Semilir angin menyentuh wajahku, memainkan kerudungku. Sejuk.
Bulir keringat yang jatuh satu-satu mulai kering.
Pucuk-pucuk pohon pinus berjejer rapi menghadap ke arahku, memamerkan strobilus- strobilus coklat yang masih bergelantungan.
Ramai kicauan burung dan suara daun saling bergesekan..
Seulas senyum simpul tak dapat ku tahan.
Aku menikmati momen seperti ini,
Saat udara mulai sejuk, dan burung-burung ramai bersiul.
Saat tanah di tumbuhi pohon-pohon raksasa dan hijau menyembunyikan coklatnya.
Sepertinya suasana ini memikat hatiku,
Mengingatkan akan mimpi-mimpi yang belum ku gapai,
dengan landscape gunung yang menjulang,
masih sama, berharap menjejak di puncaknya.
"Ten, untuk jurusan Biologi, kampus ini yang terbaik se-Indonesia"
luluh sudah, ingin ku meluber, seakan merembes ke setiap pori tubuhku.
dan cerita-cerita mengagumkan lainnya membuat ku semakin panas,
mendidih karena bangga.
aku ingin seperti mereka, bahkan lebih.
dan lagi, tempat ini semakin memikatku.
Sabtu, 06 Juli 2013
Jumat, 21 Juni 2013
reflection.
kamu siapa? tanya ku pada seseorang yang terperangkap dalam kaca.
tapi ia tak menjawab.
hanya saja aku merasa jengah ketika ia harus mengikuti tiap gerikku.
begitu seterusnya hingga membuatku marah.
dan lihatlah, ia menangis!
astaga, aku bahkan tidak menyentuhnya.
dasar cengeng.
aku mendengus sangking kesalnya.
tapi itu malah membuat tangisannya menderas.
astaga!
terpaksa ku tekan egoku untuk membujuknya.
sudahlah, berhenti menangis seperti anak kecil, dan jangan merajuk!
dan hei, dia akhirnya menurut,
walau ia masih saja menggigit bibirnya yang bergetar.
dia terlihat hmmm, entahlah..
aku bukan kamus yang bisa mendefenisikan jutaan kata.
sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan,
lalu akupun berdiri mematung didepannya, menunggu dengan sedikit tidak sabaran,
ia masih saja menendang-nendang sembarang debu di depannya.
beberapa menit berlalu,
hanya hening.
aku tak bisa memaksanya bicara,
bahkan walau kugertakpun malah hanya akan membuatnya menangis.
hei, dia itu siapa?
berhenti mengikuti gerikku!
tapi ia tak menjawab.
hanya saja aku merasa jengah ketika ia harus mengikuti tiap gerikku.
begitu seterusnya hingga membuatku marah.
dan lihatlah, ia menangis!
astaga, aku bahkan tidak menyentuhnya.
dasar cengeng.
aku mendengus sangking kesalnya.
tapi itu malah membuat tangisannya menderas.
astaga!
terpaksa ku tekan egoku untuk membujuknya.
sudahlah, berhenti menangis seperti anak kecil, dan jangan merajuk!
dan hei, dia akhirnya menurut,
walau ia masih saja menggigit bibirnya yang bergetar.
dia terlihat hmmm, entahlah..
aku bukan kamus yang bisa mendefenisikan jutaan kata.
sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan,
lalu akupun berdiri mematung didepannya, menunggu dengan sedikit tidak sabaran,
ia masih saja menendang-nendang sembarang debu di depannya.
beberapa menit berlalu,
hanya hening.
aku tak bisa memaksanya bicara,
bahkan walau kugertakpun malah hanya akan membuatnya menangis.
hei, dia itu siapa?
berhenti mengikuti gerikku!
Minggu, 09 Juni 2013
Coffee lover
Jika saja kejadiannya tidak pada perkebunan kopi
dalam hutan di atas bukit dengan tanah landai dan licin, ditambah perintah dari
dosen tercinta kami dan wanti-wanti dari warga pemilik kebun kopi, mungkin kami
sudah menganggapnya pecandu kopi yang teramat fanatic. Dengar saja kampanyenya
yang meneriakkan kalimat-kalimat
“Jangan
rusak kopinya!”
