Kamis, 14 November 2013

serinai hujan

hujan,
lagi-lagi saat hujan.
ketika rintiknya jatuh dan dingin memeluk pundak, sebuah kisah kembali terukir.
di dalam sinipun hujan, deras tapi mampet.
kala nafas memburu, peluh bercampur air padu sudah,
jemari gemetar menggenggam payung hitam, mengikuti arah keranda.
ditengah kalut dan kelabu, kujumpai segenggam warna, secuil bahagia dan setumpuk rindu.
hanya sesaat,
meski sepintas, elusan tangannya di kepala ini sedikit melegakan.

sudah berbilang tahun kita tak berjumpa kak.
ternyata aku masih menikmati tiap peratian bahkan olokan kalian.
dia yang seenak jidatnya memangilku nenek lampir,
atau dia yang menesehatiku untuk menulis surat cinta dengan tinta biru,
atau dia yang selalu membantu mengerjakan tugas ku.
kalian kak.

elusan itu membuatku sadar,
tak akan ada lagi olokan dan teriakan saling mengejek,
tak akan ada lagi cubitan dan tarikan rambut.
hmm, kalian mungkin menganggapku telah tumbuh dewasa.
seperti kalian yang mulai menjalani hidup kalian masing-masing.
I do understand kak.
tapi tak dapat kupungkiri ketika kalian pergi, semuanya sepi.
dan sekarang? mungkin tak ada lagi alasan untuk kembali berkunjung.
diapun telah pergi kak.

aku merindukan kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar