Terimah kasih.
Setelah kering dan terik,
akhirnya rinai ini kembali menyapa.
membersihkan atmosfir yang begitu menyesakkan.
menyuguhkan sejuk dan sendu,
menyembuhkan sembilu.
mengabarkan gembira.
"Hujan yang bermanfaat" Amin.
Minggu, 06 Oktober 2013
Kamis, 03 Oktober 2013
friend in silence.
Hei kau.
Iya, kamu.
kemarilah dan duduk di depanku.
jika saja kau bisa mengindera,
karena aku hanya ingin mengutarakan semuanya lewat tatap.
karena lidah terkadang keterlaluan dan tulisan biasanya hiperbolis.
tapi bagaimana lagi?
bagaimana harus ku bertingkah?
sepertinya ini semakin runyam.
karena aku sebegitu egoisnya,
dan puluhan kalimat menuntut kesempurnaan seakan menari dalam kepalaku.
kalimat itu seakan mengejek ku.
aku?
iya, pantaskah kala aku sendiri tersasar dalam ruang imajinasi?
dunia yang ku ciptakan sendiri?
dan tak sadar jika aku hanya menuntut aku, diriku sendiri.
hei kau,
jangan paksa ku untuk meminta dua kali.
sudah kukatakan susah untuk memperkecil ukuran ego-ku.
jadi tetaplah disini.
ditempat ini.
tolong jangan pernah paksa ku untuk memohon,
duduklah lebih lama,
karena bisa saja tak ada lagi waktu yang lebih lama
temani aku, ya?
meski tak ada kata yang terucap.
itu sudah lebih dari cukup.
entah, bagaimana.
aku rindu.
kamu.
(ini hanyalah sepenggal rasa yang berceceran dalam tiap derap langkah tergesah, hanya sepotong asa dalam letih tak terperih, atau mungkin hanya coretan yang tak termaknai)
Iya, kamu.
kemarilah dan duduk di depanku.
jika saja kau bisa mengindera,
karena aku hanya ingin mengutarakan semuanya lewat tatap.
karena lidah terkadang keterlaluan dan tulisan biasanya hiperbolis.
tapi bagaimana lagi?
bagaimana harus ku bertingkah?
sepertinya ini semakin runyam.
karena aku sebegitu egoisnya,
dan puluhan kalimat menuntut kesempurnaan seakan menari dalam kepalaku.
kalimat itu seakan mengejek ku.
aku?
iya, pantaskah kala aku sendiri tersasar dalam ruang imajinasi?
dunia yang ku ciptakan sendiri?
dan tak sadar jika aku hanya menuntut aku, diriku sendiri.
hei kau,
jangan paksa ku untuk meminta dua kali.
sudah kukatakan susah untuk memperkecil ukuran ego-ku.
jadi tetaplah disini.
ditempat ini.
tolong jangan pernah paksa ku untuk memohon,
duduklah lebih lama,
karena bisa saja tak ada lagi waktu yang lebih lama
temani aku, ya?
meski tak ada kata yang terucap.
itu sudah lebih dari cukup.
entah, bagaimana.
aku rindu.
kamu.
(ini hanyalah sepenggal rasa yang berceceran dalam tiap derap langkah tergesah, hanya sepotong asa dalam letih tak terperih, atau mungkin hanya coretan yang tak termaknai)
A letter in a bottle
You’re not the best, you’re just special
Kau resmi menanggalkan angka belasan di usiamu.
Semoga
syukur adalah kata pertama yang terucap,
saat
kesempatan untuk menghirup udara masih bisa kita nikmati.
Bertambah
usia dalam hitungan kita, berkurang pula usia dalam hitungan-Nya.
Semoga detik
ini dan menit-menit berikutnya,
dapat
menjadikan kita lebih tegap berdiri dengan tunduk dijalan-Nya.
Semoga usia
kita dipanjangkan,
Agar dapat
lebih bersyukur,
Agar dapat
lebih bermanfaat,
Dan tentu
saja agar dapat lebih memperbanyak ibadah karena-Nya.
Dan sekarang
marilah kembali bersyukur karena kita masih diberi nikmat Iman, dan semoga tak
pudar hingga detaknya berhenti.
Amin.September, 2013.
What I've done?
Ibarat menulis surat lalu menggulungnya dan dimasukkan kedalam botol, kemudian melemparnya sekuat tenaga menuju ombak yang kemudian menghempaskannya ke sudut pantai lain.
Sebesar apapun harapan akan surat itu sampai pada orang yang dituju, tetap saja kemungkinnya hampir mustahil surat itu ditemukan oleh orang yang dimaksud. Bisa saja suratnya tak pernah mencapai pantai, hanya mengapung ditengah lautan, terjerat bersama sampah lainnya.
dan rasa ini seperti buih ombak yang lebur menghempas karang dan pasir pantai. Berderai tanpa sempat sadar kalau jutaan gelembung kecilnya telah meletus dan raib.
lalu apa gunanya merangkai kata jika suratnya tak akan pernah sampai ten? It was too late.