“Jangan
pegang kopinya!”
Sampai kalimat “Sayangi kopi!!!” berkali-kali
terdengar nyaring, atau mungkin tepatnya galak bersahut-sahutan dari moncong
megaphone yang bertengger di bahunya. Well, padahal hari itu kabanyakan dari
kami berkesimpulan kalau mungkin ia lebih peduli pada dahan-dahan kopi
ketimbang kami-kami yang nyaris kepeleset karena dengan lantang DILARANG keras
berpegangan pada dahan kopi yang sangat ia sayangi. :-p
Pagi berikutnya, saat matahari hangat menyapa,
telapak ini kembali menyusuri jalan-jalan lengang desa asri lanyying. Lalu
beberapa menit kemudian, bukan lagi jalan aspal yang kami tapaki, namun serasah
pinus pada jalan setapak mendaki. NEKAT. Niat menjejak kaki di puncak bukit
yang menantang untuk di daki, kami berempat dengan nafas yang tersengal
menguatkan pijakan pada jalan dengan kemiringan yang di buat dengan tidak
memperhatikan kenyamanan pejalan kaki. Beberapa menit berjalan, salah seorang
dari kami berhenti, istirahat katanya. It’s
okay, kami bertiga melanjutkan jalan, membujuk kaki untuk tetap menapak.
Beberapa meter kemudian, seorang lagi berhenti. “disinimeka menunggu” katanya.
Jadilah saya yang sudah teramat niat ingin
merasakan sensasi berdiri tegak di puncak gunung (tapi dalam hal ini masih
terhitung bukit) ngotot mendaki di temani dengan sang-penyayang-kopi. Hhehe.
Langkah demi langkah, jalanan nampaknya semakin
tak berperikemanusiaan. Kemiringannya makin landai, ukurannya makin sempit dan
menjurus kepinggir, salah langkah bisa terpleset dan meluncur bebas seperti di
perosotan, namun bedanya perosotan disini sama sekali tidak mulus. Walau nafas
semakin pendek, peluh deras mengucur, kaki gemetar menopang berat badan (meski
sebetulnya badan ku tidak berat-berat amat), karena sudah niat mau ke puncak
akhirnya kaki mau juga di bujuk untuk tetap berjalan. Tapi sayangnya beberapa
menit berjalan, jalanan betul-betul sudah tidak bisa di ajak berdamai. Tidak
ada ada lagi jalan setapak, dan jalananya juga sudah hampir lurus 90o.
Padahal kami sudah melewati kebun kopi, dan mungkin tinggal beberapa ratus
meter lagi sampai puncak. Tapi karena larangan dari sang-penyayag-kopi dan
masih teringat teriakannya kemarin di perkebunan kopi, untuk kali ini aku
menurut saja untuk tidak melanjutkan pendakian.
Kiri-kanan tempat kami berhenti, padat akan tanaman.
Layaknya pemandangan hutan biasanya, namun ketika berbalik dan memandang
kebawah, perkebunan nampak lebih indah dari sudut pandang kami ditempat itu.
Jauh di bawah tempat kami berpijak, perkebunan nampak elok, berlekuk-lekuk
mengikuti kelandaian tanahnya, tanamannya rapi, sejajar. Ditambah warna
keemasan sinar matahari berpendar, memantul dari pucuk-pucuk hijau. Hanya
senyum yang rekahannya tak mampu kutahan sebagai ungkapan akan semua keindahan
lanscpe yang kunikmati ini.
Ternyata, perjuangan menuruni bukit lebih berat
dari pada saat pendakian. Kami harus berjalan seperti kepiting dengan bertumpu
pada kaki kanan, dan sungguh, itu SUSAH. Berkali-kali kaki ku hampir terpelesat
dan
“Pegang
ini biar gampang turun” kata sang-penyayang-kopi sambil nunjuk batang kopi.
“Ajaib, mudah-mudahan tidak
salah dengar” gumamku. Sambil menahan tawa yang hampir meledak mengingat
kalimat-kalimat kampanye sayangi-kopi yang ia gembor-gemborkan kemarin.
