gendong,
Sungguh, pelukan dari tangan mungilmu mampu menanggalkan beratnya beban di pundakku.
Sayang, tak usah dengarkan kata mereka pun tatapan kasihan mereka!
Aku menyayangimu apa adanya dengan segenap sayang dan perhatian yang dapat kuberikan untukmu,
Aku menyayangimu bunga kecilku.
tak usah hiraukan mereka yang telah tumbuh dan mampu berucap dengan jelas,
atau mereka yang telah berlari mendahuluimu,
kau adalah dirimu,
senyum tulus mu itu lebih dari segalanya untuk menyatakan kalau kau adalah spesial.
Bunga, mekarlah musim semi menantimu sayang…


No matter what, I LOVE U!

Selasa, 06 November 2012

tik-tok-tik-tok-tiiiiiiiiiiiittt!!!


Waktu. Adakah kau hanya putaran detik ke menit yang semakin lama semakin cepat? Ataukah perubahan pola fikir yang sederhana menjadi luarbiasa berbelit-belit? Kau kah yang telah mencuri tawa dan tatapan teduhnya atau bahkan kau yang telah merubah warna rambutnya?
Duhai waktu, yang didalamnya matahari bersinar garang hingga tenggelam dengan semburat jingga, yang setelahnya bulan bersinar. Sungguh, ingin kukeluhkan semua yang ada dalam relung ini, namun tidak pada mereka yang selalu berkata “sabarlah, memang seperti itu” atau “saya juga seperti itu..”. dengar, aku hanya butuh pendengar. Bukan kisah baru yang mereka tambahkan. Egois? Terserah menurut anda.
Pada laut, yang dengannya ombak menghempas. Aku merasa, ada sesuatu yang menohok dadaku menembus kepalaku dan mempermainkan logika dan idealismeku. Semakin lama sakitnya semakin perih, hingga hampir saja aku menyerah untuk melawan arus. Aku terjebak dalam lautan bahasa alay, dan rutinitas tak jelas yang juga tak berujung. Aku muak dengan tingkah yang kekanak-kanakan khas anak TK dan cerita pasaran tak penting. Aku takut, teramat takut malah jika seorang menghampiriku dan bertanya, “apakah anda Mahasiswa?” sungguh, aku malu untuk berkata iya, ketika aku merasa belum berbuat apa-apa sebagai seorang akademisi. Aku rindu. Rindu pada lingkungan akademik yang didalamnya tidak ada penjual obat yang selalu mengumbar jam tidurnya ataukah judul sinetron yang tadi malam ditontonnya. Aku rindu pada guru yang tidak sok menggurui. Mimpi? Terserah apa kata anda, sebut saja aku pemimpi setidaknya aku bisa berharap lebih baik dari pada menjadi plagiat.
Rindu, begitu banyak hal yang aku rindukuan, namun tak melebihi rinduku pada diriku sendiri. Aku rindu pada diriku yang kritis, pada diriku yang kadang berontak, pada diriku yang sibuk dengan hal-hal akademik, pada diriku yang memiliki focus yang jelas, dan pada diriku yang dikelilingi oleh orang-orang hebat yang berani bermimpi, tentu akupun merindukan mereka.
Aku tak tahu, apakah sekarang aku terlalu khawatir dengan symbol lima huruf kapital diatas kertas sehingga bungkam pada mereka yang menjual obat bukannya mendidik. Ataukah pada selembar kertas bertuliskan ijazah dalam map yang membuatku ciut mengkritisi dan mempertanyakan berbagai macam hal? Entahlah. Jangan katakan aku memiliki terlalu banyak keinginan yang mustahil, namun ketahuilah ini adalah kebutuhanku sebagai seorang akademisi. I don’t care what you think about me!

Senin, 22 Oktober 2012

22 oktober 2012 23:06

"gini aja, aku mau kamu jadi guru privatku. Brapa?"
................
"okay, kamu hanrus mau, see you next meeting, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"

whaaaaaat!!!!!!
and I'm speechless, belum sempat ngomong atau protes segala macam dia udah tutup tlp, mana nelphon langsung ngancam lagi! aaaarrgghhhh......

begitulah, obrolan amat singkat dan padat bikin kaget ala teman baruku.

*man with glasses