Minggu, 29 September 2013
Exhausted
I do miss this place somehow.
when i could only be with myself
watched the sun appears and magically the tip of corn flowers were sparkling.
feel the wind blew, and drops of the rain.
thinking about many things and every things and might be realized several things.
pretended that every things okay.
only to got myself smiling.
i wasn't tricking myself, it was only a rest.
and i need it right now. Somehow.
Selasa, 24 September 2013
2nd. Bromo.
Journey to the crater of Bromo. Selang seminggu setelah menikmati pemandangan dari puncak kelud, kembali kami melakukan traveling ke target selanjutnya, Bromo. Selain kawah, Bromo juga terkenal dengan sunrise spotnya yang menyajikan panorama sunrise yang menawan, dan tentu saja kami juga tidak ingin ketinggalan kesempatan menyaksikan sunrise dari ketinggian sekitar 2000m dpl. Maka, jadilah kami berangkat dari Pare, Kediri sekitar pukul 9 pm dengan bantuan jasa travel. sebelum berangkat, tentu saja kami melakukan beberapa persiapan seperti berburu jaket tebal tpi murah (^_~), menyediakan logistik, sampai tidak lupa membawa selimut dan bantal (untuk tiduran diatas mobil) dan alhasil kami terlihat seperti keluarga yang akan pindah rumah. maklum, ini perjalan kami yg pertama ke bromo (semoga bukan yg terakhir, amiin) dan kami agak parno dengan komentar orang-orang yang sudah ke bromo sebelumnya yang katanya bertemperatur rendah, jadi sebaiknya menyiapkan jaket, kaos tangan, kaos kaki, syal, dan kupluk.
Lokasi berikutnya terkenal dengan nama pasir berbisik. Mengapa demikian? bukan karena pasir didaerah itu bisa berbicara, tapi tempat tersebut pernah dijadikan lokasi pemutaran film dengan judul "pasir berbisik". demikian legendanya.
Moment ini pas saya sedang berusaha mendaki bukit pasir dengan agak susah, naik selangkah, merosot lagi beberapa langkah. -_-".
Masih sempat main tembak-tembakan, lima kali kesempatan nembak tapi tidak satupun yang berhasil kena sasaran, hmm. payah. Padahal mimiknya sudah (sok) serius. :-P
Tiba di kawasan Bromo dini hari dan komentar orang-orang ternyata benar, dingiin! dan kami lebih kaget lagi mendengar komentar ibu-ibu dan bapak-bapak yang jualan kupluk, katanya di atas (sunrise spotnya) dua sampai tiga kali lebih dingin dari tempat kami sekarang. -_-"
kami tiba di sunrise spot terlalu cepat sepertinya, karena kami masih harus menunggu sekitar satu jam lebih sebelum sunrise. Tapi di tempat itu kami disuguhi pemandangan langit malam yang bertabur bintang. Malam itu, bulan berbentuk sabit dan jutaan bintang berpendar di pekat langit. Pemandangan yang sangat susah untuk dinikmati di kawasan perkotaan akibat polusi cahaya. Duduk manis sambil menikmati gugusan bintang kedengarannya indah, but i've told you that it's hard to do! well, kami tidak bisa hanya duduk diam sambil menatap langit pada suhu yang se-ekstrim ini. Diam beberapa menit saja berhasil membuat kami menggigil. That time, I couldn't feel my toes! jadilah kami mondar-mandir, lompat-lompat tidak jelas, dan menatap iri pada turis-turis bule yang hanya mengenakan pants dan nampak tidak kedinginan sama sekali.
Berikut beberapa foto hasil jepretan kemarin, sayangnya saya lupa mengambil file fotonya pas moment sunrise.
Sunrise spot, beberapa menit setelah sunrise. Beruntung karena cuaca cerah dan kami bisa melihat beberapa pemandangan lain seperti kawah bromo dan puncak semeru.
Setelah dari sunrise spot, kami mengunjungi beberapa lokasi lain di kawasan wisata Bromo dengan mengendarai jeep. (FYI, jika menggunakan jasa travel, jeep sudah termasuk dalam ongkos travelnya).
Lokasi ini adalah tanah lapang yang sangat luas (lupa namanya apa >_<), ditumbuhi beberapa tanaman seperti ilalang dan lainnya.
We're not the seven icon.