Sebelum kembali kerumah warga tempat kami
menginap langkah kaki ku berbelok ke jalan yang belum pernah ku lalui, iseng
hanya ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi, dan juga untuk
sekedar memusakan mata menyimpan berbit-bit memori tentang landscape indah desa
ini, sebelum sebentar lagi kami kembali ke kepadatan kota yang menjemukan.
Sungguh, aku rela di marahi atau bahkan di katto
dari pada harus melewatkan view ini. Bukit-bukit perkebunan yang mirip
bukit-bukit teletubies, hamparan hijau dan biru langit yang seakan menyatu,
pagar-pagar kayu, latar bukit dengan lengkungan puncak yang seperti busur
mistar, embun yang menggelanyut di ujung-ujung daun. Tak ada lagi kata yang
mampu ku ungkapkan. Aku hanya ingin memandanginya lagi dan lagi, berusaha
mengingat tiap paduan warnanya dengan jelas, dan tidak dapat ku pungkiri, ada
haru yang menyentil sudut rasaku. ada protes yang bergejolak, ada berontak yang
tertahan, semuanya padu. Namun syukur adalah rasa yang menjalar di tiap cc
darahku. Sungguh, tak ada nikmat yang dapat kupungkiri.
Terima kasih.
Untuk jantung yang masih berdetak dan untuk
udara yang masih bisa kuhirup.
Nb: untuk sang-penyayang-kopi, terimah kasih
untuk keberatan hatinya menemani lebih dekat ke puncak, dan untuk ucapan “yaa”
di tiap pijakan kakiku. Maaf sudah merusak kopi. :-p
Selamat datang, Juni.
Kepulan kabut mengawali bulan juni.
Sebuah desa, di dataran tinggi kawasan gunung
lompo battang. Lanyying.
Uap air yang meng-asap dari mulut, membuat kami
iseng ber-haaah ria, berlagak sedang berada di koreaahh. Measki menggigil, gemelutuk
gigi makin nyaring, dan pelukan pada jaket yang berkali-kali dirapatkan, dinginnya
lantai kayu yang berderak-derak, hingga air yang membuat tulang-tulang seakan
beku, desa ini telak memikatku.
Geremis di awal pagi, dan pelangi setelahnya
menjadikannya indah.
Embun yang menguap dari batang-bantang tanaman
kopi, kayu-kayu lapuk, bahkan bebatuan tampak seperti asap tipis yang di
hembuskan, cahaya mentari yang berpendar-pendar di pucuk daun kopi, dan mawar
merah yang merekah, elok.
Derap langkah, tapak per tapak disuguhi aroma Lantana camara, berpadu dengan aroma Pinus merkusii, rumput, dan tanah yang
basah seakan menguatkan tiap langkah yang menjejak, menjalarkan semangat,
merekahkan senyum.
Riak air sungai, kicauan burung dan serangga
bahkan lebih menentramkan dari pada music yang mereka sebut metal alias
“mellow-total”.
Kuhirup udara yang begitu segar hingga batas
kapasitas paru-paruku menampung udara dan mengehembuskannya perlahan, sunggu
“nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?”
Selasa, 14 Mei 2013
pergi dan kembali itu lumrah, tak selamnya semua akan statis, diam tak berubah.
pucuk daun yang dulunya masih hijaupun akan gugur, menguning, coklat kemudian terurai.
tak ada yang kekal kecuali Allah yang Esa.
yang bisa dengan mudah membalikkan rasa.
memutar balikkan hati.
entahlah, entah rasa yang menelikung belasan tahun ini sudah menguap atau malah mengendap.
bagaimanalah aku bisa berkisah pada kalian?
butuh waktu belasan tahun untuk mengisahkannya lengkap.
kalaupun sempat, tak ada yang menjamin kalian mengerti.
jadi, untuk apa menghabiskan waktu?
namun ini menyiksa, kadang mencekik hingga membuatku sesak.
kadang kubujuk hatiku untuk mengalah, sedikit saja.
namun percuma, rasa itu hanya sebentar, mampir hanya untuk menambah coretannya.
menahan diri untuk tidak menggoreskan warnapun susah
kertasnya masih menyisahkan banyak bagian putih.
abstrak, begitulah hasilnya.
akumulasi dari setiap goresan warna yang pernah membekas.
hanya pemiliknya yang paham dan mengerti makna dari absraknya.
