Senin, 18 Maret 2013

being A**LT is really D*mn thing!


Meniti langkah dalam setapak.
Mencoba memantapkan tiap pijakan.
Karena salah langkah, hancur semua.
Gemelutuk geraham saling mengaduh,
Rahang mengeras, peluh membanjir.
Semakin jauh, rasanya semakin berat.
Dan takut semakin besar.
Takut.
Terlalu takut malah.
Masihkah harapan berlaku?
Bahkan berharap-pun takut.
Ciut, dimanakah ia berakar?
Ingin rasanya mencabutnya hingga tak berbekas.
Namun lagi, itu hanya ingin. Ingin yang menggantung.
Seperti gerhana disiang hari.
Terbenam sebelum waktunya.

Lost!


















Coba ku sibak kembali lembaran sejarah,
Menilik tiap rentetan kisahnya,
Sepertinya terselip dalam potongan kecil memori yang mengendap.
Aku hanya ingin mengingat rupanya, rasanya.
Sebelum semuanya menjadi lupa.
Namun tak kutemukan.
Sudah pula ku obrak-abrik hari ini.
Tapi tetap tak ada,
Tidak kutemukan, walau jejaknya.
Semuanya hilang.
Dimana! Payah!

Rabu, 13 Maret 2013

undefined

menusuk-nusuk.
sudah ku paksa kelopaknya untuk mengatup,
bahkan berkedip pun rasanya susah.
bunyi papan bahkan berdecit berkali-kali bersamaan dengan gelegar guntur,
hingga hujan usai, rasa ini bahkan belum beranjak.
tidak hanya satu, rasanya bercampur
tapi tak ku temukan satu kata untuk menyebutnya.
ingin rasanya kabur melewati tembok lalu lari bersama angin,
biar saja hujan turun, silahkan menderas.
guyur saja semuanya hingga kuyup,
hanyutkan semuanya,
rasanya berat, amat sangat.

#what is this!

Senin, 11 Maret 2013

Biarkan Tergerus Buih.


Untuk sejarah tentang sebuah kisah.
Enyahlah seperti jejak yang terhapus ombak.
Semuapun tahu kalau jejak akan terus dan terus terukir di pasir,
Tapi jejaknya tak akan pernah sama.
Akan ku ukir jejak setapak yang baru,
Walau sekarang mungkin hanya di atas pasir yang di kecup ombak.
Jika tak ada lagi jarak, suatu kisah kan abadi.
Kelak..


Jumat, 01 Maret 2013

it's *F!

Menikmati rasa.
Menikmati tiap denyut dalam sesak,
Meresapi butir peluh lembab membanjir.
Dingin membelai pundak.

Ada syukur dan lega yang menebal setelah semuanya lepas.
dan semakin besar saat rasa kembali menyapa.
dan berulang. Entah yang kesekian kali.

Senin, 25 Februari 2013

lebih dari sekedar khayal.


Kabarnya bulan indah malam ini. Sepertinya purnama, tapi hanya bisa ku tebak. Lagi, tembok ini mengekang pandanganku. Aku terjebak dalam ruang-ruang berbatas semen.
Teringat akan mimpi empat tahun lalu. Mimpi yang sempat kami luapkan dalam kata yang menggebu siang itu. Aku dan tiga karibku. Mencoba memprediksi karir dan mengukir mimpi yang masih diujung bibir. Aku yang selalu ingin belajar ilmu alam, dan mereka yang bercita jadi dokter, arsitek, dan ahli Badan Meteorologi dan Geofisika. Siang itu kami seakan berikrar pada diri masing-masing untuk mewujudkan gagasan yang lebih dari sekedar khayal.
“Kelak, aku ingin punya rumah yang temboknya tinggi dan atapnya bisa dibuka, biar nanti kalau malam bisa bebas liat langit luas, bintang yang kerlap-kerlip, dan bulan yang selalu indah. Terus aku juga mau kalau rumahnya punya banyak jendela biar bisa puas liat tetes hujan. Oia, lantai rumah rencananya mau dibikin seperti istana nabi Sulaiman yang dibawahnya ada kolam ikan tapi lantainya dari kaca biar kolamnya tembus pandang gimana ibu arsitek, bisakan?” tanyaku pada remaja yang duduk disebelahku dengan rambutnya yang tergerai sepunggung.Lalu iapun turut berakting dalam lakon yang berjudul mimpi ini.
“kalau itu-sih gampang, tinggal sediakan bahannya saja. Nanti aku yang desain modelnya”
Remaja berkerudung abu2 dengan pipi putih tembemnya juga ikut komentar.
“Bagus itu, nanti kalau kita mau buat rumah tinggal hubungi ibu arsitek saja!” sambil senyum-senyum menghadap rekanku yang waktu itu calon arsitek.
“Oia, nanti kalau ada gejala bakal terjadi gempa atau tsunami kamu harus ingatkan kami ya!” seru remaja lainnya tak kalah antusias.
“Iyalah ibu dokter. Tenang saja, nanti ta’ telepon deh!” celotehnya seakan semua urusan bisa beres.
            “Terus nanti tenri yang rawat tanaman sama hewan peliharaan dirumah. Iyakan ten?” kata kawanku yang duduk disebelahku sambil melirik usil kearahku.
“Hei, akukan bukan tukang kebun atau pengurus kebun binatang. Gini aja, nanti ku ajari cara merawat tanaman dan hewan, biar kalian juga tahu terus bisa rawat sendiri. adilkan?” kataku sambil sedikit terkekeh.
Kini, aku kembali mengenang mimpi siang itu sambil tersenyum. Kami akhirnya berpisah namun dalam koridor kami masing-masing. Aku yang sedang belajar dijurusan biologi, Sifra yang mulai berkutat dengan rancangan dan maket, bersiap menjadi arsitek, Vidhy yang mulai sibuk dengan rumus fisika, dan mungkin sedang mengamati rasi bintang malam ini, dan rahmi, yang meskipun belum sempat belajar di kedokteran tapi sibuk memecahkan soal matematika dan menguji rumus2 perhitungan, semoga kelak ia mampu menghitung dengan akurasi yang tepat kapan mimpi kami dapat terwujud.
Aku rindu rasa itu. Ketika kami bebas bermimpi setinggi langit, seluas ruang tak berbatas. Aku merindukan mereka. Merindukan mimpi-mimpi besar yang kami susun dan bagi bersama, merindukan aliran antusias dan mata yang berbinar akan khayal tentang mimpi yang akan terwujud. Aku rindu akan optimis. Dimanakah mereka malam ini? 


Senin, 25 februari 2013 (23.00)

Minggu, 24 Februari 2013

Sederhana-kan?


Ada berjuta Tanya yang mengendap dalam imaji terliarku.
Seiring menyempitnya alasan berilmu.
Dimanakah dapat kutemui guru?
Mengajariku bahasa alam,
Menemukan jalan dalam gugusan rasi bintang dan tiupan arah angin.
Membaca jejak dalam semak dan ranting,
Melihat rencana langit tentang badai dan cerah.
Bukankah ini naluriah?
Lalu mengapa masih saja mereka berkelit?
Sungguh, bahasa apalagi yang tidak mereka mengerti?
‘hanya sesederhana itu?’ begitulah anggapan kebanyakan dari mereka.
Ya, itu sederhana dalam satu keyakinan.
Satu.
Bahwa Tuhan itu satu, 
namun sudahkah mereka kuasa atas satu ilmu saja?