Senin, 22 Oktober 2012

22 oktober 2012 23:06

"gini aja, aku mau kamu jadi guru privatku. Brapa?"
................
"okay, kamu hanrus mau, see you next meeting, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"

whaaaaaat!!!!!!
and I'm speechless, belum sempat ngomong atau protes segala macam dia udah tutup tlp, mana nelphon langsung ngancam lagi! aaaarrgghhhh......

begitulah, obrolan amat singkat dan padat bikin kaget ala teman baruku.

*man with glasses

Selasa, 16 Oktober 2012

seperti biasa..


Hari ini seperti biasanya, di tempat yang sama dimana kita sering bertemu dan berbincang seadanya, dan seperti biasa rasa ini masih terpendam dan mungkin akan terus terpendam dalam hati. Iseng, kucoba mengkalkulasi rentang waktu yang telah ku lalui dengan rasa ini, dan ternyata dua tahun merupakan waktu yang belum cukup dan mungkin tidak akan pernah cukup untuk menyimpan rapat dan menyembunyikan rasa ini.
Aku sadar bahwa tiap detik yang telah kulalui semakin mematangkan rasa ini, menggrogoti hatiku seperti sel kanker yang tumbuh dengan cepat mempengaruhi hidupku namun aku sangat piawai dalam menyembunyikan rasa ini sehingga mungkin kau tidak pernah menyadari dan mungkin tidak akan pernah menyadarinya, tapi tahukah kau bahwa ini semakin menyiksaku. Kucoba mengungkapkan rasa ini lewat pandangan mataku tapi apa daya, sorot matamu begitu tajam dan akupun tak memiliki keberanian untuk beradu dengannya. Seperti sekarang ini, yang mungkin akan jadi hari terakhir kita bersama di tempat yang sederhana ini aku belum juga mampu untuk jujur setidaknya pada diriku sendiri.
Kusadari ada rasa sedih yang teramat dalam menjalari tubuhku yang membuatku tetap duduk ditempat sederhana ini tak bergeser, tetap memperhatikan sosokmu meski lewat celah orang lain, mendengarkan dengan cermat saat kau berbicara meski yang kuperhatikan hanyalah suaramu, gayamu dalam berbicara yang mungkin akan sangat aku rindukan ketika engkau pergi sebentar lagi.
Aku tak dapat melawan waktu, yang bisa kulakukan hanyalah patuh pada putaran detiknya, dan waktunya pun tiba untukmu pergi meninggalkan ku dengan rasa yang telah mengendap jauh didasar hati ini. Ingin rasanya aku membunuh waktu hingga hari ini tak kan pernah ada dan tak kan pernah ada waktu untukmu pergi meninggalkanku, tapi aku hanya bisa menyimpan sebaris senyummu dalam memoriku.
Kini, aku hanya mampu memandangi punggungmu dan tanpa sadar menghitung tiap langkah yang semakin lama semakin jauh meninggalkan sekeping hati yang meradang. Ingin rasanya aku berteriak memanggil namamu sebelum sosokmu menghilang di tikungan jalan, dan mencegatmu agar kau tidak pergi tapi sepatah kata perpisahanpun tak mampu ku ucapkan saat kau memberikanku senyuman terakhirmu karena lidah ini selalu saja keluh tiap menatap sosokmu dan akhirnya sosokmu pun hilang seiring rinai hujan pertama yang jatuh pada tanah kering bercelah. Hujan.  
oooOooo
Sebelas bulan sudah sejak hujan pertama turun. Kini, seperti biasa aku masih setia menyimpan rasa ini seperti dendam yang semakin lama semakin bergejolak dan mendesak untuk keluar. Hari ini, masih seperti biasanya aku berjalan di bawah gagahnya matahari menuju tempat sederhana dimana rasa ini mulai tumbuh. Siang yang terik ini membuat tanah bercelah dan dedaunan pohon mengering, udarapun disesaki bau aspal dan knalpot yang menyengat. Hanya angin yang sesekali bertiup yang mampu memberikanku kesejukan. Dengan nafas berat, kulanjutkan langkah ku yang mulai lemah, dalam hati aku berbisik, “Hujan, betapa aku merindukanmu”.

