"gini aja, aku mau kamu jadi guru privatku. Brapa?"
................
"okay, kamu hanrus mau, see you next meeting, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh?"
whaaaaaat!!!!!!
and I'm speechless, belum sempat ngomong atau protes segala macam dia udah tutup tlp, mana nelphon langsung ngancam lagi! aaaarrgghhhh......
begitulah, obrolan amat singkat dan padat bikin kaget ala teman baruku.
*man with glasses
Senin, 22 Oktober 2012
Selasa, 16 Oktober 2012
seperti biasa..
Hari ini seperti
biasanya, di tempat yang sama dimana kita sering bertemu dan berbincang
seadanya, dan seperti biasa rasa ini masih terpendam dan mungkin akan terus
terpendam dalam hati. Iseng, kucoba mengkalkulasi rentang waktu yang telah ku
lalui dengan rasa ini, dan ternyata dua tahun merupakan waktu yang belum cukup
dan mungkin tidak akan pernah cukup untuk menyimpan rapat dan menyembunyikan
rasa ini.
Aku sadar bahwa tiap
detik yang telah kulalui semakin mematangkan rasa ini, menggrogoti hatiku
seperti sel kanker yang tumbuh dengan cepat mempengaruhi hidupku namun aku
sangat piawai dalam menyembunyikan rasa ini sehingga mungkin kau tidak pernah
menyadari dan mungkin tidak akan pernah menyadarinya, tapi tahukah kau bahwa
ini semakin menyiksaku. Kucoba mengungkapkan rasa ini lewat pandangan mataku
tapi apa daya, sorot matamu begitu tajam dan akupun tak memiliki keberanian
untuk beradu dengannya. Seperti sekarang ini, yang mungkin akan jadi hari
terakhir kita bersama di tempat yang sederhana ini aku belum juga mampu untuk
jujur setidaknya pada diriku sendiri.
Kusadari ada rasa sedih
yang teramat dalam menjalari tubuhku yang membuatku tetap duduk ditempat
sederhana ini tak bergeser, tetap memperhatikan sosokmu meski lewat celah orang
lain, mendengarkan dengan cermat saat kau berbicara meski yang kuperhatikan
hanyalah suaramu, gayamu dalam berbicara yang mungkin akan sangat aku rindukan
ketika engkau pergi sebentar lagi.
Aku tak dapat melawan
waktu, yang bisa kulakukan hanyalah patuh pada putaran detiknya, dan waktunya
pun tiba untukmu pergi meninggalkan ku dengan rasa yang telah mengendap jauh
didasar hati ini. Ingin rasanya aku membunuh waktu hingga hari ini tak kan
pernah ada dan tak kan pernah ada waktu untukmu pergi meninggalkanku, tapi aku
hanya bisa menyimpan sebaris senyummu dalam memoriku.
Kini, aku hanya mampu
memandangi punggungmu dan tanpa sadar menghitung tiap langkah yang semakin lama
semakin jauh meninggalkan sekeping hati yang meradang. Ingin rasanya aku
berteriak memanggil namamu sebelum sosokmu menghilang di tikungan jalan, dan
mencegatmu agar kau tidak pergi tapi sepatah kata perpisahanpun tak mampu ku
ucapkan saat kau memberikanku senyuman terakhirmu karena lidah ini selalu saja
keluh tiap menatap sosokmu dan akhirnya sosokmu pun hilang seiring rinai hujan
pertama yang jatuh pada tanah kering bercelah. Hujan.
oooOooo
Sebelas bulan sudah
sejak hujan pertama turun. Kini, seperti biasa aku masih setia menyimpan rasa
ini seperti dendam yang semakin lama semakin bergejolak dan mendesak untuk keluar.
Hari ini, masih seperti biasanya aku berjalan di bawah gagahnya matahari menuju
tempat sederhana dimana rasa ini mulai tumbuh. Siang yang terik ini membuat
tanah bercelah dan dedaunan pohon mengering, udarapun disesaki bau aspal dan
knalpot yang menyengat. Hanya angin yang sesekali bertiup yang mampu
memberikanku kesejukan. Dengan nafas berat, kulanjutkan langkah ku yang mulai
lemah, dalam hati aku berbisik, “Hujan, betapa aku merindukanmu”.
oooOooo
Tak terasa, setahun
telah ku lalui sejak kepergianmu. Hariku masih seperti biasanya. Tak ada yang
menyadari bahwa hati ini semakin lama semakin sakit dan meradang, sama
sepertiku yang tak menyadari bahwa aku bisa melalui hariku seakan tak terjadi
sesuatu.
Telingaku spontan fokus
dan mataku jeli menyisir tiap orang yang lalu lalang didekatku dan aku hampir
saja tak mempercayai pandanganku sendiri. Di ujung jalan ini, tempat dimana
sosokmu menghilang bersama tetesan hujan, aku tidak lagi melihat punggungmu
tapi aku melihat dadamu yang lapang! Tanpa sadar aku berdiri mematung hingga
sosokmu berada tepat di depanku dengan senyuman yang lebih indah dari pada saat
terakhir aku melihatnya.
Cukup sudah! Aku tak
bisa lagi memaksa hatiku untuk berbohong dan menyembunyikan rasa ini, karena
aku memang menyukaimu. Seiring rinai hujan yang jatuh membasahi kulitku,
kuluapkan semua rasa yang tak dapat lagi aku pendam. Rasa yang selama ini
membuat ekor mataku jeli mengenali sosokmu, membuat telingaku peka akan suaramu
dan bibirku yang tak henti mengukir senyum saat kau ada didekatku. “aku
menyayangimu”. Titik.
Nurhikmah tenri pada. 04.30 rabu, 15
February 2012.
still
Terpaan angin memainkan
kerudungku, sesekali menghalangi pandanganku. Di puncak tertinggi ini, ku
pijakkan kaki dengan kokoh walau nafas memburu dan dada ku naik turun. Ku
rentangkan tanganku lebar-lebar berusaha menyatu dengan atmosfer. Lihatlah,
awanpun bagai dapat ku raih! Langit yang begitu biru, matahari yang cerah dan
lembah di bawah kaki ku. Lihatlah, aku berdiri kokoh di sini. Semua letih
terbayar sudah, setiap tetes peluh telah kering oleh angin.
Tegak. Tangguh, and I’m
still a dreamer. Ini masilah sebuah mimpi….
Jumat, 28 September 2012
samar.
dalam ruang hampa rutinitas tak berujung.
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!
tak ada hitam ataupun putih, semua abu-abu.
asli ataukah palsu, entahlah.
senyum palsu atau tuluskah, aku tak tahu, atu mungkin hanya tuntutan profesional.
pusaran kesibukan yang seakan tak pernah berhenti,
dan detik waktu yang berlari semakin cepat.
di titik ini aku berjuang agar tak terjebak!
Kamis, 20 September 2012
understand me!!
kau bercerita tentang betapa tingginya gunung yang kau daki.
tentang betapa luas dan dalamnya samudra yang kau selami.
tentang harapmu, bahwa berani adalah benih yang kau tanam dalam dadaku.
tentang keindahan, dan kehebatan Sang Pencipta.
lalu aku bertanya tentang kebebasan,
tentang batas-batas yang kau rentangkan,
tentang resiko yang kau paparkan,
tentang kerangkeng yang kau buat!
sadarailah!
aku sepertimu.
tapi kau bahkan tak mengenal dan mengerti dirimu.
tentang betapa luas dan dalamnya samudra yang kau selami.
tentang harapmu, bahwa berani adalah benih yang kau tanam dalam dadaku.
tentang keindahan, dan kehebatan Sang Pencipta.
lalu aku bertanya tentang kebebasan,
tentang batas-batas yang kau rentangkan,
tentang resiko yang kau paparkan,
tentang kerangkeng yang kau buat!
sadarailah!
aku sepertimu.
tapi kau bahkan tak mengenal dan mengerti dirimu.
Miss u "doggy"
Apa kabarmu disana?
Masihkah gelasmu sesak dengan asap kopi yang mengepul?
Apakah koran masih setia dalam genggamanmu?
Berita apakah yang kau cari?
Adakah bahan untuk perdebatan baru kita?
Kau, masihkah tak berubah?
dengan beribu teori untuk mendebat tiap kataku?
dengan cara bicaramu yang sok kebapakan?
masihkah aku yang menjadi rival debatmu?
Bodoh, aku merindukanmu!
dalam rentang jarak yang tak terlalu jauh,
namun ego ini terlalu besar walau hanya untuk sekedar menyapamu kembali.
tahukah kau,
bahwa pertengkaran dan perdebatan kita
yang membuatku merindukan sosokmu?
walau tak jarang aku berkata bosan dihadapanmu,
namun ketahuilah, hati ini berdoa agar kita dapat dipertemukan kembali.
adakah rasa ini juga hadir dalam harimu?
entahlah.
Masihkah gelasmu sesak dengan asap kopi yang mengepul?
Apakah koran masih setia dalam genggamanmu?
Berita apakah yang kau cari?
Adakah bahan untuk perdebatan baru kita?
Kau, masihkah tak berubah?
dengan beribu teori untuk mendebat tiap kataku?
dengan cara bicaramu yang sok kebapakan?
masihkah aku yang menjadi rival debatmu?
Bodoh, aku merindukanmu!
dalam rentang jarak yang tak terlalu jauh,
namun ego ini terlalu besar walau hanya untuk sekedar menyapamu kembali.
tahukah kau,
bahwa pertengkaran dan perdebatan kita
yang membuatku merindukan sosokmu?
walau tak jarang aku berkata bosan dihadapanmu,
namun ketahuilah, hati ini berdoa agar kita dapat dipertemukan kembali.
adakah rasa ini juga hadir dalam harimu?
entahlah.
Selasa, 04 September 2012
ku lepas....
sudah ku ajarkan pada hati untuk teguh.
tapi badai itu datang sebelum pondasinya kuat!
hingga hampir saja kerikil yang kususun satu-satu ini rubuh.
walaupun begitu, tetap saja anginnya menusuk hati,
hingga dingin menjalar dan melelehkan butir peluh.
sekuat tenaga kaki ini bertahan untuk tidak goyah
namun mata ini memelas menahan hujan,
walau mendung telah menghitam.
kepada sang penguasa hati,
kukeluhkan semua derita, perasaan yang telah mengendap
pernah ku berikrar untuk menanti yang terindah
hingga ku lepas simpul ini, yang ikatannya telah membekas
kepada-Mu sang pemilik hati,
aku selalu percaya, jika baik itu sebaik rasanya
dan yang baik niscaya mendapatkan yang terbaik.
tapi badai itu datang sebelum pondasinya kuat!
hingga hampir saja kerikil yang kususun satu-satu ini rubuh.
walaupun begitu, tetap saja anginnya menusuk hati,
hingga dingin menjalar dan melelehkan butir peluh.
sekuat tenaga kaki ini bertahan untuk tidak goyah
namun mata ini memelas menahan hujan,
walau mendung telah menghitam.
kepada sang penguasa hati,
kukeluhkan semua derita, perasaan yang telah mengendap
pernah ku berikrar untuk menanti yang terindah
hingga ku lepas simpul ini, yang ikatannya telah membekas
kepada-Mu sang pemilik hati,
aku selalu percaya, jika baik itu sebaik rasanya
dan yang baik niscaya mendapatkan yang terbaik.
Langganan:
Postingan (Atom)