Kamis, 31 Juli 2014

Ekspedisi Gunung Gede with Power Ranger Dadakan [late post]

“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Sungguh tak ada, tak ada kata yang dapat kurangkai untuk sebuah ungkapan syukur pada Sang Pencipta selain sujud di atas puncak paku bumi beralaskan butiran pasir. Minggu 20 April 2014, saat purnama masih terang bersinar kami telah menaklukkan puncak gunung Gede. Menyambut fajar yang akan menyingsing.
Berawal dari niat, hingga berbentuk satu kalimat “ke gunung Gede” dalam buku harian, mengalir dalam percakapan yang tak sengaja, semakin deras menjadi sebuah rencana, membulat jadi tekad, batu, entah apalah namanya. Setelah sedikit kecewa karena rencana awal gagal total akibat keterlambatan booking online, frustasi karena tak bisa mendaftar online, berkali-kali menghubungi guide resmi TNGP yang tak pernah berbalas, hingga Pak Dana dan Pak Syakur nekat ke Cibodas langsung dan mendapati kantor tutup, namun apapun rintangannya, jika rezeki tak akan kemana, mereka bertemu langsung dengan Kang Agus (Guide TNGP) saat iseng berfoto di gerbang Cibodas, berbincang hangat, hingga akhirnya kabar gembira datang tak terbendung, hingga girang tak kepalang.  “kita jadi berangkat ke Gede!”
Jadilah kami berlima, aku dan mbak Furi yang memang berencana berangkat sejak rencana awal, Pak Dana yang Alhamdulillah mau diajakin setelah rencana berangkat dengan Sultan dkk gagal total, Pak Syakur yang juga diajak oleh pak Dana, dan Bu Fiah yang diajak oleh pak Syakur, sibuk merundingkan rencana keberangkatan sejak H-4. Mulai dari mendaftar perlengkapan pribadi dan kelompok yang harus disiapkan, logistic dan konsumsi, hingga jadwal keberangkatan.
H-1 setelah semua perlengkapan siap, kami sepakat untuk berkumpul pukul setengah tujuh pagi di depan Masjid raya kota Bogor.

“Aku nggak yakin kalo kita bisa berangkat setengah tujuh” kata bu Fiah saat mengendarai motor sepulang dari berbelanja. Hari H pun tiba, setengah tujuh lebih tujuh menit aku masih diatas angkot, Pak Dana sudah standby depan masjid Raya. Kurang beberapa menit pukul tujuh, pak Dana dengan sepatu tentara, celana lapangan, jaket tebal, slayer hitam-putih lengkap dengan kacamata hitam terlihat duduk sambil mengobrol dengan mbak Furi di seberang jalan. Segera saja aku bergabung dengan mereka.














Kurang dua personil lagi, Pak Syakur dan Bu fiah. Setelah ku konfirmasi ternyata mereka masih di kereta. Baiklah, kami menunggu sambil berbincang ria. Beberapa menit berlalu, kami mulai bosan. Sesekali aku melirik jam dilayar handphone, pak Dana bahkan tiduran disamping jalan.



Setelah agak lama, kami iseng menebak dari angkot manakah bu Fiah dan Pak Syakur akan turun. Beberapa angkot yang terlihat menepi kearah kami lewat tanpa ada tanda-tanda dari mereka berdua, beberapa menit kemudian mereka berdua malah terlihat jalan kaki menghampiri kami.
Siip! Personil lengkap, segera saja kami berjalan menuju halte, tempat kami bisa menunggu mobil colt putih yang akan membawa kami menuju puncak Bogor

Tidak berapa lama setelah tiba dihalte, mobil colt putih jurusan puncak Bogor pun akhirnya tiba, kami segera naik dan mengambil posisi PW (Paling Wuenak). Perjalanan dari Bogor ke Puncak menghabiskan waktu sekitar empat jam. Wajarlah, hari itu adalah long weekend dan puncak adalah salah satu destinasi wisata yang banyak diminati hingga tak jarang antrian mobil mengular dijalanan sepanjang jalur menuju puncak.
Sebelum tiba di gerbang gunung putrid, kami berhenti di depan tokoh Selam*t. bukan toko itu tujuan kami, melainkan warung didepannya. Yup, makan siang, mengisi stamina sebelum memulai perjalanan. ^_^


Setelah kampung tengah terisi, kami kembali melanjutkan perjalan dengan menumpang angkot kuning yag akan membawa kami langsung menuju gerbang gunung putrid. Perjalan lumayan lancar dan kami hanya menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit hingga tiba dilokasi tujuan.
Nampaknya jalur pendakian akan ramai, dari jauh kami telah melihat beberapa rombongan pendaki yang juga sedang berkumpul di depan warung dekat pos gerbang pendakian. Saat berkenalan ternyata mereka rombongan dari UNPAD.
Semakin mendekati pos gunung putri, semakin ramai terlihat para pendaki yang memanggul carrier. Tegur sapa pun ramai terdengar. Ditengah jalan, aku mendapati bunga dandelion. Ini adalah kali pertama aku melihat langsung wujudnya dan meniup butir bunganya yang terbang seperti kapas.


Setelah menumpang shalat di pos, kami berlima berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum memulai pendakian. Sebenarnya kami ingin berfoto didepan pos tapi karena terlalu ramai, niat itu kami urungkan dan kamipun memulai langkah menyusuri jalan yang mulai menanjak.
Sebelum memasuki kawasan hutan kami sempat berhenti dua kali untuk istirahat. Maklum, kami masih dalam tahap penyesuaian. Hehe. Bukan hanya kami, tapi beberapa rombongan juga ikut beristirahat ditempat yang sama, percakapan hangat dan saling berbagi bekal membuat kami seakan menjadi saudara. Masuk areal hutan, perjalanan semakin menantang! Kami diiringi kicauan burung, bunyi serangga, dan tentu saja sorakan semangat dari para pendaki yang lain. Senyum hangat, dan tegur sapa selalu kami temui saat berpapasan dengan pendaki lainnya.
Semakin lama berjalan, beban dipundak rasanya semakin berat, dan ritme tarikan nafas juga semakin cepat. Peluh mulai membancir walau suhu udara semakin dingin. Saat tiba di pos selanjutnya, kami istirahat dengan beberapa rombongan pendaki lainnya. Ditempat inilah kami dijuluki “Power Rangers”, karena jumlah kami ada lima orang dan masing-masing kami tadinya sempat mengenakan jas hujan plastik dengan warna yang berbeda-beda.






Kami terus berjalan walau hari mulai gelap. Saat hari betul-betul gelap, kami hanya diterangi dengan cahaya senter. Beberapa kali kami sempat terpeleset akibat tanah yang licak bekas hujan. Walau letih kami tak berhenti untuk saling menyemangati. “satu..dua..semangat!!” beberapa kali kami lantunkan walau dengan nada lemah. -_-“.
Terkadang kami bertanya dengan para pendaki yang sudah turun, “surya kencana berapa jam lagi kang?” dan ada yang menjawab “deket kok, sejam lagi nyampe.” Lalu beberapa meter kemudian kami kembali bertanya pada pendaki lainnya yang datang dari arah berlawan dan kemudian dijawab “dua jam-an ada..” demi mendengar jawaban tersebut kami serasa di beri harapan palsu. Ternyata PHP bertebaran disepanjang jalan. Tapi disitulah seninya, -harapan-. Berharap segera tiba ditempat tujuan.
Sebelum tiba di tujuan tempat kami berencana mendirikan tenda, kami sempat makan malam di jalan. Kami menemuka tempat datar dipinggir jalan menanjak. Kami membongkar carrier dan mulai riweh dengan proses masak-masak. Pada saat inilah kami mulai merasa dingin. Mbak furi bahkan berjalan mengitari carrier berkali-kali di sepanjang lahan landai tempat kami memasak. Pak Syakur dan pak Dana juga mencoba untuk membakar beberapa ranting dan sampah tapi gagal karena rantingnya basah selepas hujan tadi. Saat kompor sudah menyala kami duduk mengitari kompor, mencari kehangatan.
Tak lama kemudian nasi, mie rebus dan ikan sarden matang. Kamipun mulai menyantap hidangan dengan tangan yang agak gemetar menahan dingin. Aku tidak terlalu menikmati makanannya dan hanya bisa memasukkan tiga sendok nasi kemulutku yang juga susah payah kutelan. Ditengah sibuknya kami bersantap, tak sengaja mbak furi bergerak dan menyenggol tas bu Fiah yang berdiri tepat disamping jalan jalur pendakian. Kami awalnya bengong dan hanya melihat tas tersebut bergelinding jatuh dan menimbulkan bunyi gedebuk. Nanti setelah bu Fiah berseru “Tas ku!” kami mulai ngngeh. Kami awalnya menunggu tas tersebut berhenti berbunyi yang artinya ia sudah berhenti bergelinding. Tapi semakin semakin lama kami menunggu, tas tersebut tidak juga berhenti bergelinding. Karena takut tasnya nanti bisa jatuh ke jurang, pak Dana segera kembali TURUN mengejar tas tersebut. Untung saja tas tersebut tersangkut dipepohonan sehingga pak Dana tidak perlu turun terlalu jauh dan tentu saja tidak perlu mendaki lagi terlalu jauh. Setelah dicek, syukurlah tak ada satu barangpun yang hilang walau tas tersebut jatuh dalam keadaan tidak tertutup.
Aku tidak begitu menikmati makan malam di bawah bulan waktu itu, entahlah sepertinya ikan sarden tidak mampu membuat lidahku bergoyang. Beberapa saat setelah makan malam, kami kemali melanjutkan pendakian. Sekitar satu setengah jam perjalanan aku merasa mual dan beberapa meter kemudian, makanan yang tadi kupaksakan masuk tak dapat kutahan lagi, keluar kembali. Untunglah aku sempat mengambil jalan agak kepinggir hingga nasi yang telah menjadi bubur dapat mendarat di semak2 dan tidak mengganggu pendaki lainnya.
Setelah minum air putih dan obat masuk angin, aku kembali berjalan, namun beberapa meter kemudian, ternyata masih ada makanan yang memaksa keluar. Kuhabiskan saja semua yang tersisa didalam perutku, hingga pekat dan pahit bercampur ditenggorokan. Setalah betul-betul habis, barulah kurasakan dingin yang teramat mulai menusuk-nusuk kulit hingga membuatku menggigil. Awalnya aku sangat takut terkena hipotermia, tapi untung saja mbak furi dan bu Fiah terus memaksaku untuk bergerak dan mencari tempat hangat. Mereka bahkan harus mendengar ocehanku yang keuar egitu saja disela-sela bunyi gemelutuk gigiku menahan dingin.
sementara itu, pak Syakur dan Pak Dana mulai membangun tenda yang nampaknya susah sekali untuk menjadikannya berdiri tegak, mungkin karena angin yangterus menerus berhembus, lelah dan dingin yang juga ikut mengganggu. Setelah menunggu agak alam, akhirnya kami bias beristirahat didalam tenda. Segera saja aku memperbaiki posisi dan tertidur pulas kelelahan.
Keesokan harinya, sebuah hadiah menanti dibalik tenda. Lukisan maha indah terbentang didepan mata! Hamparan bunga edelweiss, dan tumuhan liar lainnya yang warna-warni, awan yang tampak begitu dekat, dan puncak gunung yang tampak meliuk-liuk.
























Puas menikmati pemandangan pagi yang sejuk, waktunya memenuhi kebutuhan gizi. Kami segera berbagi tuga. Aku dan bu Fiah menyiapkan sarapan, mbak Furi menjemur semua barang yang basah. Bapak-bapak entah mengerjakan apa…



And we were proudly present….


Kami berlima sepakat, ada beberapa surga dan kenikmatan terindah saat mendaki. Jalanan lurus  atau turunan, dan tentu saja kehangatan, alias makanan hangat dan minuman seduh. ^_^  sarapan beres, cuci piring sudah, waktunya mengepak barang. Kami akan pindah lokasi camping. Mencari sepetak tanah dari luasnya padang di Surya kencana. Rencananya kami akan camping tepat didekat kaki gunung Gede, sehingga akan memudahkan kami jika mulai muncak.
 Power ranger siap melanjutkan perjalan. Hohoho…



Setelah berjalan kurang dari sejam, akhirnya kami menemukan tempat strategis untuk mendirikan tenda. Kriteria lokasi strategis menurut kami adalah, banyak pohon yang dapat menahan terpaan angin dingin, dekat dengan semak yang lumayan lebat, tempat kami “ehem”. Hehehe ^_~


Sore di Surya Kencana, menjadi fotografer relawan untuk acara pra wedding bu Fiah dan Pak Syakur. Berlatarkan dua puncak gunung, udara sejuk yang kadang memaksa tangan merpatkan jaket, hamparan rumput, ilalang dan edelweis dengan gradasi warna lembut yang serasi, coklat muda, hijau, putih. Serta kabut yang kadang lewat menyapa. Melihat mereka berpose, rasanya bagaikan “……….”.


Dalam moment seperti ini, aku juga tentu saja akan mengabadikan gambar diri dalam panorama indah ini, tak apa, walau sendiri. Haha.


Senja mulai menjelang. Perubahan warna dilangit mulai terlihat, dan kami juga mulai menyiapkan santap malam. Di tengah-tengah kesibukan kami mengolah bumbu instant, tak dapat kulewatkan rasanya moment senja di padang ini. Segera saja aku berlari begitu saja menghampiri senja yang mulai terbenam meninggalkan bu Fiah dan mbak furi yang tetap asik memasak.


Langit mulai menghitam, dan malampun semakin pekat. Setelah semua hajat pribadi tertunaikan, waktunya memenuhi hak tubuh untuk beristirahat. Rasanya belum terlalu lama saat mataku terpejam, aku sudah terbangun dan mendapati bu Fiah dan mbak Furi yang nampak berkali-kali merapatkan sleeping bag ke tubuhnya dan kami bertigapun semakin merapat dan menggigil bersama.
Saat kami coba mengintip dari balik tenda, suasa di luar nampak terang. Tidak seperti malam pekat biasanya. Sehingga kami menira hari telah menjelang pagi. Setelah ku cek jam, ternyata masih pukul satu malam. Yup, bulan sedang bersinar terang malam itu. Ditambah tak adanya polusi cahaya yang menandingi sinar bulan, suasana malam itu sangat indah. Bintangpun bagaikan kismis yang ditabur di atas hitamnya langit yang maha luas. Sekitar kurang lebih satu jam kami meringkuk kedinginan sambil duduk saling merapat, kami memutuskan untuk membangunkan bapak-bapak dan bersiap berangkat menuju puncak.
Setengah jam kemudian, kami telah selesai mengepak barang dan siap berangkat. Setelah doa bersama, kami mulai menjejak langkah pertama menuju puncak dalam formasi yang telah kami susun. Kami memperkirakan akan lama perjalanan ke puncak akan menyita waktu kurang lebih dua sampai tiga jam. Namun ternyata kami hanya berjalan selama kurang lebih satu jam. Demi melihat papan bertuliskan “PUNCAK GEDE”, semua rasa lelah lenyap seketika! Tergantikan oleh indahnya lautan cahaya yang tersaji di depan mata.



Sambil menunggu waktu subuh, kami kembali memongkar carrier, mengeluarkan peralatan masak dan tentu saja, menyeduh air hangat. Tidak ada yang lebih nikmat daripada minum minuman hangat di puncak gunung saat suhu betul-betul menggeliitik tulang! ^_^
Masuk waktu subuh, beberapa pendaki melaksanakan shalat subuh berjamaah. Dan beberapa jam kemudian, sinar merah mulai merekah diangkasa. Inilah moment yang paling ditunggu, menyaksikan sunrise dari puncak gunung.


Setelah puas menikmati gradasi warna sang fajar, kamipun mulai beraksi. Waktunya narsis dan eksis!!



Tidak lama kemudian, kami mulai turun melewati jalur Cibodas. Turunan memang betul-betul kenikmatan terindah setelah lelah menapaki tanjakan. Langkah kami berderap-derap lincah melewati turunan sambil berpegangan pada batang-batang pohon. Sekitar pukul delapan pagi, kami rehat sejenak untuk sarapan. Satu hal yang disepakati oleh semua pendaki adalah, “semua pendaki adalah saudara” sehingga senyum dan kalimat perhatian bertebaran disepanjang jalan saat kami berpapasan ataupun melewati pendaki lainnya. Begitu pula saat sarapan, kami bertemu dengan satu rombongan pendaki asal Jakarta, dan segera saja kami ajak sarapan bersama. Tanpa perlu PDKT, dengan sendirinya kami langsung merasa akrab. Layaknya teman lama yang berjumpa kembali.
Perjalanan turun kami tempuh kurang lebih delapan jam. Setelah sampai di Pos pendakian jalur Cibodas, kaki rasanya sudah tidak bisa digerakkan. Ngilu sekujur tubuh baru terasa setelah mandi dan berganti pakaian. Tapi semua lelah dan pelu terbayar dengan pengalaman, petualangan, dan pelajaran yang tak dapat diniai dengan materi.
Terima kasih teman-teman POWER RANGER!! Pak Dana, mbak Furi, bu Fiah, dan pak Syakur yang telah rela menunaikan inginku menapak di pucak gunung GEDE. Arigatou gosaimash!!! ^_^

