Hingga ku dapat bercerita lewat jutaan kata hari ini,
Tak satupun huruf yang ku dengar, bahkan desahanpun
tertahan.
Butir itu tak jatuh hanya satu,
Ia jatuh berderai menarik ribuan butir lain yang susul
menyusul hingga pipi itu banjir.
Sungguh, ingin ku sampaikan sesuatu walau hanya satu kata
untuk menahan derainya.
Tapi lihatlah, aku hanya berdiri mematung memandangi butir
itu yang semakin menderas.
Lidah ini keluh.
Maaf. Mungkinkah karenaku?
Isakannya mendobrak dadaku hingga bergemuruh.
Maaf. Bunda.
Hanya rangkulan ini, erat memeluk tubuhnya.
Rasanya tak ingin kulepas,
Anganku berimaji kembali dimasa ketika tangannya yang
mendekapku.
Bunda, sungguh belum ada yang dapat ku persembahkan untukmu,
Maaf. Hanya lewat rangkulan ini.
Aku mungkin masih begitu bodoh.
Maaf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar