blank! it just happen suddenly.
Kabut, puncak, hijau.
getarannya masih ada, walau hanya selembar foto.
dahulu, kemarin, hari ini, bahkan esok yang akan menjadi hari inipun adalah saksi.
ingin ini tak pernah padam, ingin ini mengalir di setiap cc darahku.
yah, darahku yang kau wariskan,
darah kita sama!
aku ingin melihat dunia!
aku tak ingin menjadi tua dan akhirnya renta
sebelum tangan ini keriput dan kaki ini tak mampu menopang tubuhku!
sebelum mata ini rabun!
sebelum semua ini hanya menjadi cerita..
aku ingin..
melihat dunia dari sudut yang berbeda
Selasa, 03 Juli 2012
Rabu, 13 Juni 2012
Selembar foto dan sepenggal tentang mu..
Sore ini, saat cahaya
menembus tirai kamarku, dengan sengaja ku buka lagi album foto berisi kenangan
yang tak hentinya membuat bibirku tersenyum. Kenangan masa-masa SMP, dipenuhi
wajah-wajah polos dan senyum yang masih malu-malu. Namun ada satu foto yang sengaja
ku pandangi lebih lama dari foto yang lain, potret diriku dan temanku, ya hanya
temanku, hmmm memang hanya temanku. Hhehehe..
:-P
Kalau aku mengingat
masa itu sekarang, terkadang aku heran, bagaimana bisa dari jarak yang wajah
seseorang sudah samar terlihat aku bahkan tetap bisa menganali kalau itu
dirinya! Postur tubuhnya, cara berjalannya, senyumnya, mimiknya, tas yang ia
kenakan, merek sepatunya sampai setiap detail di buku catatannya, aku tahu!
Sebegitu parahnya kah diriku dulu? (sambil geleng-geleng kepala). Tapi aku
tidak akan pernah menyangkal bahwa aku merindukan masa-masa itu. Aku rindu
ketika dengan sengaja datang lebih awal ke sekolah karena ingin cepat-cepat
melihat ia berjalan menuju bangkunya, meletakkan tasnya, berbalik padaku dan
bertanya “tenri, PR mu sudah selesai?”, atau ketika bel pulang bergema aku mengulur
waktu keluar dari kelas agar bisa berjalan di belakangnya dan memandangi
punggungnya, dan juga saat kami berdiri menunggu angkutan umum di bawah pohon caesalpinia pulcherrima. Sekonyol apapun
diriku waktu itu, setidaknya bisa membuat ku tersenyum saat mengingatnya. Sometimes, I do miss you..
Minggu, 10 Juni 2012
Mengapa ada kejahatan jika bumi bisa tentram dengan kebajikan?
Karena semuanya telah di ciptakan berpasangan.
Bumi akan gulita selamanya jika tak ada siang.
Mengapa harus ada pertemuan jika nanti semuanya akan berakhir? Karena begitu pula deretan huruf tak akan menjadi bermakna tanpa adanya spasi.
Maka ingatlah ketika pertama kali kita berjalan, tak akan kaki kita tegak menapak jika tak ada keberanian kita untuk melangkah, walau tak dapat dihitung berapa kali kita terjatuh.
Karena semuanya telah di ciptakan berpasangan.
Bumi akan gulita selamanya jika tak ada siang.
Mengapa harus ada pertemuan jika nanti semuanya akan berakhir? Karena begitu pula deretan huruf tak akan menjadi bermakna tanpa adanya spasi.
Maka ingatlah ketika pertama kali kita berjalan, tak akan kaki kita tegak menapak jika tak ada keberanian kita untuk melangkah, walau tak dapat dihitung berapa kali kita terjatuh.
Semesta punya aturanya sendiri
Hari ini, terik menyengat kulit bahkan tanah pun bercelah. Samar ku dengar bisikan angin yang merindukan hujan. Lalu akupun berujar pada angin kalau aku juga sangat merindukan hujan, aku merindukan hujanku. Hujan yang bangunkan dari lelapku saat pagi telah datang. Rinainya yang mampu sejukkan hariku, bahkan mampu redam galaknya api. Aku rindu saat-saat ku pandangi hujan yang rintiknya jatuh satu-satu, menembus tanah dan mengobati luka tanah bercelah. Ku katakan pada angin, kalau di musim ini aku merana. Aku ingin sekali merasakan sejuknya hujan tapi semesta punya aturannya sendiri.
Sekarang adalah kemarau, dan itu hal yang wajar. Seperti terangnya siang yang ditutupi gelapnya malam, begitu pula hujan. mungkin sekarang belum saatnya hujan turun, tapi aku yakin hujan akan turun pada waktunya karena hujan pun tahu kapan saat yang tepat. Kalaupun siklus hujan sekarang sudah tak menentu, setidaknya hujan akan tetap turun, jika tidak tatanan dunia ini pasti telah rusak. Mungkin ini akan menjadi penantian yang tak menentu tapi mungkin luka ini akan sembuh seiring waktu berlari.
Tak sadar sudah berkali-kali aku menghembuskan nafas berat berharap beban yang menghimpit dadaku ini keluar bersama nafas yang ku hembuskan. mungkin benar kalau aku masih takut, ya sekarang ini aku takut. Aku layaknya anak burung yang belum siap untuk terbang, karena mungkin belum saatnya. Mungkin aku butuh waktu untuk mempersiapkan sayapku agar dapat terentang lebar dan mengepak kuat saat aku terbang nanti. Aku hanya butuh sedikit bersabar untuk dapat taklukkan angin, butuh sedikit keberanian untuk terjun dari ketinggian agar dapat mengepakkan sayap, dan aku butuh keyakinan kalau aku bisa melewati hari-hari tanpa hujan.
Sekarang adalah kemarau, dan itu hal yang wajar. Seperti terangnya siang yang ditutupi gelapnya malam, begitu pula hujan. mungkin sekarang belum saatnya hujan turun, tapi aku yakin hujan akan turun pada waktunya karena hujan pun tahu kapan saat yang tepat. Kalaupun siklus hujan sekarang sudah tak menentu, setidaknya hujan akan tetap turun, jika tidak tatanan dunia ini pasti telah rusak. Mungkin ini akan menjadi penantian yang tak menentu tapi mungkin luka ini akan sembuh seiring waktu berlari.
Tak sadar sudah berkali-kali aku menghembuskan nafas berat berharap beban yang menghimpit dadaku ini keluar bersama nafas yang ku hembuskan. mungkin benar kalau aku masih takut, ya sekarang ini aku takut. Aku layaknya anak burung yang belum siap untuk terbang, karena mungkin belum saatnya. Mungkin aku butuh waktu untuk mempersiapkan sayapku agar dapat terentang lebar dan mengepak kuat saat aku terbang nanti. Aku hanya butuh sedikit bersabar untuk dapat taklukkan angin, butuh sedikit keberanian untuk terjun dari ketinggian agar dapat mengepakkan sayap, dan aku butuh keyakinan kalau aku bisa melewati hari-hari tanpa hujan.
Rabu, 06 Juni 2012
tentangku
Ini
tentangku, tentang aku menurut diriku. Aku yang sedang mencoba mengenali
diriku. Aku, jelas berbeda dengan kalian ataupun mereka, itu yang ku tahu,
namun terkadang aku ingin menjadi sama, atau ada waktu ketika aku tidak ingin
menjadi diriku. Aku ingin mengenal diriku lebih dari yang kalian kenal, namun
terkadang hal itu menjadi sulit saat diriku cemburu pada kalian karena aku
lebih banyak bersama kalian. Aku, raga yang didalamnya bersemayam roh, aku
memiliki emosi, ekspresi, namun begitu pula kalian. Aku menghirup udara sama
dengan yang kalian hirup, aku memiliki cerita begitu pula kalian, lalu siapa
aku?
Sungguh,
bahasa langit belum mampu ku terjemahkan..
hmmmm...
hujan, apakah dia jatuh bagai butiran ataukah seperti benang yang tak putus-putus, entahlah. apapun itu aku suka hujan. dinginnya, suasananya, terlebih jejaknya.
:)
:)
Langganan:
Postingan (Atom)