Kamis, 12 Juni 2014

Still.

menghitung tiap detik yang berdetak,
hitam tetap pekat,
menyusur koridor dengan langkah berderap
tak berujung, gulita merengkuh tiap degup.
bahkan waktu hanyalah pajangan,
penonton dalam drama topeng yang bisu.

masih mentari yang sama,
bulan dengan senyum yang sama,
dan kalian tetap sama.
tak berubah, hitam tetap pekat.

menenteng hormat dan wibawah,
lewat berbusung dada,
membungkuk rendah, menghamba untuk mencibir di belakang punggung.
kalian tetap sama,
bermain peran di depan waktu yang tetap setia menyimak.



Senin, 09 Juni 2014

thanks for believe in me

dalam tiap tarikan nafas,
dapat ku rasakan berat bongkahan rasa yang kita hembuskan.
membaca tiap tatap dalam diam.
menerjemahkan senyum yang kadang menyelinap diantara kata.

maaf,
berkali ku hampir menyerah.
menerbangkan harap demi taat.
berkali ku hampir pasrah,
berserah, letih melawan arus.
maaf.

terkadang keras kepala ada gunanya,
dari mana kau mempelajarinya!
kau, mengapa begitu ngotot!
menyimpul tali yang berkali-kali hampir kulepas.

baiklah,
aku tak ingin menyesal.
menyesal karena takut kau tak akan pernah tahu,
harap terbesarku dalam katamu.
walau mungkin aku tak akan pernah memohon,
aku hanya berharap.

apa kau tahu wujud rasanya?
saat kau selalu berucap,
"I'm still with my decision."
seperti mendapatkan sepotong gula merah diantara penat menyusur hutan.
manis.

tak peduli seberapa sering ku coba menyayat ikatannya,
tetap jaga simpulnya,
karena harapku juga sama.
be strong to hold me. 

Senin, 21 April 2014

Kabut

malam semakin pekat.
detak jarum jam seakan meledek.
hei, mengapa aku begitu emosi,
berprasangka bahkan pada benda yang tak mengenal rasa.
rasa? heh.
tahu apa kau soal rasa?
tidak, aku tak tahu apa-apa.
aku tak tahu jika rasa bisa sedemikian kejam.
sebegitu kejam hingga membisikkan prasangka,
lewat desau angin dingin dan hamparan kabut yang membutakan.
meski semua tampak putih,
tapi semuanya tertutup.
apa yang bisa kau lihat?
tak ada, aku haya bisa berprasangka.
hanya bisa menerka dimana mentari akan terbit atau terbenam.
seperti biasa, hanya ada aku dan diriku
dalam ruang tanpa batas imajinasi.
aku tak lagi melihat diriku tegak berpijak.
tapi merasai angin dingin yang menerpa pipiku.
menikmati gigitannya hingga ke tulang dan ujung-ujung jariku.
menggapai-gapai awan putih berombak.
duhai, begitu banyak kami yang datang.
tegak berdiri.
tapi mengapa aku masih saja merasa sendiri.
apa yang aku cari?
kadang aku lelah mencari pada ribua kalimat yang berhamburan dari bibir mereka.
mencari dalam sepi yang begitu bising.
frustasi merangkai kata agar mereka dapat memahamiku dalam diamku.
haruskah kita serasi dalam kata hingga disebut harmoni?
sungguh rasa ini menyiksa!
tak terbilang berapa kali lagi aku harus membujuk diriku untuk berdamai.
Duhai, Sang Penguasa hati. Hanya Engkau yang mengetahui wujud rasa ini.
Hanya Engkau yang dapat melihat semuanya, bergerak bersama aliran darahku.
Hanya kepadaMu aku berserah diri.

Rabu, 05 Maret 2014

Rabu, 5 Maret 2014


Malam tadi adalah kali kedua tidurku tidak nyenyak semenjak berada di kota hujan ini. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku terjaga berkali-kali, menarik hp dari bawah bantal dan mendapati jam masih menuliskan angka 02.10 am, terjaga sekitar 2 menit aku kembali terlelap namun tetap saja mataku kembali melek padahal aku baru saja tidur sekitar setengah jam, begitu seterusnya setidaknya saya terjaga 5 kali sebelum akhirnya betul-betul keluar dari kepompong sleeping bag sekitar pukul setengah enam pagi.
Sebelum beranjak dari hangatnya sleeping bag, aku berfikir sebentar tentang hal yang akan ku lakukan setelah menjejakkan kaki di lantai, tapi pagi ini aku ingin melakukan sesuatu yang berbeda, sesuatu diluar rutinitasku selama setidaknya dua minggu ini.

