Sabtu, 17 November 2012

Sesak.

Lidah ini keluh, mungkin karena terlalu banyak kata yang ingin melompat keluar, saling berebut mendapat posisi di awal kalimat namun bibir ini masih saja rapat terkunci. 
Lihatlah, senyum ini masih berani nampak walau masam rasanya.
Namun tak ada yang dapat mengelabui mata. ia redup. 

Tahukah kalian rasanya tersenyum ketika tangis sudah di ujung pelupuk mata? 
Menahan air mata yang membuat dada sesak, 
menhirup nafas yang setiap hembusannya semakin mendesak, 
memukul-mukul hati hingga tangis pecah?

Sudahlah, kalian tak akan pernah mengerti.

Rabu, 14 November 2012



  
Bunga,
Kau yang selalu bisa mengusir penatku walau hanya dengan senyum lugumu menyambut datangku..
Dengan mata yang berbinar walau tak jarang mata itu mendung
dan tangan yang terulur minta gendong,
Sungguh, pelukan dari tangan mungilmu mampu menanggalkan beratnya beban di pundakku.
Sayang, tak usah dengarkan kata mereka pun tatapan kasihan mereka!
Aku menyayangimu apa adanya dengan segenap sayang dan perhatian yang dapat kuberikan untukmu,
Aku menyayangimu bunga kecilku.
tak usah hiraukan mereka yang telah tumbuh dan mampu berucap dengan jelas,
atau mereka yang telah berlari mendahuluimu,
kau adalah dirimu,
senyum tulus mu itu lebih dari segalanya untuk menyatakan kalau kau adalah spesial.
Bunga, mekarlah musim semi menantimu sayang…


No matter what, I LOVE U!

Selasa, 06 November 2012

tik-tok-tik-tok-tiiiiiiiiiiiittt!!!


Waktu. Adakah kau hanya putaran detik ke menit yang semakin lama semakin cepat? Ataukah perubahan pola fikir yang sederhana menjadi luarbiasa berbelit-belit? Kau kah yang telah mencuri tawa dan tatapan teduhnya atau bahkan kau yang telah merubah warna rambutnya?
Duhai waktu, yang didalamnya matahari bersinar garang hingga tenggelam dengan semburat jingga, yang setelahnya bulan bersinar. Sungguh, ingin kukeluhkan semua yang ada dalam relung ini, namun tidak pada mereka yang selalu berkata “sabarlah, memang seperti itu” atau “saya juga seperti itu..”. dengar, aku hanya butuh pendengar. Bukan kisah baru yang mereka tambahkan. Egois? Terserah menurut anda.
Pada laut, yang dengannya ombak menghempas. Aku merasa, ada sesuatu yang menohok dadaku menembus kepalaku dan mempermainkan logika dan idealismeku. Semakin lama sakitnya semakin perih, hingga hampir saja aku menyerah untuk melawan arus. Aku terjebak dalam lautan bahasa alay, dan rutinitas tak jelas yang juga tak berujung. Aku muak dengan tingkah yang kekanak-kanakan khas anak TK dan cerita pasaran tak penting. Aku takut, teramat takut malah jika seorang menghampiriku dan bertanya, “apakah anda Mahasiswa?” sungguh, aku malu untuk berkata iya, ketika aku merasa belum berbuat apa-apa sebagai seorang akademisi. Aku rindu. Rindu pada lingkungan akademik yang didalamnya tidak ada penjual obat yang selalu mengumbar jam tidurnya ataukah judul sinetron yang tadi malam ditontonnya. Aku rindu pada guru yang tidak sok menggurui. Mimpi? Terserah apa kata anda, sebut saja aku pemimpi setidaknya aku bisa berharap lebih baik dari pada menjadi plagiat.
Rindu, begitu banyak hal yang aku rindukuan, namun tak melebihi rinduku pada diriku sendiri. Aku rindu pada diriku yang kritis, pada diriku yang kadang berontak, pada diriku yang sibuk dengan hal-hal akademik, pada diriku yang memiliki focus yang jelas, dan pada diriku yang dikelilingi oleh orang-orang hebat yang berani bermimpi, tentu akupun merindukan mereka.
Aku tak tahu, apakah sekarang aku terlalu khawatir dengan symbol lima huruf kapital diatas kertas sehingga bungkam pada mereka yang menjual obat bukannya mendidik. Ataukah pada selembar kertas bertuliskan ijazah dalam map yang membuatku ciut mengkritisi dan mempertanyakan berbagai macam hal? Entahlah. Jangan katakan aku memiliki terlalu banyak keinginan yang mustahil, namun ketahuilah ini adalah kebutuhanku sebagai seorang akademisi. I don’t care what you think about me!

Senin, 22 Oktober 2012

22 oktober 2012 23:06

"gini aja, aku mau kamu jadi guru privatku. Brapa?"
................
"okay, kamu hanrus mau, see you next meeting, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"

whaaaaaat!!!!!!
and I'm speechless, belum sempat ngomong atau protes segala macam dia udah tutup tlp, mana nelphon langsung ngancam lagi! aaaarrgghhhh......

begitulah, obrolan amat singkat dan padat bikin kaget ala teman baruku.

*man with glasses

Selasa, 16 Oktober 2012

seperti biasa..


Hari ini seperti biasanya, di tempat yang sama dimana kita sering bertemu dan berbincang seadanya, dan seperti biasa rasa ini masih terpendam dan mungkin akan terus terpendam dalam hati. Iseng, kucoba mengkalkulasi rentang waktu yang telah ku lalui dengan rasa ini, dan ternyata dua tahun merupakan waktu yang belum cukup dan mungkin tidak akan pernah cukup untuk menyimpan rapat dan menyembunyikan rasa ini.
Aku sadar bahwa tiap detik yang telah kulalui semakin mematangkan rasa ini, menggrogoti hatiku seperti sel kanker yang tumbuh dengan cepat mempengaruhi hidupku namun aku sangat piawai dalam menyembunyikan rasa ini sehingga mungkin kau tidak pernah menyadari dan mungkin tidak akan pernah menyadarinya, tapi tahukah kau bahwa ini semakin menyiksaku. Kucoba mengungkapkan rasa ini lewat pandangan mataku tapi apa daya, sorot matamu begitu tajam dan akupun tak memiliki keberanian untuk beradu dengannya. Seperti sekarang ini, yang mungkin akan jadi hari terakhir kita bersama di tempat yang sederhana ini aku belum juga mampu untuk jujur setidaknya pada diriku sendiri.
Kusadari ada rasa sedih yang teramat dalam menjalari tubuhku yang membuatku tetap duduk ditempat sederhana ini tak bergeser, tetap memperhatikan sosokmu meski lewat celah orang lain, mendengarkan dengan cermat saat kau berbicara meski yang kuperhatikan hanyalah suaramu, gayamu dalam berbicara yang mungkin akan sangat aku rindukan ketika engkau pergi sebentar lagi.
Aku tak dapat melawan waktu, yang bisa kulakukan hanyalah patuh pada putaran detiknya, dan waktunya pun tiba untukmu pergi meninggalkan ku dengan rasa yang telah mengendap jauh didasar hati ini. Ingin rasanya aku membunuh waktu hingga hari ini tak kan pernah ada dan tak kan pernah ada waktu untukmu pergi meninggalkanku, tapi aku hanya bisa menyimpan sebaris senyummu dalam memoriku.
Kini, aku hanya mampu memandangi punggungmu dan tanpa sadar menghitung tiap langkah yang semakin lama semakin jauh meninggalkan sekeping hati yang meradang. Ingin rasanya aku berteriak memanggil namamu sebelum sosokmu menghilang di tikungan jalan, dan mencegatmu agar kau tidak pergi tapi sepatah kata perpisahanpun tak mampu ku ucapkan saat kau memberikanku senyuman terakhirmu karena lidah ini selalu saja keluh tiap menatap sosokmu dan akhirnya sosokmu pun hilang seiring rinai hujan pertama yang jatuh pada tanah kering bercelah. Hujan.  
oooOooo
Sebelas bulan sudah sejak hujan pertama turun. Kini, seperti biasa aku masih setia menyimpan rasa ini seperti dendam yang semakin lama semakin bergejolak dan mendesak untuk keluar. Hari ini, masih seperti biasanya aku berjalan di bawah gagahnya matahari menuju tempat sederhana dimana rasa ini mulai tumbuh. Siang yang terik ini membuat tanah bercelah dan dedaunan pohon mengering, udarapun disesaki bau aspal dan knalpot yang menyengat. Hanya angin yang sesekali bertiup yang mampu memberikanku kesejukan. Dengan nafas berat, kulanjutkan langkah ku yang mulai lemah, dalam hati aku berbisik, “Hujan, betapa aku merindukanmu”.

oooOooo

Tak terasa, setahun telah ku lalui sejak kepergianmu. Hariku masih seperti biasanya. Tak ada yang menyadari bahwa hati ini semakin lama semakin sakit dan meradang, sama sepertiku yang tak menyadari bahwa aku bisa melalui hariku seakan tak terjadi sesuatu.
Telingaku spontan fokus dan mataku jeli menyisir tiap orang yang lalu lalang didekatku dan aku hampir saja tak mempercayai pandanganku sendiri. Di ujung jalan ini, tempat dimana sosokmu menghilang bersama tetesan hujan, aku tidak lagi melihat punggungmu tapi aku melihat dadamu yang lapang! Tanpa sadar aku berdiri mematung hingga sosokmu berada tepat di depanku dengan senyuman yang lebih indah dari pada saat terakhir aku melihatnya.
Cukup sudah! Aku tak bisa lagi memaksa hatiku untuk berbohong dan menyembunyikan rasa ini, karena aku memang menyukaimu. Seiring rinai hujan yang jatuh membasahi kulitku, kuluapkan semua rasa yang tak dapat lagi aku pendam. Rasa yang selama ini membuat ekor mataku jeli mengenali sosokmu, membuat telingaku peka akan suaramu dan bibirku yang tak henti mengukir senyum saat kau ada didekatku. “aku menyayangimu”. Titik.






Nurhikmah tenri pada. 04.30 rabu, 15 February 2012.

still


Terpaan angin memainkan kerudungku, sesekali menghalangi pandanganku. Di puncak tertinggi ini, ku pijakkan kaki dengan kokoh walau nafas memburu dan dada ku naik turun. Ku rentangkan tanganku lebar-lebar berusaha menyatu dengan atmosfer. Lihatlah, awanpun bagai dapat ku raih! Langit yang begitu biru, matahari yang cerah dan lembah di bawah kaki ku. Lihatlah, aku berdiri kokoh di sini. Semua letih terbayar sudah, setiap tetes peluh telah kering oleh angin.
Tegak. Tangguh, and I’m still a dreamer. Ini masilah sebuah mimpi….

Jumat, 28 September 2012

samar.

dalam ruang hampa rutinitas tak berujung.
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!