Jika saja kejadiannya tidak pada perkebunan kopi
dalam hutan di atas bukit dengan tanah landai dan licin, ditambah perintah dari
dosen tercinta kami dan wanti-wanti dari warga pemilik kebun kopi, mungkin kami
sudah menganggapnya pecandu kopi yang teramat fanatic. Dengar saja kampanyenya
yang meneriakkan kalimat-kalimat
“Jangan
rusak kopinya!”
“Jangan
pegang kopinya!”
Sampai kalimat “Sayangi kopi!!!” berkali-kali
terdengar nyaring, atau mungkin tepatnya galak bersahut-sahutan dari moncong
megaphone yang bertengger di bahunya. Well, padahal hari itu kabanyakan dari
kami berkesimpulan kalau mungkin ia lebih peduli pada dahan-dahan kopi
ketimbang kami-kami yang nyaris kepeleset karena dengan lantang DILARANG keras
berpegangan pada dahan kopi yang sangat ia sayangi. :-p
Pagi berikutnya, saat matahari hangat menyapa,
telapak ini kembali menyusuri jalan-jalan lengang desa asri lanyying. Lalu
beberapa menit kemudian, bukan lagi jalan aspal yang kami tapaki, namun serasah
pinus pada jalan setapak mendaki. NEKAT. Niat menjejak kaki di puncak bukit
yang menantang untuk di daki, kami berempat dengan nafas yang tersengal
menguatkan pijakan pada jalan dengan kemiringan yang di buat dengan tidak
memperhatikan kenyamanan pejalan kaki. Beberapa menit berjalan, salah seorang
dari kami berhenti, istirahat katanya. It’s
okay, kami bertiga melanjutkan jalan, membujuk kaki untuk tetap menapak.
Beberapa meter kemudian, seorang lagi berhenti. “disinimeka menunggu” katanya.
Jadilah saya yang sudah teramat niat ingin
merasakan sensasi berdiri tegak di puncak gunung (tapi dalam hal ini masih
terhitung bukit) ngotot mendaki di temani dengan sang-penyayang-kopi. Hhehe.
Langkah demi langkah, jalanan nampaknya semakin
tak berperikemanusiaan. Kemiringannya makin landai, ukurannya makin sempit dan
menjurus kepinggir, salah langkah bisa terpleset dan meluncur bebas seperti di
perosotan, namun bedanya perosotan disini sama sekali tidak mulus. Walau nafas
semakin pendek, peluh deras mengucur, kaki gemetar menopang berat badan (meski
sebetulnya badan ku tidak berat-berat amat), karena sudah niat mau ke puncak
akhirnya kaki mau juga di bujuk untuk tetap berjalan. Tapi sayangnya beberapa
menit berjalan, jalanan betul-betul sudah tidak bisa di ajak berdamai. Tidak
ada ada lagi jalan setapak, dan jalananya juga sudah hampir lurus 90o.
Padahal kami sudah melewati kebun kopi, dan mungkin tinggal beberapa ratus
meter lagi sampai puncak. Tapi karena larangan dari sang-penyayag-kopi dan
masih teringat teriakannya kemarin di perkebunan kopi, untuk kali ini aku
menurut saja untuk tidak melanjutkan pendakian.
Kiri-kanan tempat kami berhenti, padat akan tanaman.
Layaknya pemandangan hutan biasanya, namun ketika berbalik dan memandang
kebawah, perkebunan nampak lebih indah dari sudut pandang kami ditempat itu.
Jauh di bawah tempat kami berpijak, perkebunan nampak elok, berlekuk-lekuk
mengikuti kelandaian tanahnya, tanamannya rapi, sejajar. Ditambah warna
keemasan sinar matahari berpendar, memantul dari pucuk-pucuk hijau. Hanya
senyum yang rekahannya tak mampu kutahan sebagai ungkapan akan semua keindahan
lanscpe yang kunikmati ini.
Ternyata, perjuangan menuruni bukit lebih berat
dari pada saat pendakian. Kami harus berjalan seperti kepiting dengan bertumpu
pada kaki kanan, dan sungguh, itu SUSAH. Berkali-kali kaki ku hampir terpelesat
dan
“Pegang
ini biar gampang turun” kata sang-penyayang-kopi sambil nunjuk batang kopi.
“Ajaib, mudah-mudahan tidak
salah dengar” gumamku. Sambil menahan tawa yang hampir meledak mengingat
kalimat-kalimat kampanye sayangi-kopi yang ia gembor-gemborkan kemarin.
Sebelum kembali kerumah warga tempat kami
menginap langkah kaki ku berbelok ke jalan yang belum pernah ku lalui, iseng
hanya ingin melihat tempat-tempat yang belum pernah ku kunjungi, dan juga untuk
sekedar memusakan mata menyimpan berbit-bit memori tentang landscape indah desa
ini, sebelum sebentar lagi kami kembali ke kepadatan kota yang menjemukan.
Sungguh, aku rela di marahi atau bahkan di katto
dari pada harus melewatkan view ini. Bukit-bukit perkebunan yang mirip
bukit-bukit teletubies, hamparan hijau dan biru langit yang seakan menyatu,
pagar-pagar kayu, latar bukit dengan lengkungan puncak yang seperti busur
mistar, embun yang menggelanyut di ujung-ujung daun. Tak ada lagi kata yang
mampu ku ungkapkan. Aku hanya ingin memandanginya lagi dan lagi, berusaha
mengingat tiap paduan warnanya dengan jelas, dan tidak dapat ku pungkiri, ada
haru yang menyentil sudut rasaku. ada protes yang bergejolak, ada berontak yang
tertahan, semuanya padu. Namun syukur adalah rasa yang menjalar di tiap cc
darahku. Sungguh, tak ada nikmat yang dapat kupungkiri.
Terima kasih.
Untuk jantung yang masih berdetak dan untuk
udara yang masih bisa kuhirup.
Nb: untuk sang-penyayang-kopi, terimah kasih
untuk keberatan hatinya menemani lebih dekat ke puncak, dan untuk ucapan “yaa”
di tiap pijakan kakiku. Maaf sudah merusak kopi. :-p
saya tidak ada hubungan spesial dengan kopi, kami hanya berteman biasa... heheh. :P
BalasHapus