walau setiap yang melihat punya persepsinya sendiri.
karena setiap kita punya pemahaman dan cita yang berbeda.
tak mungkin memahamkan dengan satu pemahaman seragam.
karena itu, cukup dengan melihat.
bagaimanapun tidak sukanya atau mengagumkannya,
tetap bukan kalian yang merasakan.
seperti itulah,
cukup dengan melihat dan diam.
pucuk daun yang dulunya masih hijaupun akan gugur, menguning, coklat kemudian terurai.
tak ada yang kekal kecuali Allah yang Esa.
yang bisa dengan mudah membalikkan rasa.
memutar balikkan hati.
entahlah, entah rasa yang menelikung belasan tahun ini sudah menguap atau malah mengendap.
bagaimanalah aku bisa berkisah pada kalian?
butuh waktu belasan tahun untuk mengisahkannya lengkap.
kalaupun sempat, tak ada yang menjamin kalian mengerti.
jadi, untuk apa menghabiskan waktu?
namun ini menyiksa, kadang mencekik hingga membuatku sesak.
kadang kubujuk hatiku untuk mengalah, sedikit saja.
namun percuma, rasa itu hanya sebentar, mampir hanya untuk menambah coretannya.
menahan diri untuk tidak menggoreskan warnapun susah
kertasnya masih menyisahkan banyak bagian putih.
abstrak, begitulah hasilnya.
akumulasi dari setiap goresan warna yang pernah membekas.
hanya pemiliknya yang paham dan mengerti makna dari absraknya.
walau setiap yang melihat punya persepsinya sendiri.
karena setiap kita punya pemahaman dan cita yang berbeda.
tak mungkin memahamkan dengan satu pemahaman seragam.
karena itu, cukup dengan melihat.
bagaimanapun tidak sukanya atau mengagumkannya,
tetap bukan kalian yang merasakan.
seperti itulah,
cukup dengan melihat dan diam.
Senin, 13 Mei 2013
will it be?
Suara tawa menambah sesak
ruangan yang mestinya di warnai dengan topic-topik ilmiah kaum intelek. Mungkin
saja di belahan bumi utara dan selatan mahluk hidup lain tak sempat tertawa
lepas. Mungkin saja ratusan kilo balok es telah mencair, menderas dan mengalir
ke laut lepas. Mungkin saja pulau-pulau kecil sudah tenggelam. Namun lihatlah,
mereka masih disini, tertawa terbahak akan hal-hal yang sungguh tidak
bermanfaat.
Ruangan semakin gerah,
dengarlah bahkan yang mereka racaukan adalah aib orang lain, dan astaga mereka
dengan bangga mengumbar setiap aturan yang mereka langgar, berebut membusungkan
dada. Apa gunanya! Mungkin saja sekarang ratusan batang pohon besar tumbang
oleh tangan-tangan rakus perusak alam. mungkin beberapa tahun kedepan oksigen
tak lagi bebas di hirup atau mungkin sampai harus menyewa tabung oksigen tiap
hari. Tapi lihatlah tak satupun dari mereka yang sedikit saja sadar, sungguh.
Akankah ada hari, ketika
kanal-kanal berair jernih mengalir, jalan lengan tanpa asap knalpot yang menyesakkan,
tanpa bising klakson pengemudi yang tidak sabaran, burung berkicauan diantara
dahan pohon yang rimbun, tak ada tumpukan sampah menggunung? Akan kah?
Setidaknya sebelum matahari berotasi tidak pada orbitnya.
Kamis, 11 April 2013
Exactly different.
terserah berapa banyak kata "me-rendah-kan" ataupun ungkapan "me-nyangsi-kan".
do you think I am gonna care? BIG NO!
ini memang tentang rasa, tapi bukan dan tidak akan pernah sama dengan rasa picisan itu.
ini bukan tentang ketidak jelasan ataupun "trend" yang sedang menggila.
hanya saja pemaknaan saya dan kalian berbeda.
rasa ini anugrah, nikmat yang teramat indah.
namun bukankah Tuhan tau kapan waktu yang tepat?
saya tidak ingin mengotori hadiah ini dengan noda, walau setitik gombal.
terserah kalian akan menyimpulkan seperti apa, itu hak kalian.