Jalan-jalan pagi! Yup. Ide itu sebenarnya sudah kupikirkan semenjak kemarin sore, setelah percakapan hangat dengan dua kawan baruku di sekolah alam. Aku ingin mengunjungi kebun sekolah alam yang letaknya tidak jauh dari kosan. Segera saja aku bergegas ke kamar mandi, cuci muka, gosok gigi berwudhu dan sholat subuh, setelah itu dengan agak tergesah bergani kostum, celana parasut hitam, baju kaos biru, jilbab hitam, sepatu biru, dompet dan hp di masukkan ke kantong celana dan tentu saja kamera biru di kalungkan ke leher. SIP!
Setelah berjalan sekitar lima menit, menyapa satpam sekolah dan petugas bersih-bersih barulah saya masuk ke kebun sekola alam. Tidak terlalu luas tapi cukup kondusif untuk pembelajaran.
 

Kebunnya disesaki tanaman jagung yang masih mudah, pere yang buahnya masih kecil-kecil, pisang, bahkan ada juga kandang kelinci dan kambing. Di ujung kebun terdapat tempat perlengkapan, terlihat beberapa pasang boots dan peralatan berkebun lainnya.






Setelah puas memotret dan mengintip kelinci, sayapun melanjutkan langkah ke tempat selanjutnya. Tapi ‘tempat selanjutnya’ sama sekali belum tergambar di kepalaku. Jadilah saya mengikuti kemana arah kaki ini melangkah, ciaaatt… hehe.

Sebelum meninggalkan kebun, siluet bundar matahari jingga kemerahan nampak dari balik pepohonan. Entah kenapa saya tiba-tiba panik! Pikiran pertama yang terlintas adalah “saya harus cari tempat tinggi secepatnya biar bias menikmati sunrise tanpa terhalang!” tapi saying sekali sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk pohon, dan atap rumah mewah yang tinggi-tinggi, sangat mengalangi pemandangan. Saya hampir nekat memanjat tugu untuk mendapatkan potret matahari terbit tapi urung karena ada satpam yang sedang berjaga, urusannya bias ribet kalau saya dapat teguran, jadilah saya melangkan dengan tergesa keluar kebun sambil celingukan kiri-kanan mencari tempat ‘tinggi’.



Hanya trotoar sempit dan rumah padat yang saling berdesakan di kiri kanan jalan sebelum akhirnya saya menemui hamparan kebun ubi kayu, dan yang paling membuat saya frustasi adalah siluet matahari yang semakin meninggi dan warna kemerahannya yag semakin memudar tampak mengikuti langkahku dari balik daun ubi kayu. Namun saya masih terus melangkah hingga akhirnya mendapati tanah lapang tepat didepan jalan tol. Langsung saja saya mencari pose yang pas untuk mengabadikan matahari terbit di pagi ini. Tapi sayang gambarnya tidak maksimal.. Aaaarrggghh… lain kali harus datang lebih awal ke tempat ini!!!




Lepas memotret mentari pagi, saya baru tersadar akan keindahan bunga-bunga liar yang mulai bermekaran disekitar kaki saya. Tumbuhan asteraceae, mimosaseae, ilalang dan rumput liar tampak segar berbalut embun pagi. Tetesan embun yang bergelanyut di pucuk-pucuk daun tampak bening mengkristal.





Mentari semakin tinggi, waktunya balik kanan. Walau tak puas menikmati sunrise hari ini, setidaknya saya sudah menemukan tempat strategis untuk hunting foto, saya hanya perlu datang lebih awal di lain waktu, mungkin besok.. hohoho..
  
Kembali ke kosan dan mendapati cuaca hari ini tampak.. 

cerah!

Dan sambil memandang jemuran dan hanger yang bergelantungan, ada senyum yang tersembunyi dibalik desahan nafas berat, waktunya mencuci baju! 