oooOooo

Tak terasa, setahun telah ku lalui sejak kepergianmu. Hariku masih seperti biasanya. Tak ada yang menyadari bahwa hati ini semakin lama semakin sakit dan meradang, sama sepertiku yang tak menyadari bahwa aku bisa melalui hariku seakan tak terjadi sesuatu.
Telingaku spontan fokus dan mataku jeli menyisir tiap orang yang lalu lalang didekatku dan aku hampir saja tak mempercayai pandanganku sendiri. Di ujung jalan ini, tempat dimana sosokmu menghilang bersama tetesan hujan, aku tidak lagi melihat punggungmu tapi aku melihat dadamu yang lapang! Tanpa sadar aku berdiri mematung hingga sosokmu berada tepat di depanku dengan senyuman yang lebih indah dari pada saat terakhir aku melihatnya.
Cukup sudah! Aku tak bisa lagi memaksa hatiku untuk berbohong dan menyembunyikan rasa ini, karena aku memang menyukaimu. Seiring rinai hujan yang jatuh membasahi kulitku, kuluapkan semua rasa yang tak dapat lagi aku pendam. Rasa yang selama ini membuat ekor mataku jeli mengenali sosokmu, membuat telingaku peka akan suaramu dan bibirku yang tak henti mengukir senyum saat kau ada didekatku. “aku menyayangimu”. Titik.






Nurhikmah tenri pada. 04.30 rabu, 15 February 2012.

still


Terpaan angin memainkan kerudungku, sesekali menghalangi pandanganku. Di puncak tertinggi ini, ku pijakkan kaki dengan kokoh walau nafas memburu dan dada ku naik turun. Ku rentangkan tanganku lebar-lebar berusaha menyatu dengan atmosfer. Lihatlah, awanpun bagai dapat ku raih! Langit yang begitu biru, matahari yang cerah dan lembah di bawah kaki ku. Lihatlah, aku berdiri kokoh di sini. Semua letih terbayar sudah, setiap tetes peluh telah kering oleh angin.
Tegak. Tangguh, and I’m still a dreamer. Ini masilah sebuah mimpi….

Jumat, 28 September 2012

samar.

dalam ruang hampa rutinitas tak berujung.
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!

Kamis, 20 September 2012

understand me!!

kau bercerita tentang betapa tingginya gunung yang kau daki.
tentang betapa luas dan dalamnya samudra yang kau selami.
tentang harapmu, bahwa berani adalah benih yang kau tanam dalam dadaku.
tentang keindahan, dan kehebatan Sang Pencipta.

lalu aku bertanya tentang kebebasan,
tentang batas-batas yang kau rentangkan,
tentang resiko yang kau paparkan,
tentang kerangkeng yang kau buat!

sadarailah!
aku sepertimu.
tapi kau bahkan tak mengenal dan mengerti dirimu.

Miss u "doggy"

Apa kabarmu disana?
Masihkah gelasmu sesak dengan asap kopi yang mengepul?
Apakah koran masih setia dalam genggamanmu?
Berita apakah yang kau cari?
Adakah bahan untuk perdebatan baru kita?

Kau, masihkah tak berubah?
dengan beribu teori untuk mendebat tiap kataku?
dengan cara bicaramu yang sok kebapakan?
masihkah aku yang menjadi rival debatmu?

Bodoh, aku merindukanmu!
dalam rentang jarak yang tak terlalu jauh,
namun ego ini terlalu besar walau hanya untuk sekedar menyapamu kembali.

tahukah kau,
bahwa pertengkaran dan perdebatan kita
yang membuatku merindukan sosokmu?
walau tak jarang aku berkata bosan dihadapanmu,
namun ketahuilah, hati ini berdoa agar kita dapat dipertemukan kembali.

adakah rasa ini juga hadir dalam harimu?
entahlah.

Selasa, 04 September 2012

ku lepas....

sudah ku ajarkan pada hati untuk teguh.
tapi badai itu datang sebelum pondasinya kuat!
hingga hampir saja kerikil yang kususun satu-satu ini rubuh.
walaupun begitu, tetap saja anginnya menusuk hati,
hingga dingin menjalar dan melelehkan butir peluh.
sekuat tenaga kaki ini bertahan untuk tidak goyah
namun mata ini memelas menahan hujan,
walau mendung telah menghitam.

kepada sang penguasa hati,
kukeluhkan semua derita, perasaan yang telah mengendap
pernah  ku berikrar untuk menanti yang terindah
hingga ku lepas simpul ini, yang ikatannya telah membekas
kepada-Mu sang pemilik hati,
aku selalu percaya, jika baik itu sebaik rasanya
dan yang baik niscaya mendapatkan yang terbaik.