Dari kiri ke kanan, Lia, Tenri, Dewi, Rukman (the only guy that we had, but is he a real guy? :-/ hehe), Nuris, Fifi, dan Eka. ^_^
Lokasi berikutnya terkenal dengan nama pasir berbisik. Mengapa demikian? bukan karena pasir didaerah itu bisa berbicara, tapi tempat tersebut pernah dijadikan lokasi pemutaran film dengan judul "pasir berbisik". demikian legendanya.Moment ini pas saya sedang berusaha mendaki bukit pasir dengan agak susah, naik selangkah, merosot lagi beberapa langkah. -_-".
Ini dia kawah Bromo.. Untuk dapat sampai ke atas sini, kami melalui jalur pendakian tangga, ada sekitar dua ratusan anak tangga yang harus dilalui untuk sampai ke bibir kawah, lumayan melelahkan.
Tapi selain melalui tangga, kawah bromo juga menyediakan "perosotan raksasa" bagi kalian yang ingin menguji seberapa besar nyali anda untuk main perosotan, dan kami salah satu yang ikut main waktu itu. Tapi sebetulnya saya waktu itu turun sambil jalan seperti kepiting, alias jalan menyamping dan yang meluncur bebas hanya tas ransel kesayangan saya yang akhirnya kotor berlumur pasir.
Setelah keliling kawasan wisata Bromo, kami ke wisata air terjun Coban Rondo, Malang, sebelum kembali ke pare.
Masih sempat main tembak-tembakan, lima kali kesempatan nembak tapi tidak satupun yang berhasil kena sasaran, hmm. payah. Padahal mimiknya sudah (sok) serius. :-P
That's all the story this time, semoga masih diberi kesempatan berkunjung ke tempat-tempat indah lainnya dan berbagi di blog ini. ^_^
Senin, 23 September 2013
1st
Tulisan ini hanya untuk mengingatkan diriku sendiri kalau ini betul bukan hanya sebuah mimpi.
Berdiri di puncak ternyata bukanlah hal yang mustahil, meski tak mudah. Tak peduli walau ini bukanlah puncak tertinggi, atau ini bukanlah puncak mahameru, jayawijaya, fuji, atau bahkan bawakaraeng. Walau daftar gunung barusan masih tetap dalam list agenda traveling berikutnya, next time, who knows?
Tak peduli walau hanya mendaki tangga, bukan jalan terjal di iringi semak. Ini tetaplah puncak.
Here the stairs that we've climbed. Awalnya melangkah mantap, nafas normal, bibir masih tertarik dan melengkung kebawah. puluhan anak tangga berikutnya, langkah mulai melambat, ratusan langkah setelahnya dada kembang-kempis, mulut ikut-ikutan menghirup udara, ritme jantung menggebu, adrenalin mengingkat, dan hei ada candu bernama euforia yang juga membesar seiring jejak kaki yang tertinggal di setiap anak tangga.
Berdiri di puncak ternyata bukanlah hal yang mustahil, meski tak mudah. Tak peduli walau ini bukanlah puncak tertinggi, atau ini bukanlah puncak mahameru, jayawijaya, fuji, atau bahkan bawakaraeng. Walau daftar gunung barusan masih tetap dalam list agenda traveling berikutnya, next time, who knows?
Tak peduli walau hanya mendaki tangga, bukan jalan terjal di iringi semak. Ini tetaplah puncak.
Gunung kelud, Jawa Timur. Pendakian (tangga) pertama. Bermodalkan keinginan kuat (baca: nekat), kamera pocket, motor sewaan, dan tentu saja (lagi) berhasil mengajak (baca: memaksa) my beloved friend (:-P). sorry men i've forced you over and over, but i was enjoy it. hehe. ups.
Bukan soal menaklukkan puncaknya, tapi menguji keteguhan. Berpijak di puncak tidaklah dalam selangkah. we were fasting, and that was noon, and now i'm thinking that it was little bit crazy, but fun ofcourse!
Here the stairs that we've climbed. Awalnya melangkah mantap, nafas normal, bibir masih tertarik dan melengkung kebawah. puluhan anak tangga berikutnya, langkah mulai melambat, ratusan langkah setelahnya dada kembang-kempis, mulut ikut-ikutan menghirup udara, ritme jantung menggebu, adrenalin mengingkat, dan hei ada candu bernama euforia yang juga membesar seiring jejak kaki yang tertinggal di setiap anak tangga.
Here I am. I got a feeling that i couldn't ever describe how it looks like. I could enjoy the silence, or heard the wind blew, and the bird sang, and also the guy talked.
Terima kasih untuk udara yang masih bisa kuhirup, untuk kaki yang masih kuat berpijak, dan untuk setiap kesempatan melihat tanda-tanda kebesaranMu.
also for you too, I realize that I did a lot of mistake, but even, I gotta say this.
also for you too, I realize that I did a lot of mistake, but even, I gotta say this.
Thanks men.
Langganan:
Postingan (Atom)