Sabtu,1 maret 2014

Seminggu sudah melakoni hidup jadi anak kosan. Well this is the first time I live alone, totally alone with my own bedroom, kitchen, bathroom, and little living room. ALONE. Walaupun sepi tapi seru juga, dan setelah seminggu lamanya mendekam dalam rutinitas kosan-sekolah-kosan lagi-bosan, akhirnya hari ini adalah hari pelampiasan kebosananku! Wuohohoho…

Kota hujan, kota seribu angkot, kota puluahn curuk, dan tentu saja Kebun Raya di tengah kota.


Ransel yang lumayan berat (isinya laptop, satu pasang baju, charger dan peralatan listrik sejenisnya, empat buah buku ratusan halaman, dan perlengkapan mandi) tak akan menghalangi langkahku. (meski sebetulnya agak ngosngosan). Lepas makan siang dan shalat dhuhur di Botani Square, saya langsung saja menuju pinggiran jalan yang nantinya akan bermuara langsung ke gerbang utama kebun raya. Perkiraan saya tentang jauhnya rute ternyata meleset, mungkin karena beban berat di punggung hingga membuat saya memutuskan untuk naik angkot saja di tengah jalan karena peluh yang terus mengucur dan baju terusan yang sudah mulai lembab karena keringat.

Sekitar sepuluh menitan di atas angkot (macet!!) akhirnya sampai juga di gerbang utama. Segera ku bayar tiket masuk dan melenggang masuk ke kebun raya, menyusuri pepohonan yang tumbuh lebat dikiri-kanan jalan setapak. 


Tidak hanya pohon-pohon tinggi tua, tapi disana saya juga disuguhi pemandangan sekumpulan tanaman paku, taman kaktus dan kamboja, hingga danau mungil di tengah hamparan rumput hijau.





Setelah berjalan kaki sekitar dua jam menyusuri sejuk dan rindang tanaman, saya sampai di jembatan merah yang dibawahnya mengalir sungai deras.


Melihat air yang begitu melimpah, saya teringat kalau saya lupa membeli air sebelum ngebolang. Rasa haus segera saja melanda, saya menyeberangi jembatan dan berharap menemukan penjual air mineral diseberang. Tapi sayang sekali yang ada hanya penjual ice cream. -_-“ terpaksa dahaga ini harus di tahan.

Tak jauh dari tempat penjual ice cream nampak sebuah jembatan lagi, dan di seberang jembatan I found a wonderful landscape! Tanah lapang dengan rumput hijau yang luas, dua buah kolam yang dipenuhi teratai, jajaran bunga hias di tengah sebagai pemisah jalan. Entah mengapa saya langsung lupa dengan dahaga yang mengganggu. 















Well, rasanya kurang lengkap jika saya tidak berpose ditengah pemandangan ini, namun saya hanya ngebolang sendiri ditemani dengan backpack, dan siapakah yang akan memenuhi hasratku menjadi model sehari? Tidak ada pemirsa, tidak mungkinkan saya mengganngu beberapa pasangan yang tampak mesra bercengkrama di tengah padang rumput yang serasa hanya milik mereka berdua hanya untuk menjepret saya! Tapi tenang saja, saya sudah menyiapkan tripod mini, kamera diatur dengan timer, hmm tak apalah memotret diri sendiri.. hahaha..




Puas menikmati landscape dan mengistirahatkan punggung dan bahu yang letih menggendong beban berat, kakipun kembali siap melangkah. Mengikuti jalan aspal, hingga tiba di rumah anggrek, tapi mungkin karena sudah terlalu sore, rumah anggreknya sudah tutup. 




“Baiklah, tak apa, lain waktu saya akan kesini lagi” batinku.
Ku lihat layar hp ternyata sudah pukul setengah lima sore. Langitpun tampak mendung, waktunya pulang! Belum juga saya sampai di gerbang, hujan telah menderas. Segera saja saya bernaung dibawah rimbunnya dedaunan sambil memasang cover back dan membuka payung. Saya masih berada ditengah-tengah deretan pepohonan besar dan dikepung hujan deras, ditambah jalanan berlumut yang licin sementara langit sudah mulai gelap. Ada rasa getir yang menyelinap sedikit demi sedikit seiring langkahku yang tergesah, saya baru sadar jika saya sendirian berjalan ditengah pepohonan lebat dan guntur yang sesekali menggelegar. Untung saja tak lama kemudian saya mencapai gerbang utama.
Setelah membeli sebotol air dan melepas dahaga, saya kembali naik ankot mengakhiri petualangan hari ini. J