dan saya tidak mungkin memaksakan kalian untuk mengerti.
itupun tergantung pemaknaan kalian.
saya hanya tidak ingin terjebak dalam trend galau yang tidak jelas.
saya tidak ingin merendahkan hal-hal yang seharusnya sakral.
sungguh, tiap mahluk memiliki rasa pun saya.
namun ini beda.
saya memang mencoba untuk menjadi beda.
karena special selalu berbeda.
tapi menjadi berbeda sungguh sangat susah.
ketika harus menghadapi cibiran dan kata-kata "sok"
ketika harus menyibukkan diri sebelum perasaan mengendalikan akal.
ketika konsistensi berperang melawan kesempatan.
mengapa tak kutambatkan saja rasa ini pada satu pilhan?
mengapa tak menjadikan Hadist saja sebagai pembenaran?
mengapa tak menjadi wanita (yang menurut kebanyakan dari mereka) normal saja?
mengapa tak melunjak-lunjak cemburu?
karena pilihannya telah tertulis dalam kitab yang tak mungkin salah, hanya berteman sabar dalam menunggu.
karena saya (akan selalu belajar) menghormat pada kebenaran, bukan pembenaran.
karena normal menurut persepsiku berbeda dengan kalian.
karena tak ada satupun alasan untuk saya mengatur dan mencampuri urusan kalian, karena rasa ini ku jaga bukan untuk menjadi cemburu pun pada orang yang belum berhak saya cemburu-i.
karena ini bukan tentang rasa pada sepenggal kalimat.
bukan rasa yang punya batas kadaluarsa, setahun-sebulan-atau bahkan seminggu.
bukan rasa yang menggantung pada kata "putus"
bukan rasa yang menggadaikan ikhlas dengan pujian.
sungguh, rasa ini beda.
do you think I am gonna care? BIG NO!
ini memang tentang rasa, tapi bukan dan tidak akan pernah sama dengan rasa picisan itu.
ini bukan tentang ketidak jelasan ataupun "trend" yang sedang menggila.
hanya saja pemaknaan saya dan kalian berbeda.
rasa ini anugrah, nikmat yang teramat indah.
namun bukankah Tuhan tau kapan waktu yang tepat?
saya tidak ingin mengotori hadiah ini dengan noda, walau setitik gombal.
terserah kalian akan menyimpulkan seperti apa, itu hak kalian.
dan saya tidak mungkin memaksakan kalian untuk mengerti.
itupun tergantung pemaknaan kalian.
saya hanya tidak ingin terjebak dalam trend galau yang tidak jelas.
saya tidak ingin merendahkan hal-hal yang seharusnya sakral.
sungguh, tiap mahluk memiliki rasa pun saya.
namun ini beda.
saya memang mencoba untuk menjadi beda.
karena special selalu berbeda.
tapi menjadi berbeda sungguh sangat susah.
ketika harus menghadapi cibiran dan kata-kata "sok"
ketika harus menyibukkan diri sebelum perasaan mengendalikan akal.
ketika konsistensi berperang melawan kesempatan.
mengapa tak kutambatkan saja rasa ini pada satu pilhan?
mengapa tak menjadikan Hadist saja sebagai pembenaran?
mengapa tak menjadi wanita (yang menurut kebanyakan dari mereka) normal saja?
mengapa tak melunjak-lunjak cemburu?
karena pilihannya telah tertulis dalam kitab yang tak mungkin salah, hanya berteman sabar dalam menunggu.
karena saya (akan selalu belajar) menghormat pada kebenaran, bukan pembenaran.
karena normal menurut persepsiku berbeda dengan kalian.
karena tak ada satupun alasan untuk saya mengatur dan mencampuri urusan kalian, karena rasa ini ku jaga bukan untuk menjadi cemburu pun pada orang yang belum berhak saya cemburu-i.
karena ini bukan tentang rasa pada sepenggal kalimat.
bukan rasa yang punya batas kadaluarsa, setahun-sebulan-atau bahkan seminggu.
bukan rasa yang menggantung pada kata "putus"
bukan rasa yang menggadaikan ikhlas dengan pujian.
sungguh, rasa ini beda.
Langganan:
Postingan (Atom)