Kamis, 10 Januari 2013

The Sky.. ^_^




Lapangan Syekh yusuf skitar pukul enam pagi.


salah satu tempat penghilang penat, buat nyari ide juga boleh tapi paling pas kalau lg galau. jiaa..
^_^


Mentari pagi..


senja di balik jendela lantai dua. 





No one. it's happen (again)

sepertinya kata maaf itu lumrah.
atau mungkin sesuatu yang mudah saja dilontarkan.
toh, jika salah lagi kan mudah, tinggal bilang maaf lagi, lalu maaf lagi, lalu maaf lagi dan lagi.
kau terlalu banyak menghamburkan kata maaf.
hingga nanti maaf itu hanya sebatas kata. tak bermakna.

aku bukan sekedar apa yang kau lihat.
bukan sekedar apa yang kalian baca.
atau apa yang kalian dengar.
jangan pernah menyamakan aku dengan kalian.
aku berbeda dan tak akan pernah sama dengan kalian.

lalu kemudian kalian menertawaiku karena berbeda.
hal itu sama sekali tidak lucu.
aku hanya tak ingin menjadi biasa.
namun aku pun tak ingin diistimewakan.

tapi percuma.
seberapa seringpun aku jelaskan, kalian tak pernah mengerti
atau memang tak mau mengerti. 

sepertinya memang hanya diriku yang menjadi sahabatku.
aku dan diriku.

seorang pernah berkata,
"tak ada orang yang tak pernah menyukai orang lain kecuali ia terlalu mencintai dirinya sendiri"
 dan aku akan mencintai diriku sendiri sebelum aku menyukai seseorang.


Rabu, 09 Januari 2013

I'm sick of this.

aku lelah, kadang teramat lelah bahkan.
I just need to be survive with this laugh.
ajari aku memikirkan satu hal saja dalam satu waktu.

inikah yang kalian sebut mengeluh?
I don't care!
i just wanna share it, tapi bukan pada mereka yang mendengar dengan mulut.
bukan pula pada kalian yang menertawai mimpiku.
atau pada mereka yang seakan mengerti dan ber-oooo- ehmmm lalu menggangguk seperti boneka per. 
thanks for acting like you care.

what is actually friend means?!


Jumat, 28 Desember 2012

setapak jejak di kaki gunung

just wanna share..

rasa letih kadang mengusik kaki. sandar di pohon yang tidak sengaja ada simbol angka satu tepat di atas kepalaku sehari sebelum ikut lomba, dan alhamdulillah jadi juara pertama. entah ini kebetulan atau apa. ^_^

subuh menjelang pagi di desa lembanna, Malino.

istirahat sejenak di tengah hutan, gerimis tipis-sejuk.

lihatlah, rumpun pun indah! embunnya berkilau-segar.

that's why, I LOVE BLUE SO MUCH!

kabut yang jd backroundx, :)

tapi ini belum puncaknya. kelak kan kukisahkan megah dan luasnya langit juga dalamnya lembah di atas titik tertinggi bumi.

bukan ANEH!


Lagi, dengan senyum yang sama pun pernyataan yang sama.
Kan ku kisahkan padamu, tentang perbedaan yang kau tafsir,
Atau hal yang kau sebut “aneh”
Tentang ingin dan anganku.
Jika saja aku bisa memilih, jalan tanpa alas kaki di atas rumput yang berembun tak masalah menjadi kegiatan rutinku ketimbang jalan di atas lantai keramik licin dengan kaki indah yang ditopang high hills. Bayangkan sejuknya embun yang meresap kepori-pori telapak kakimu, dan empuknya rumput yang kau pijak. Tidakkah kau rasakan damainya?
Cantik. Akupun memiliki persepsi sendiri. Cantik bukanlah wajah yang di usap bedak, bibir yang di poles lipstick, pipi yang di taburi perona, atau bulu mata tambahan yang memberatkan kelopak mata. Cantik itu alami, ia indah. Tak butuh tambahan, karena ku yakin setiap ciptaanNya indah. Wajah segar yang di basuh air wudhu adalah wajah yang terindah menurutku, ia bercahaya. Cantik.
Alam dengan segala keteraturannya yang kompleks merupakan pemukiman megah dari yang terelit. Pepohonan dan semak yang menghutan sebagai sumber oksigen, bebas dari polusi kenalpot atau gas pengganggu lainnya. Tanah subur jadi pasar harian tempat memanen sayuran segar bebas bahan pengawet, sungai dengan riak air jernih yang menenangkan lebih dari sekedar musik relaksasi, kabut dan hujan yang berpadu bahkan lebih romantis dari kafe remang hingga gelap. Dapatkah kau hayati kuasa sang Pencipta dalam lembut semilir angin di sela-sela dedaunan? Adakah kau sadari kehadiranNya dalam ritme denyut jantung dan setiap tarikan nafasmu? Dan kau akan sangat terpukau oleh CiptaanNya dengan berdiri tegak di puncak gunung, menyadari bahwa kau begitu kecil dan amat sangat kecil di bawah langit yang tak berbatas. Atau ketika kau salami dalamnya samudra, maka kau akan bergidik meresapi keajaiban kuasaNya.
Lalu kaupun meragukan keistimewaanku sebagai wanita, memangnya kenapa dengan statusku sebagai seorang wanita? Lihatlah bunda Nusaibah binti Ka’ab yang ketangguhannya sebanding dengan seribu laki-laki dan Khaulah binti Azwar yang dengan gagah perkasa turut mengayunkan pedang untuk berjihad. Tak ada larangan bagi wanita untuk menjadi tangguh bukan, namun tetap tak mengesampingkan keanggunannya sebagai seorang wanita.
Aku, punya landasan akan ingin dan anganku yang lebih dari sekedar khayal. Jadi sekali lagi kutegaskan, ini tidaklah ANEH. Inilah aku apa adanya diriku.


Senin, 24 Desember 2012

wanna dance in the rain


Lagi, kunikmati butir-butir kecil yang tumpah ruah

Jatuh dan mendarat di kulitku, tanganku, wajahku.

Sejuk.

Bisa saja aku menari dibawah derasnya hujan,

Berlari dan membiarkan angin menerpa wajahku,

Andai saja kemarin aku belumlah seorang gadis.

Hmm, pun aku masihlah kanak-kanak,

Tak pernah kurasakan derasnya hujan tumpah langsung di kepalaku.

Hanya rinai yang sempat menyapa jendela kaca ruang tamu,

Ataukah tetesan yang jatuh satu-satu dari atap yang bocor.

Jangan tanyakan betapa rasa cemburu ini begitu besar

Saat gelak tawa mereka yang berlari dibawa hujan terdengar mengejek

Ingin rasanya kaki ini menyelinap dan berlari lalu berbaur dengan mereka.

Namun tidak. Ada sesuatu yang lebih penting yang kata mereka harus kujaga. 

Selasa, 18 Desember 2012

half way..


Dingin. Namun peluh deras mengucur.
Nafas yang kuhirup satu-satu,
dan sejuk air yang menyelinap di sela-sela jariku.
Jalan setapak menanjak, bebatuan, licinnya tanah, dan lumpur coklat,
Menyimpan jejakku,
Jejak yang akan kutinggalkan lebih banyak dan lebih tinggi suatu saat nanti.
Semak, paku, lumut, pinus, eucalyptus,
Berpadu dalam hijau –kuning – coklat.
Aroma lantana camara memenuhi rongga dada.
Riak dan ritme air yang mengalir, menabrak bebatuan, menjadi music
yang semakin merdu dengan celoteh hewan-hewan kecil bersayap.
Kabut  tipis yang perlahan mengawan dan menebal,
Membawa hujan yang rinainya sejuk menjalar hingga ke sendi-sendi tulang
Rasa ngilu yang mengajarkan kaki untuk sabar dan teguh,
Hingga kelak kokoh menapak.
Puncak yang sesekali mengintip dari celah pohon,
Nampak awas pada kaki kecil yang meninggalkan bekas pijakan
Hati inipun berbisik pada si telapak,
“kita akan taklukkan gunung tinggi itu dan kau akan kokoh berpijak dipuncaknya, kelak”
Ketahuilah bahwa ini tekad, bukan nekad dan mereka amatlah berbeda.